BAB 32: RAMUAN UNTUK LUMI SENDIRI
Resep: Cermin Buku untuk Mengenal Diri
Hari ke-25 Lumi jaga gubuk.
Tengah malam. Tanah Fajar tidak gelap. Tanahnya berpendar putih, seperti bulan jatuh ke tanah. Veylara diam. Tak ada angin. Tak ada suara.
Kriiieekkk.
Pintu terbuka. Masuk cermin kecil Lumin. Melayang. Tak ada yang bawa.
Buku di meja terbuka di halaman 32. Kosong. Tapi di tengah halamannya ada bayangan Lumi. Bayangannya bergerak sendiri.
Seraphina, Alistair, Tio tidak ada di gubuk. Cuma Lumi.
“Bu?” panggil Lumi. Suaranya gema.
Nggak ada jawaban.
Cermin itu mendarat di meja. Permukaannya beriak kayak air. Dari dalam cermin muncul suara Nenek Ysra.
“Lumi.”
Lumi mundur. “Nenek.”
“Cermin ini bukan buat lihat wajah,” kata suara itu. “Ini buat lihat siapa kamu.”
Buku bergetar. Halaman 32 pecah jadi cahaya. Tinta emas membentuk tulisan, tapi hurufnya nanya balik.
Resep 32: Cermin Buku untuk Mengenal Diri
Bahan: Cermin untuk jujur, pertanyaan untuk melukai, keberanian untuk menjawab, waktu untuk menerima
Cara: Tatap cermin. Ucapkan Quis sum. Artinya, Siapa aku. Kamu bukan penjaga. Kamu bukan anak baik. Kamu bukan harapan orang. Kamu siapa kalau semua gelar itu dilepas.
Catatan: Paling sakit itu kenal diri sendiri. Karena di situ kamu nggak bisa bohong lagi.
Di bawahnya coretan:
Untuk Lumi. Kalau kamu tidak tahu siapa kamu, gimana kamu mau jaga orang lain.
– Nenek Ysra
Lumi menatap cermin. Di dalamnya bukan wajahnya. Ada Lumi kecil umur 8 tahun nangis. Ada Lumi umur 16 tahun marah. Ada Lumi sekarang, capek.
“Quis sum,” bisiknya. “Siapa aku.”
Cermin bergetar. Menjawab.
“Kamu bukan cuma penjaga gubuk.”
“Kamu bukan cuma anak yang nurut.”
“Kamu Lumi. Yang takut. Yang rindu. Yang mau lari. Yang mau tinggal. Kamu semua itu.”
Lumi nangis. “Aku nggak tau aku mau apa?”
“Ya udah nggak usah tahu sekarang,” kata suara Nenek. “Kenal dulu. Terima dulu.”
Tanah berpendar. Dari 25 pohon yang dia tanam, semuanya nyala bersamaan.
Cahayanya masuk lewat jendela, masuk ke cermin, masuk ke dada Lumi.
Cermin retak. Dari retakannya keluar kupu-kupu Lumin.
Terbang mengitari Lumi sebanyak tiga kali lalu hilang.
Jam 3 pagi. Seraphina balik. Lihat Lumi duduk di lantai, megang pecahan cermin.
“Gimana?” tanya Seraphina.
Lumi mengangkat kepala. Matanya sembab tapi tenang.
“Aku Lumi. Aku takut. Aku capek. Aku rindu. Tapi aku mau di sini. Bukan karena harus. Karena aku yang memilih.”
Seraphina memeluknya. “Itu jawaban.”
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Mengenal diri itu nggak enak. Tapi kalau nggak kenal, kita akan hidup jadi orang lain terus.
Kriiieekkk.
Pintu berderit.
Angin membawa suara dan surat tua: “Permisi. Aku bawa pesan terakhir.”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 32 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.