BAB 20: RAMUAN UNTUK YANG TAKUT DILUPAKAN | Resep: Tinta untuk Nama yang Ingin Diingat
Hari ke-13 Lumi jaga gubuk.
Malam. Tanah Fajar gelap tanpa bulan.
Kriiieekkk…
Yang masuk perempuan tua. 60 tahunan. Jubahnya lusuh. Di tangannya ada tumpukan surat yang diikat tali.
“Duduk, Bu,” kata Seraphina. “Mau ramuan apa?”
Perempuan itu duduk. Tangannya gemetar memegang surat.
“Aku… aku tukang pos pensiunan Akademi.”
Namanya Bu Mira. 40 tahun. Ia biasa mengantarkan surat ke seluruh Tanah Fajar.
Buku di meja terbuka di halaman 20. Kosong.
Veylara di luar diam. Seakan ikut menahan sedih.
Tio menuang teh. “Kenapa bawa surat-surat ini?”
Bu Mira mengelus tali pengikatnya.
“Karena nggak ada yang mengirim lagi. Murid-muridku dulu… sudah lulus. Sudah punya keluarga. Sudah lupa.”
Air matanya jatuh.
“Aku takut, Bu. Takut kalau aku mati, tidak ada yang ingat aku pernah ada. Aku cuma tukang pos.”
Lumi mengambil tinta emas. Kertas perkamen. Bulu burung Lumin. Dan air mata air Veylara.
“Ini bukan surat,” kata Lumi pelan. “Ini ramuan. Buat nama yang takut hilang.”
Bu Mira menatap bingung. “Tinta?”
Buku bergetar. Tinta emas muncul.
Resep 20: Tinta untuk Nama yang Ingin Diingat
Bahan: Tinta emas untuk nilai, kertas untuk ruang, bulu Lumin untuk ringan, air Veylara untuk mengalir
Cara: Tulis satu nama yang berjasa dalam hidupmu. Lalu kirim. Atau baca. Mengingat adalah cara agar tidak dilupakan.
Catatan: Orang tidak dilupakan karena hebat. Orang diingat karena pernah menyentuh.
Di bawahnya coretan:
Untuk Mira dan semua yang jasanya tak bersuara.
– Nenek Ysra
Seraphina mendorong kertas ke arah Bu Mira.
“Tulis, Bu.”
Bu Mira ragu. Lalu menulis dengan tangan gemetar:
Untuk Kael kelas 2. Terima kasih sudah selalu nitip permen buat aku tiap hujan.
Untuk Rian. Surat cinta yang kamu titip dulu, aku antar sampai.
Untuk Sela. Kamu pernah tanya jalan ke perpustakaan tujuh kali. Sampai aku hafal.
Dia menangis sambil menulis.
Alistair membaca pelan. “Lihat, Bu. Kamu ada di cerita mereka.”
Bu Mira menggeleng. “Tapi mereka nggak akan baca ini.”
“Tidak harus,” kata Lumi. “Kadang yang perlu ingat itu kita sendiri. Bahwa kita berarti.”
Jam sembilan malam Bu Mira pamit. Surat-surat lamanya dia tinggal di gubuk.
“Buat diarsipkan,” katanya. “Biar kalau ada yang tanya, siapa Mira, ada jawabannya.”
Sebelum pergi dia memeluk Lumi erat.
“Gratias, Nak. Hari ini aku nggak takut dilupakan.”
Setelah Bu Mira pergi, Lumi menanam satu bibit.
“Ini Pohon Memoria,” kata Seraphina. “Pohon untuk semua nama yang pernah berjasa.”
Tio menata surat-surat itu di rak. “Nanti kalau ada yang tanya, kita ceritakan.”
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Kita tidak harus terkenal untuk dikenang. Cukup pernah tulus.
Kriiieekkk…
Pintu berderit.
Angin membawa suara: “Permisi… aku marah sama diriku sendiri…”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 20 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.