EPILOG 1: RUMAH YANG NGGAK PERNAH TUTUP
Resep: Cinta untuk Terus Menjaga
Tahun kelima Lumi jaga gubuk.
Tanah Fajar sekarang berbeda. Di sekeliling gubuk ada 1827 pohon. Satu untuk tiap hari Lumi tinggal. Daunnya semua berpendar pelan tiap malam.
Veylara sudah sebesar tiga gubuk. Akarnya jadi bangku, jadi jembatan, jadi tempat orang duduk.
Gubuknya sudah tidak kecil lagi. Ada tiga kamar. Ada dapur. Ada rak buku yang isinya ratusan buku. Semua ditulis oleh tamu yang pernah singgah.
Kriiieekkk.
Pintu terbuka.
Masuk seorang ibu yang membawa anak.
Masuk kakek membawa tongkat.
Masuk remaja membawa surat.
“Permisi. Kami rindu rumah.”
“Permisi. Kami kehilangan arah.”
“Permisi. Kami mau belajar bertahan.”
Lumi sudah 20 tahun. Rambutnya panjang tergerai. Di jubahnya ada 1827 sulaman Lumin. Dia menuangkan teh sambil terenyum.
“Silakan masuk. Tehnya masih hangat.”
Di meja, Buku Sihir Nenek Ysra terbuka di halaman kosong. Tiap hari ada resep baru.
Tapi sekarang bukan Nenek yang menulis.
Melainkan Lumi. Dan, tamu-tamunya.
Resep 1828: Cara Menjadi Rumah
Bahan: Telinga untuk mendengar, tangan untuk menggenggam, waktu untuk menunggu, hati untuk tidak pergi.
Cara: Duduk. Tunggu. Jangan tanya kapan sembuh. Tanya dulu: mau cerita atau tidak.
Catatan: Dulu aku yang ditanya. Sekarang giliranku nanya.
Di bawahnya coretan:
Untuk semua yang pernah bingung. Kamu boleh tinggal selama kamu butuh.
– Lumi
Malamnya, setelah semua tidur, Lumi keluar. Ia duduk di bawah Veylara.
Dia pegang botol kecil. Isinya tinta dari surat Nenek lima tahun lalu.
Sudah hampir habis.
” Nek,” bisiknya. “Aku jaga baik-baik.”
Angin menjawab. Membawa kelopak Lumin. Bentuknya seperti sebuah pelukan.
Dari jauh, ada cahaya. Itu rumah Lumi di kampung. Masih ada.
Adiknya sudah besar. Ibunya masih masak tiap sore.
Lumi tidak pulang. Tapi rumahnya ikut dia. Di setiap orang yang dia sembuhkan.
Lumi menulis di jurnalnya:
Hari ini aku belajar. Rumah itu tidak harus kembali.
Kadang rumah itu kita yang jadi.
Kriiieekkk.
Pintu berderit.
Angin membawa suara terakhir: “Terima kasih, Penjaga.”
Lumi menutup jurnal. Mematikan lampu.
Gubuk tidak pernah gelap. Karena di dalamnya, selalu ada lampu untuk yang tersesat.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Epilog 1 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.