BAB 35: GUBUK MULAI MEMUDAR
Resep: Waktu untuk Memilih Tinggal atau Pergi
Hari ke-28 Lumi jaga gubuk.
Pagi. Tapi pagi ini beda. Cahaya matahari tembus tembok. Temboknya jadi transparan. Meja berpendar lalu menghilang 1 detik, muncul lagi. Veylara di luar daunnya rontok, tapi rontoknya pelan kayak bubuk Lumin.
Kriiieekkk.
Pintu masih ada. Tapi gagangnya memudar.
Seraphina megang rak. Tangannya tembus. “Waktunya hampir habis.”
Alistair menatap buku. Halaman 35 kosong, tapi pinggirnya terbakar perlahan.
“Gubuk ini cuma bisa bertahan 28 hari, kalau nggak ada yang memilih jadi penjaga tetap.”
Lumi diam. Di depannya ada dua benda.
Pertama, Kompas dari BAB 30. Arahnya menunjuk ke luar hutan. Ke rumah Lumi.
Kedua, Batu Lumin dari BAB 29. Arahnya menunjuk ke dalam. Ke tanah ini.
Tio duduk di lantai. “Jadi, Kamu mau pilih apa, Lumi?”
Lumi menggigit bibir. “Kalau aku pergi, gubuk ini gimana?”
“Hilang,” kata Seraphina jujur. “Bersama semua pohon. Bersama semua ramuan. Bersama…kami.”
“Kalau aku tinggal?”
“Kamu nggak bisa keluar lagi. 10 tahun. 20 tahun. Selamanya,” kata Alistair. “Jadi penjaga.”
Buku bergetar hebat. Halaman 35 terbakar putih. Tinta emas turun deras.
Resep 35: Waktu untuk Memilih Tinggal atau Pergi
Bahan: Pintu untuk dilewati, akar untuk ditanam, nama untuk diucapkan, hati untuk diputuskan
Cara: Pegang kompas. Pegang batu. Ucapkan Maneo hic. Artinya, Aku tinggal di sini. Atau ucapkan Vado domum, Aku pulang. Tidak ada jawaban benar. Yang ada hanya jawaban jujur.
Catatan: Gubuk tidak memaksa. Gubuk hanya bertanya.
Di bawahnya coretan:
Untuk Lumi. Nenek juga dulu memilih tinggal. Bukan karena tidak punya rumah. Karena Nenek menemukan rumah … di sini.
– Nenek Ysra
Tanah bergetar. 28 pohon yang dia tanam semuanya berpendar. Cahayanya naik ke langit membentuk pintu. Satu pintu ke hutan. Satu pintu ke dalam tanah.
Veylara menunduk. Daunnya menyentuh kepala Lumi.
Lumi menangis. “Aku takut salah memilih.”
“Kamu nggak akan salah,” kata Seraphina. “Selama kamu jujur.”
Jam 6 sore. Lumi berdiri. Jalan ke tengah. Dia nggak ambil kompas. Dia nggak ambil batu.
Dia pegang tanah.
“Maneo hic,” bisiknya. “Aku tinggal di sini.”
Begitu kata itu keluar, gubuk berhenti memudar. Tembok kembali kokoh. Meja kembali nyata. Veylara mekar semua.
Dari langit, pintu ke arah hutan tertutup. Pintu ke arah tanah terbuka lebar dan cahaya masuk ke gubuk.
Seraphina, Alistair, dan Tio memeluk Lumi erat.
“Selamat datang, Penjaga.”
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Rumah bukan tempat kita lahir. Rumah itu tempat kita pilih tinggal.
Kriiieekkk.
Pintu berderit.
Angin membawa suara dan akar baru: “Permisi. Aku mau belajar bertahan.”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 35 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.