BAB 22: RAMUAN UNTUK YANG CEMBURU SAMA TEMEN SENDIRI | Resep: Garam untuk Luka yang Namanya Cemburu
Hari ke-15 Lumi jaga gubuk.
Pagi. Tanah Fajar cerah. Terlalu cerah.
Kriiieekkk…
Yang masuk perempuan. 19 tahun. Jubah Akademi rapi. Tapi matanya merah. Dia duduk di pojokan.
“Duduk sini,” kata Lumi lembut. “Mau ramuan apa?”
Perempuan itu geleng. “Aku nggak sakit, Bu.”
Namanya Naya. Murid kelas tiga. Sahabatnya baru saja dinobatkan sebagai Penyembuh Terbaik di Akademi.
Buku di meja terbuka di halaman 22. Kosong.
Veylara di luar daunnya saling bersentuhan. Kayak bisik-bisik.
Alistair menuang teh. “Kalau nggak sakit, lalu kenapa menangis?”
Naya menutup muka.
“Karena aku cemburu, Bu. Temanku… Livia. Dia dapat penghargaan. Disoraki semua orang. Dulu kita belajar bareng, tidur bareng. Aku yang mengajari dia ramuan dasar.”
Tio duduk di sampingnya. “Terus?”
“Aku seneng buat dia,” isak Naya. “Tapi di dalam hati, aku… sakit. Kenapa bukan aku? Apa aku kurang? Apa aku gagal?”
Seraphina membuka tiga toples. Garam laut. Air jeruk nipis. Madu pahit.
“Ini bukan teh manis,” kata Seraphina. “Ini ramuan pahit. Buat luka yang namanya cemburu.”
Naya menatap. “Cemburu itu jahat ya, Bu?”
Buku bergetar. Tinta emas muncul.
Resep 22: Garam untuk Luka yang Namanya Cemburu
Bahan: Garam laut untuk mengakui rasa, air jeruk untuk jujur, madu pahit untuk mengubah iri jadi belajar
Cara: Aduk. Rasakan perihnya. Lalu ucapkan Gratias pro te, Aku bersyukur untukmu. Cemburu tanda kamu juga ingin tumbuh. Jangan padamkan. Arahkan.
Catatan: Teman yang bersinar bukan mematikan cahayamu. Dia nunjukin kalau cahaya itu mungkin.
Di bawahnya coretan:
Untuk Naya dan semua yang malu karena iri.
– Nenek Ysra
Lumi menyodorkan cangkir kecil. “Minumlah.”
Naya minum. Mukanya mengkerut. Asin. Pahit. Kecut.
“Perih, Bu,” katanya.
“Iya,” kata Lumi. “Karena jujur itu perih. Tapi, habis ini lega.”
Naya menarik napas. “Gratias… pro te,” bisiknya. “Aku bersyukur untukmu, Liv.”
Air matanya jatuh. “Aku takut kalau aku ngaku cemburu, aku jadi temen yang buruk.”
“Tidak,” kata Alistair. “Teman buruk itu yang pura-pura senang. Kamu berani jujur. Itu hebat.”
Naya mengusap mata.
“Aku mau belajar lagi. Aku mau jadi Penyembuh juga. Bukan buat ngalahin dia. Tapi, buat versi aku.”
Tio tersenyum. “Nah. Itu. Cemburu berubah jadi bahan bakar.”
Jam 10 pagi. Naya pamit. Dia bawa sebotol kecil garam.
“Buat ngingetin kalau iri boleh ada,” katanya. “Asal aku olah jadi usaha.”
Sebelum pergi dia memeluk Seraphina.
“Gratias. Sudah mengajari aku kalau cemburu nggak bikin aku jahat. Yang bikin jahat itu kalau aku diam aja.”
Setelah Naya pergi, Lumi menanam satu bibit.
“Ini Pohon Gratias,” kata Seraphina. “Pohon untuk semua yang mengubah iri jadi syukur.”
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Cemburu bukan musuh. Dia cermin. Dia bertanya: kamu mau kemana selanjutnya?
Kriiieekkk…
Pintu berderit.
Angin membawa suara: “Permisi… aku merasa nggak cukup…”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 22 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.