BAB 21: RAMUAN UNTUK YANG MARAH SAMA DIRI SENDIRI | Resep: Air Dingin untuk Api di Dada
Hari ke-14 Lumi jaga gubuk.
Siang. Tanah Fajar panas. Anginnya berat.
Kriiieekkk…
Yang masuk laki-laki. 22 tahun. Jubah Akademi robek di lengan. Tangannya terluka. Dia memukul dinding saat masuk.
“Duduk,” kata Tio tegas tapi lembut. “Mau ramuan apa?”
Laki-laki itu duduk. Nafasnya kasar. “Aku nggak butuh ramuan. Aku butuh dipukul.”
Namanya Daren. Murid kelas lima. Juara duel dua tahun berturut-turut.
Buku di meja terbuka di halaman 21. Kosong.
Veylara di luar menggugurkan satu daun. Hampir seperti menahan marah juga.
Seraphina mendekat. “Kenapa melukai diri sendiri?”
Daren meninju meja. Cangkir bergetar.
“Karena aku gagal! Tadi ujian akhir. Aku salah mantra. Temenku kena. Dia dirawat! Semua gara-gara aku!”
Lumi tidak mundur. Dia ambil mangkuk tanah. Isi air dingin dari sumur Veylara. Tambahkan daun mint. Kulit jeruk. Dan setetes madu.
“Ini bukan buat luka luar,” kata Lumi. “Ini buat api di dada.”
Daren tertawa sinis. “Api? Aku benci diriku, Bu. Aku bodoh. Aku ceroboh. Aku nggak pantas jadi murid Akademi.”
Buku bergetar. Tinta emas muncul.
Resep 21: Air Dingin untuk Api di Dada
Bahan: Air dingin untuk menenangkan, daun mint untuk sadar, kulit jeruk untuk pahit yang diterima, madu untuk memaafkan
Cara: Basuh muka. Minum pelan. Ucapkan Ignosco mihi, Aku memaafkan diriku. Marah ke diri sendiri tidak memperbaiki kesalahan. Hanya menyakiti orang yang sama dua kali.
Catatan: Gagal bukan berarti jahat. Gagal berarti kamu masih belajar.
Di bawahnya coretan:
Untuk Daren dan semua yang menghukum dirinya sendiri.
– Nenek Ysra
Alistair mendorong mangkuk itu. “Basuh dulu.”
Daren ragu. Lalu mencipratkan air ke wajah. Dingin. Nafasnya pelan.
Lumi menyodorkan cangkir. “Minum.”
Daren minum. Pahit. Manis di akhir.
“Ignosco… mihi,” gumamnya. “Aku memaafkan diriku.”
Dia menunduk. Bahunya turun.
“Aku takut kalau aku memaafkan diriku … berarti aku menganggap kesalahan itu sepele.”
“Tidak,” kata Seraphina. “Memaafkan diri artinya kamu mau tanggung jawab. Bukan mau kabur.”
Daren mengepalkan tangan. Luka di tangannya berdarah lagi.
“Aku harus ke ruang perawatan. Minta maaf, lalu menemani dia.”
Tio mengangguk. “Itu. Itu bedanya marah dan tanggung jawab.”
Jam empat sore. Daren pamit. Dia tidak bawa apa-apa.
Tapi sebelum pergi dia membungkuk dalam.
“Gratias, Bu. Sudah mengajariku kalau marah ke diri sendiri cuma bikin dua orang sakit.”
Setelah Daren pergi, Lumi menanam satu bibit.
“Ini Pohon Ignosco,” kata Seraphina. “Pohon untuk semua yang belajar berdamai.”
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Menghukum diri tidak menghapus luka orang lain. Menyembuhkan diri, baru bisa menyembuhkan orang lain.
Kriiieekkk…
Pintu berderit.
Angin membawa suara: “Permisi… aku cemburu sama temenku sendiri…”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 21 dari novel rahasia buku sihir nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.