BAB 23: RAMUAN UNTUK YANG NGERASA NGGAK CUKUP | Resep: Roti untuk Perut dan Hati yang Kosong
Hari ke-16 Lumi jaga gubuk.
Sore. Tanah Fajar mendung.
Kriiieekkk…
Yang masuk anak laki-laki. 16 tahun. Badannya kurus. Jubahnya kebesaran. Di tangannya ada nilai ujian: Semua C.
“Duduk,” kata Tio. “Mau ramuan apa?”
Anak itu duduk paling ujung. “Aku… nggak lapar, Pak.”
Namanya Bram. Murid kelas dua. Anak beasiswa.
Dari desa paling ujung Tanah Fajar.
Buku di meja terbuka di halaman 23. Kosong.
Veylara di luar daunnya merunduk. Kayak ikut menanggung.
Seraphina menghidangkan air. “Kenapa bawa nilai itu?”
Bram menaruh kertasnya di meja.
“Karena aku nggak cukup pintar, Bu. Nggak cukup kuat. Nggak cukup kaya. Temen-temenku pake jubah baru. Aku jahit sendiri. Mereka ikut tiga ekskul. Aku kerja sore.”
Lumi masuk dari dapur. Tangannya membawa nampan roti hangat.
“Ini bukan ramuan,” kata Lumi. “Ini roti. Buat perut. Dan, buat hati yang merasa kosong.”
Bram menunduk. “Buat apa, Bu? Aku udah usaha. Tapi hasilnya segitu-gitu aja.”
Buku bergetar. Tinta emas muncul.
Resep 23: Roti untuk Perut dan Hati yang Kosong
Bahan: Tepung untuk dasar, air untuk mengalir, ragi untuk bertumbuh pelan, garam untuk harga diri, madu untuk manis yang layak kamu terima.
Cara: Makan pelan. Sambil ucapkan Suffico, Aku cukup. Kamu tidak harus jadi paling. Cukup jadi dirimu hari ini. Itu sudah cukup.
Catatan: “Nggak cukup,” biasanya suara orang lain yang kamu telan.
Di bawahnya coretan:
Untuk Bram dan semua yang capek membandingkan.
– Nenek Ysra
Lumi memotong roti. Wanginya memenuhi gubuk.
“Makanlah,” kata Lumi.
Bram makan. Pelan. Matanya berkaca.
“Suffico,” gumamnya. “Aku… cukup?”
“Iya,” kata Alistair. “Kamu kerja. Kamu sekolah. Kamu masih mau kesini. Itu cukup.”
Bram menggeleng. “Tapi nilaiku jelek. Aku nggak berbakat.”
“Berbakat itu bukan satu-satunya cara,” kata Seraphina. “Kamu gigih. Itu langka. Pohon besar juga mulai dari biji kecil di tanah keras.”
Tio menunjuk nilai C itu.
“C itu bukan gagal. C itu: Coba lagi. C itu: Kamu masih di sini.”
Bram tertawa kecil. Pertama kalinya hari ini.
“Aku selalu kira kalau aku berhenti lari, aku ketinggalan.”
“Berhenti bukan kalah,” kata Lumi. “Berhenti itu buat napas.”
Jam enam sore. Bram pamit. Dia bawa sepotong roti lagi.
“Buat Ibu di rumah, Bu,” katanya. “Sambil bilang ke dia… Aku cukup.”
Sebelum pergi dia membungkuk.
“Gratias. Sudah mengajari aku kalau cukup itu bukan angka.”
Setelah Bram pergi, Lumi menanam satu bibit.
“Ini Pohon Suffico,” kata Seraphina. “Pohon untuk semua yang belajar menerima dirinya.”
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Kita tidak harus jadi paling hebat untuk layak dicintai. Cukup jadi manusia yang berusaha, itu sudah luar biasa.
Kriiieekkk…
Pintu berderit.
Angin membawa suara: “Permisi… aku takut mulai lagi dari awal…”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 23 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.