Sore itu, langit Kota Bekasi menggantung kelabu. Angin kencang menerbangkan daun-daun kering di halaman RA Aisyah Afiqannisa, menciptakan suasana sunyi yang aneh setelah riuh tawa anak-anak mereda. Di dalam ruang guru yang mulai temaram, saya mendapati sahabat perjuangan saya—seorang perempuan tangguh yang biasanya selalu mengumbar senyum—sedang duduk termenung. Bahunya yang biasa tegak, sore ini tampak merosot layu.
Ia sedang melewati musim gugurnya sendiri. Jiwanya sebagai seorang guru tengah berada di titik paling rapuh.
Saya melangkah mendekat, lalu meletakkan secangkir teh hangat di mejanya. “Minum dulu, Sayang. Biar hatinya agak tenang,” ujar saya lembut.
Ia tersentak, mendongak menatap saya dengan mata yang sudah sembab dan berkaca-kaca. Air matanya runtuh seketika saat saya menyentuh pundaknya.
“Bunda Husna…” suaranya bergetar, terputus oleh isak tangis yang tertahan.
”Menangislah kalau itu bisa meringankan bebanmu,” kata saya seraya menarik kursi dan duduk tepat di hadapannya. “Ada apa? Cerita sama aku.”
Ia menyeka air matanya, namun tumpah lagi. “Aku merasa gagal, Bunda Husna. Aku ini guru… Setiap hari di madrasah ini, aku mengajarkan anak-anak orang lain tentang adab, tentang cinta, dan kesalehan. Mereka patuh, mereka jadi anak yang manis.” Ia menjeda kalimatnya, dadanya naik turun menahan sesak yang teramat sangat.
”Tapi di rumah… anak kandungku sendiri justru berulah. Kenakalannya hari ini benar-benar menguras habis dayaku. Tadi pihak sekolahnya menelepon lagi karena dia membuat masalah. Hatiku hancur, Bunda. Jiwaku rasanya rapuh sekali. Di mana letak salahku sebagai seorang ibu?”
Saya terdiam, ikut merasakan sayatan perih di hatinya. Menggenggam erat kedua tangannya yang terasa sedingin es, saya mencoba menyalurkan kehangatan.
”Aku harus tersenyum dan terlihat kuat di depan anak-anak RA serta para orang tua murid. Tapi di dalam sini, rasanya seperti daun-daun kering yang berguguran. Sepi, patah, dan malu pada diriku sendiri,” bisiknya dengan suara teramat lirih.
Saya menatap lekat matanya, menatap runtuhnya benteng pertahanan seorang perempuan pilihan. “Sahabatku, dengarkan aku,” ucap saya dengan nada paling meneduhkan. “Kenakalan anakmu hari ini bukan tanda bahwa kamu gagal menjadi seorang guru atau seorang ibu. Ingatlah, bahkan para nabi pun ada yang diuji lewat anak-anak mereka. Ujian ini datang bukan untuk merendahkan martabatmu, tapi untuk menguji tingkat keikhlasan dan luasnya samudra cintamu.”
Ia menatap saya, mencari kekuatan di dalam mata saya.
”Di madrasah, kamu mengajarkan Kurikulum Berbasis Cinta kepada anak didikmu. Dan sekarang, di rumah, Allah sedang memintamu mempraktikkan kurikulum yang sama dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi untuk anak kandungmu. Ia tidak butuh kemarahanmu, ia sedang menjerit meminta perhatian dan cinta ibunya dengan cara yang keliru. Pundakmu kuat, sahabatku. Allah tahu itu,” lanjut saya, tersenyum menguatkan.
Ia terdiam cukup lama, meresapi setiap kalimat. Perlahan, ia menghembuskan napas panjang, seolah melepaskan separuh beban berat yang menggelayuti pundaknya. Isak tangisnya mereda, menggantikan sebuah ketenangan baru di wajahnya. “Terima kasih, Bunda Husna… Terima kasih sudah memeluk jiwaku yang hampir patah ini.”
”Kita pejuang bersama, Sahabatku. Esok hari, kita hadapi lagi bersama-sama. Kita jemput ar-rahmah untuk madrasah ini, dan untuk anakmu di rumah,” jawab saya, merangkulnya dalam pelukan hangat yang menentramkan.
Perempuan adalah pilar kedamaian. Dan di atas pundak perempuan-perempuan tangguh inilah, yang meski jiwanya sempat rapuh namun memilih untuk kembali bangkit demi cinta, jejak madrasah ini akan tetap berdiri kokoh menantang badai.
Kreator : Husnawati, (Hawa81)
Comment Closed: Bab 2 : Musim Gugur di Pundak Perempuan
Sorry, comment are closed for this post.