BAB 34: KENAPA BUKU PILIH LUMI
Resep: Nama untuk Menjawab Panggilan
Hari ke-27 Lumi jaga gubuk.
Pagi. Tanah Fajar cerah. Tapi langitnya kosong. Nggak ada awan. Nggak ada angin. Cuma ada nama-nama melayang di udara, ditulis pakai cahaya Lumin. Nama Mira. Nama Dika. Nama Rani. Nama Lumi.
Kriiieekkk.
Pintu kebuka. Nggak ada siapa-siapa. Cuma ada buku yang menutup sendiri, lalu dibuka lagi di halaman 34.
Di tengah halaman itu tertulis satu kata besar: KENAPA?
Seraphina duduk. “Hari ini bukunya bertanya.”
Alistair mengelus sampulnya. “Buku mau Lumi yang jawab.”
Lumi gemetar. “Aku. Aku nggak tahu, kenapa aku.”
Tio menunjuk ke tanah. Dari 27 pohon yang ditanam, akarnya semua nyambung ke bawah gubuk. Berpendar.
Buku bergetar keras. Halaman 34 terbakar biru.
Tinta emas muncrat ke atas lalu jatuh, membentuk sebuah tulisan.
Resep 34: Nama untuk Menjawab Panggilan
Bahan: Nama untuk dipanggil, luka untuk diakui, keberanian untuk tinggal, cinta untuk menetap
Cara: Sebut namamu. Ucapkan Eligo te. Artinya Aku memilihmu. Buku nggak pilih orang kuat. Buku pilih orang yang mau patah, lalu mau dirakit lagi.
Catatan: Kamu dipilih bukan karena kamu sempurna. Kamu dipilih karena kamu nggak lari pas sakit.
Di bawahnya coretan:
Untuk Lumi. Nenek pilih kamu hari itu di pasar, pas kamu bagikan roti terakhir ke pengemis. Padahal kamu juga lapar.
– Nenek Ysra
Lumi menutup mata. “Eligo te,” bisiknya. “Aku memilihmu. Buku.”
Cahaya dari nama-nama di luar masuk semua ke dalam gubuk. Muterin Lumi. Berhenti di dadanya.
Tiba-tiba Lumi ingat. Tiga tahun lalu. Dia berusia 15 tahun.
Di pasar. Dia cuma punya dua roti. Datang nenek tua bungkuk meminta.
Lumi kasih satu. Nenek itu menangis.
“Kamu punya hati penjaga,” ucap Nenek itu.
Itu Nenek Ysra. Sedang menyamar.
Tanah bergetar. Veylara membuka akarnya ke atas. Dari akar itu keluar cahaya dan membentuk bayangan Nenek Ysra sebentar. Senyum. Lalu hilang.
“Buku pilih kamu,” kata Seraphina, “karena kamu sudah latihan jadi rumah. Sejak kecil.”
“Karena kamu nggak takut sama orang patah,” tambah Alistair. “Kamu mengerti.”
Lumi menangis lagi. “Jadi, aku bukan dipilih karena hebat.”
“Tidak,” kata Tio. “Kamu dipilih karena kamu manusia.”
Jam 7 pagi. Lumi menulis namanya sendiri di halaman kosong buku. Pakai tinta Lumin. Begitu ditulis, nama itu menyala, lalu meresap di atas kertas.
“Dari sekarang,” kata Lumi, “aku yang akan jaga.”
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Dipilih itu bukan hadiah. Dipilih itu tanggung jawab.
Dan, aku mau jawab.
Kriiieekkk.
Pintu berderit.
Angin membawa suara dan gubuk yang mulai memudar: “Permisi. Aku mau tahu sampai kapan aku di sini.”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 34 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.