BAB 19: RAMUAN UNTUK YANG TAK TAHU SIAPA DIRINYA | Resep: Teh Campur untuk Jiwa yang Terpecah
Hari ke-12 Lumi jaga gubuk.
Pagi. Kabut Tanah Fajar tebal.
Kriiieekkk…
Yang masuk perempuan. 20 tahun. Jubah Akademi polos tanpa lencana. Rambutnya setengah dikuncir, setengah terurai.
“Duduk,” kata Lumi. “Mau ramuan apa?”
Perempuan itu duduk. Lama. “Aku… aku nggak tahu.”
Namanya Sela. Murid kelas tiga. Pindah-pindah jurusan. Alkimia, Mantra Tempur, Penyembuh. Semua dicoba. Semua ditinggal.
Buku di meja terbuka di halaman 19. Kosong.
Veylara di luar berembun. Daunnya bingung mau ke arah mana.
Alistair menuang air. “Kenapa bingung, Nak?”
Sela tertawa kecil. Pahit. “Karena aku bukan siapa-siapa, Bu. Temenku sudah jadi Penyembuh hebat. Temenku udah jadi Jendral Akademi. Aku? Aku masih nanya: aku sukanya apa sih? Aku jagonya di mana?”
Tio menatap lencananya yang kosong. “Kamu takut salah pilih?”
“Aku takut kalau aku memilih… ternyata itu bukan aku,” bisik Sela. “Jadi aku nggak pilih apa-apa. Dan sekarang, aku kosong.”
Seraphina membuka empat toples. Teh hitam. Teh bunga. Jahe. Madu.
“Kalau gitu kita campur saja,” kata Seraphina. “Ini teh campur. Buat jiwa yang merasa terpecah.”
Sela menatap. “Boleh dicampur? Bukannya harus pilih satu?”
Buku bergetar. Tinta emas muncul.
Resep 19: Teh Campur untuk Jiwa yang Terpecah
Bahan: Teh hitam untuk kuat, teh bunga untuk lembut, jahe untuk berani coba, madu untuk menerima manis pahitnya proses
Cara: Campur semua. Minum. Sambil ucapkan Invenio me, Aku menemukan diriku. Kamu tidak harus jadi satu hal. Kamu boleh jadi banyak hal sampai nemu rumahmu.
Catatan: Tersesat bukan gagal. Tersesat itu cara semesta nunjukin jalan lain.
Di bawahnya coretan:
Untuk Sela dan semua yang belum menemukan namanya.
– Nenek Ysra
Lumi menuang semua ke satu cangkir. Aromanya aneh. Hangat. Manis. Sepet.
“Cobalah,” kata Lumi.
Sela minum. Matanya terpejam.
“Invenio… me,” gumamnya. “Aku menemukan diriku.”
Dia buka mata. “Rasanya… aneh. Tapi enak.”
“Karena kamu aneh,” kata Tio sambil senyum. “Dan, itu nggak apa-apa.”
Sela menunduk. “Aku selalu kira harus langsung tahu. Harus langsung jago. Padahal… boleh ya kalau aku masih mencoba?”
“Boleh,” kata Alistair. “Pohon saja butuh ganti daun berkali-kali sebelum berbuah.”
Jam sebelas siang. Sela pamit. Dia tidak bawa lencana.
Tapi dia bawa buku kosong.
“Aku mau isi ini pelan-pelan, Bu. Satu halaman satu, coba-coba.”
Sebelum pergi dia memeluk Lumi. “Gratias. Sudah mengajari aku kalau nggak tahu siapa diri sendiri, bukan berarti nggak berharga.”
Setelah Sela pergi, Lumi menanam satu bibit.
“Ini Pohon Invenio,” kata Seraphina. “Pohon untuk semua yang masih mencari.”
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Kita nggak harus selesai jadi seseorang buat mulai dicintai.
Kriiieekkk…
Pintu berderit.
Angin membawa suara: “Permisi… aku takut dilupakan…”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 19 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.