Rumah Digantara tidak pernah benar-benar sepi, meskipun hanya dihuni oleh tiga orang.
Suara Ratri menata piring, suara Galang mengetik di depan komputer, dan suara Digantara membuka-tutup lemari sering memenuhi ruangan. Kadang terdengar suara televisi dari kamar, atau bunyi sepeda motor tetangga yang melewati jalan depan rumah.
Bagi orang lain, rumah itu mungkin terlihat biasa saja. Namun bagi Digantara, rumah tersebut menyimpan seluruh hidupnya.
Di dinding ruang tamu tergantung foto keluarga yang diambil delapan tahun lalu. Digantara masih tampak tegap dalam foto itu. Rambutnya belum banyak memutih. Di sampingnya, Ratri tersenyum dengan kebaya sederhana. Senja berdiri di sebelah Arga, sementara Galang berdiri sedikit menjauh dengan wajah kaku.
Bima belum lahir ketika foto itu diambil.
Digantara sering memandang foto tersebut ketika merasa lelah. Dalam foto itu, semua orang tampak bahagia. Tidak ada tagihan, tidak ada cicilan, tidak ada pertengkaran, tidak ada anak yang bingung menentukan masa depan.
Foto memang selalu pandai menyembunyikan masalah.
“Mas, nanti pulang jangan lupa beli obat,” kata Ratri dari dapur.
“Obat apa?”
“Obat lambungku. Tinggal dua.”
“Bukannya masih ada di lemari?”
“Yang itu obat lama.”
Digantara mengangguk.
Ia mengambil dompet dari atas meja. Isi dompetnya tidak banyak: beberapa lembar uang, kartu identitas, kartu ATM, dan foto kecil Bima yang terselip di bagian belakang.
Bima adalah cucu pertama mereka. Anak laki-laki itu berusia lima tahun dan sekarang bersekolah di TK. Setiap kali datang, Bima selalu berlari ke arah Digantara sambil membawa cerita baru.
Tentang teman sekelasnya.
Tentang gambar yang dibuatnya.
Tentang guru yang memberinya bintang.
Tentang cita-citanya yang berubah setiap minggu.
Kadang ia ingin menjadi polisi. Kadang dokter. Kadang pemadam kebakaran. Pernah juga ia mengatakan ingin menjadi seperti Kakek karena Kakek memiliki sepeda motor.
Bagi Bima, dunia masih sederhana. Ia belum tahu bahwa sepeda motor harus dibeli dengan uang, bahwa uang diperoleh dengan bekerja, dan bahwa bekerja sering kali membuat seseorang pulang dalam keadaan lelah.
Digantara ingin Bima mempertahankan kepolosan itu selama mungkin.
Tepat pukul tujuh pagi, Digantara bersiap berangkat ke kantor. Ia mengenakan seragam PNS yang telah disetrika Ratri sejak malam sebelumnya. Seragam itu sudah agak pudar, tetapi masih tampak rapi.
Digantara berdiri di depan cermin. Ia merapikan kerah, lalu mengambil minyak rambut.
“Mas,” kata Ratri.
“Apa?”
“Senja mungkin datang sore ini.”
“Dengan Bima?”
“Katanya begitu.”
“Arga ikut?”
“Mungkin pulang kerja langsung menyusul.”
Digantara mengangguk.
“Dia mau membicarakan sesuatu,” lanjut Ratri.
“Masalah?”
“Tidak tahu.”
Digantara melihat Ratri melalui pantulan cermin.
“Kalau ada masalah, biasanya Senja tidak langsung bilang.”
“Namanya juga anak. Dia mungkin tidak ingin membuat kita khawatir.”
Digantara terdiam. Senja memang seperti itu. Sejak kecil, anak perempuan itu selalu berusaha terlihat kuat. Ketika nilai sekolahnya turun, ia diam-diam belajar lebih lama. Ketika pernah sakit, ia tidak banyak mengeluh. Ketika mulai bekerja dan menikah, ia tetap datang membantu pekerjaan rumah tanpa diminta.
Senja tumbuh menjadi perempuan yang mandiri.
Namun Digantara tahu, di balik kemandirian itu, Senja tetaplah anaknya.
Anak yang dulu sering tertidur di pangkuannya. Anak yang pernah menangis karena kehilangan pita rambut. Anak yang memanggilnya saat takut petir.
Kadang Digantara ingin kembali ke masa itu. Masa ketika persoalan terbesar hanyalah membelikan sepatu sekolah atau memperbaiki mainan yang rusak.
Ia meraih tas kerja.
“Kalau Senja datang, jangan membicarakan uang dulu,” kata Ratri.
Digantara mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena kalau benar ada masalah, dia akan bicara sendiri.”
“Aku tidak akan membicarakan apa-apa.”
Ratri tersenyum samar.
“Wajahmu sudah membicarakan semuanya.”
Digantara hampir tertawa.
Ia mencium tangan Ratri sebelum berangkat. Kebiasaan itu telah mereka lakukan sejak awal pernikahan. Sederhana, tetapi selalu terasa penting.
Di depan rumah, Digantara menyalakan sepeda motornya. Sebelum berangkat, ia menoleh ke arah rumah. Ratri masih berdiri di dekat pintu.
“Hati-hati,” kata Ratri.
“Iya.”
“Jangan lupa sarapan di kantor.”
“Sudah sarapan.”
“Jangan terlalu banyak kopi.”
Digantara tersenyum.
“Iya.”
Ia melaju perlahan meninggalkan rumah.
Jalan menuju kantor tidak terlalu jauh. Hanya sekitar dua puluh menit dengan sepeda motor. Namun setiap perjalanan itu sering membuat Digantara berpikir tentang hidup.
Di sepanjang jalan, ia melihat orang-orang berangkat bekerja. Pedagang membuka warung. Anak-anak sekolah berjalan sambil membawa tas. Seorang ibu mengantar anaknya dengan sepeda motor. Semua orang tampak mengejar sesuatu.
Digantara juga begitu.
Hanya saja ia tidak lagi yakin apa yang sedang dikejarnya.
Dulu, ia mengejar rumah. Setelah rumah lunas, ia mengejar pendidikan anak. Setelah Senja bekerja dan Galang lulus sekolah, ia mengejar rasa aman. Ia ingin memastikan tidak ada anggota keluarganya yang jatuh terlalu jauh.
Namun semakin lama, ia merasa hidup seperti ember bocor. Setiap kali ia mengisi dengan penghasilan, selalu ada kebutuhan yang membuatnya kosong kembali.
Di kantor, Digantara disambut oleh Pak Seno, rekan kerjanya yang duduk di meja sebelah.
“Wajahmu seperti orang belum gajian,” kata Pak Seno.
“Justru baru gajian.”
“Lebih parah berarti.”
Digantara tertawa kecil.
Pak Seno membuka bekal nasi dari rumah. Lauknya tempe dan sambal.
“Makan,” katanya.
“Aku sudah sarapan.”
“Sarapan itu bukan hanya minum kopi.”
Digantara mengambil sepotong tempe.
Pak Seno memperhatikannya.
“Anakmu yang laki-laki masih di rumah?”
“Masih.”
“Belum kerja?”
“Belum.”
“Bukankah lulusan Multimedia?”
“Iya.”
“Bagus itu. Sekarang banyak pekerjaan dari komputer.”
“Kalau dia mau.”
Pak Seno mengunyah perlahan.
“Anak muda tidak selalu tidak mau. Kadang mereka hanya takut.”
Digantara tidak menjawab.
Kalimat itu menempel di pikirannya, meskipun ia belum benar-benar memahami maksudnya.
Takut.
Apakah Galang memang takut? Atau hanya malas? Atau keduanya?
Digantara membuka komputer kantor dan mulai bekerja. Namun sepanjang pagi, pikirannya terus kembali kepada anak laki-lakinya.
Ia teringat Galang saat masih kecil. Anak itu tidak banyak bicara, tetapi selalu suka menggambar. Ia pernah menggambar rumah mereka dengan halaman yang luas dan pohon besar di depan rumah.
“Ini rumah kita nanti,” kata Galang waktu itu.
“Rumah kita kan sudah ada.”
“Ini rumah yang lebih besar.”
“Untuk apa?”
“Supaya semua orang bisa tinggal bersama.”
Digantara tersenyum ketika mengingatnya. Galang dulu memiliki begitu banyak bayangan tentang masa depan. Namun pandemi datang dan mengubah banyak hal.
Sekarang, rumah besar yang pernah digambarnya mungkin terasa terlalu jauh.
Kreator : Sukirno (Kirno Nugraha)
Comment Closed: Bab 2 — Rumah yang Tidak Pernah Benar-Benar Sepi
Sorry, comment are closed for this post.