BAB 24: RAMUAN UNTUK YANG TAKUT MEMULAI LAGI DARI AWAL | Resep: Benih
untuk Tanah yang Pernah Gagal
Hari ke-17 Lumi jaga gubuk.
Pagi. Tanah Fajar basah habis hujan.
Kriiieekkk…
Yang masuk perempuan. 24 tahun. Jubah Akademinya kusut.
Di tangannya ada lencana yang patah.
“Duduk,” kata Seraphina. “Mau ramuan apa?”
Perempuan itu duduk. Lama banget.
“Aku… aku mau nyerah, Bu.”
Namanya Rani. Mantan murid terbaik Akademi 3 tahun lalu. Sekarang drop out.
Buku di meja terbuka di halaman 24. Kosong.
Veylara di luar meneteskan air. Kayak ikut sedih.
Alistair menuang teh hangat. “Kenapa mau nyerah?”
Rani tertawa getir.
“Karena aku udah pernah mulai. Udah pernah di atas. Terus jatuh. Sakit, Bu. Malu. Semua orang ngeliat aku gagal. Kalau mulai lagi… gimana kalau gagal lagi?”
Tio menunjuk lencananya yang patah. “Itu kenapa?”
“Ujian terakhir,” bisik Rani. “Aku salah. Satu kesalahan. Karirku hancur. Sekarang aku melamar kerja dimanapun selalu ditolak. Katanya, bekas gagal.”
Lumi mengambil pot tanah. Benih kecil. Air Veylara. Abu dari daun kering.
“Ini bukan ramuan minum,” kata Lumi. “Ini ramuan tanam.”
Rani menatap bingung. “Tanam?”
Buku bergetar. Tinta emas muncul.
Resep 24: Benih untuk Tanah yang Pernah Gagal
Bahan: Tanah untuk menerima, benih untuk harapan baru, air untuk menyiram luka, abu untuk pupuk dari yang terbakar
Cara: Tanam. Siram. Tunggu. Gagal kemarin jadi pupuk untuk tumbuh hari ini. Ucapkan Iterum, Aku mulai lagi.
Catatan: Mulai lagi bukan mengulang. Mulai lagi artinya kamu bawa semua pelajaran.
Di bawahnya coretan:
Untuk Rani dan semua yang takut membuka pintu yang sama dua kali.
– Nenek Ysra
Seraphina mendorong pot itu ke arah Rani. “Pegang.”
Rani memegang tanah. Dingin. “Aku takut, Bu. Kalau aku mulai lagi lalu jatuh?”
“Lalu bangun lagi,” kata Alistair. “Pohon juga patah cabangnya sebelum berbuah lebih banyak.”
Rani menggenggam benih. “Iterum,” gumamnya. “Aku mulai lagi.”
Air matanya jatuh ke tanah. “Aku bukan Rani yang dulu. Aku Rani yang udah pernah jatuh. Beda.”
Tio mengangguk.
“Nah. Itu. Gagal kemarin ngajarin kamu di mana lubangnya. Sekarang kamu tau.”
Jam 12 siang. Rani pamit. Dia bawa pot kecil itu.
“Buat aku taruh di kos, Bu,” katanya. “Biar tiap liat, aku ingat: tanah yang pernah gagal bisa menumbuhkan bunga.”
Sebelum pergi dia membungkuk.
“Gratias. Sudah mengajari aku kalau mulai lagi bukan aib. Itu keberanian.”
Setelah Rani pergi, Lumi menanam satu bibit di luar.
“Ini Pohon Iterum,” kata Seraphina. “Pohon untuk semua yang berani memulai lagi.”
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Jatuh bukan akhir. Akhir itu kalau kamu menolak untuk berdiri.
Kriiieekkk…
Pintu berderit.
Angin membawa suara: “Permisi… aku kesepian…”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 24 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.