BAB 36: RAMUAN UNTUK YANG BERTAHAN
Resep: Akar untuk Menjadi Rumah
Hari ke-29 Lumi jaga gubuk. Hari pertama sebagai Penjaga tetap.
Subuh. Tanah Fajar nggak berkabut lagi. Langitnya bening. Veylara di luar udah nggak rontok. Daunnya hijau semua. Akarnya menembus masuk ke dalam gubuk, mengelilingi kaki meja.
Kriiieekkk.
Pintu kebuka. Masuk anak kecil. Bawa luka di lutut. “Permisi. Aku mau belajar bertahan.”
Seraphina, Alistair, Tio udah pergi. Mereka cuma nitip 28 hari. Sekarang giliran Lumi.
Buku di meja terbuka di halaman 36. Kosong. Tapi kali ini tintanya nggak jatuh dari atas. Tinta muncul dari dalam buku, kayak napas.
Lumi duduk. Jubahnya sudah bukan jubah tamu. Jubahnya jubah Penjaga. Ada 29 sulaman Lumin di ujungnya. Satu untuk tiap hari.
“Nama kamu siapa?” tanya Lumi lembut.
“Ara,” jawab anak itu.
Lumi menuang teh. “Sini. Duduk.”
Buku bergetar pelan. Halaman 36 menyala hijau keemasan.
Resep 36: Akar untuk Menjadi Rumah
Bahan: Luka untuk diobati, cerita untuk didengar, waktu untuk menunggu, cinta untuk menetap
Cara: Tatap mata. Genggam tangan. Ucapkan Sano te. Artinya, Aku menyembuhkanmu. Kamu nggak harus sembuh hari ini. Kamu cuma harus tau, kamu nggak sendirian.
Catatan: Penjaga bukan yang paling kuat. Penjaga itu yang paling mau tinggal.
Di bawahnya coretan:
Untuk Lumi. Selamat. Kamu bukan lagi yang dijaga. Sekarang kamu yang menjaga.
– Nenek Ysra
Lumi menggenggam tangan Ara. “Sano te,” bisiknya. “Aku menyembuhkanmu.”
Luka di lutut Ara berpendar pelan lalu nutup. Dari luar, 29 pohon bergetar bersamaan. Jatuh 29 daun. Masuk lewat jendela. Mendarat di meja.
Veylara berbisik. Suaranya seperti Nenek. “Bagus, Sayang.”
Jam 8 malam. Lumi menutup buku. Di sampulnya sekarang ada nama baru di bawah nama Nenek Ysra.
Penjaga: Lumi
Lumi keluar. Menyentuh batang Veylara.
“Aku di sini,” katanya. “Selama ada yang butuh rumah.”
Langit Tanah Fajar jatuh hujan Lumin. Tapi kali ini hujannya tidak basah. Hujannya terasa hangat. Tiap tetesnya menjadi cahaya kecil yang masuk ke dalam tanah.
Malamnya Lumi menulis halaman terakhir:
Hari ini aku belajar. Bertahan itu bukan nggak sakit. Bertahan itu milih tinggal walau sakit.
Dan aku milih.
Kriiieekkk.
Pintu berderit.
Angin membawa suara: “Permisi. Aku baru datang.”
Lumi tersenyum. Menyalakan lampu minyak.
“Silakan masuk.”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 36 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.