BAB 25: RAMUAN UNTUK YANG KESEPIAN | Resep: Teh untuk Dua Cangkir, Meski Datang Sendiri
Hari ke-18 Lumi jaga gubuk.
Malam. Tanah Fajar sepi. Cuma suara jangkrik.
Kriiieekkk…
Yang masuk laki-laki tua. 70 tahunan. Jalan pakai tongkat ukiran bintang Lumin. Jubah pensiunan Akademinya masih rapi walau sudah pudar di ujungnya.
“Duduk, Kek,” kata Alistair. “Mau ramuan apa?”
Laki-laki itu duduk. Lama. Tangannya gemetar di atas tongkat.
“Aku… tidak tahu. Aku hanya tidak ingin di menara.”
Namanya Gareth. Mantan Guru Mantra Cahaya Tingkat Tinggi Akademi. Sudah 30 tahun mengajar. Muridnya sekarang sudah jadi Penyihir Agung semua.
Buku di meja terbuka di halaman 25. Kosong.
Veylara di luar tidak bergerak. Seakan ikut menahan sunyi.
Seraphina menuang air. “Menara sepi ya, Kek?”
Gareth mengangguk pelan. “30 tahun mengajar, kelas penuh terus. Suara murid, tawa, kertas berisik. Sekarang… cuma aku, buku, dan kursi kosong. Aku seduh teh buat dua, minum sendiri.”
Tio duduk di sebelahnya. “Kesepian.”
“Murid-murid bilang aku bijaksana,” bisik Gareth.
“Tapi malam itu panjang, Nak. Terlalu panjang kalau dijalanin sendiri. Dulu ada istriku. Sekarang dia di Kota Bintang. Menunggu aku sembuh.”
Lumi masuk dari dapur. Bawa dua cangkir. Satu teh jahe. Satu lagi teh bunga Lumin.
“Ini bukan ramuan untuk satu orang,” kata Lumi. “Ini ramuan untuk dua. Meski yang datang cuma satu.”
Gareth menatap dua cangkir itu. Matanya berkaca. “Buat siapa satunya?”
Buku bergetar. Tinta emas muncul.
Resep 25: Teh untuk Dua Cangkir, Meski Datang Sendiri
Bahan: Teh jahe untuk hangat sendiri, teh bunga Lumin untuk mengingat yang pergi, gula untuk manis yang masih ada, waktu untuk duduk
Cara: Seduh dua. Minum satu. Satunya biarkan di meja. Ucapkan Sumus, Kita. Kesepian bukan karena tidak ada orang. Kesepian karena lupa kalau kamu masih punya kamu.
Catatan: Ditemani diri sendiri juga sebuah ditemani.
Di bawahnya coretan:
Untuk Gareth dan semua yang belajar duduk dengan sepinya.
– Nenek Ysra
Seraphina mendorong cangkir ke Gareth. “Minum, Kek.”
Gareth minum pelan. Hangatnya turun ke dada. Uapnya kena mata.
“Sumus,” gumamnya. “Kita.”
Dia menatap cangkir satunya.
“Dulu istriku suka teh bunga Lumin. Katanya bikin tenang. Sekarang aku minum jahe. Biar ingat: dia suka cahaya, aku suka hangat.”
Alistair tersenyum.
“Nah. Itu. Kakek tidak sendiri. Kakek ditemani murid-murid. Ditemani mantra-mantra yang Kakek ajarkan. Ditemani diri Kakek yang dulu.”
Gareth tertawa kecil. Suaranya serak.
“Aku kira kesepian itu kutukan yang harus diusir. Ternyata boleh diduduki, ya.”
“Boleh,” kata Lumi. “Diajak ngobrol. Dikasih teh. Ditemenin.”
Jam 8 malam. Gareth pamit. Tongkatnya berpendar pelan.
“Besok aku bikin dua cangkir lagi, Bu. Satu buat aku. Satu buat ‘kelasku’. Biar ramai.”
Sebelum pergi dia menepuk bahu Tio.
“Gratias. Sudah mengajari aku kalau sepi bukan berarti kosong.”
Setelah Gareth pergi, Lumi menanam satu bibit di luar.
“Ini Pohon Sumus,” kata Seraphina. “Pohon untuk semua yang belajar berteman dengan dirinya.”
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Kesepian tidak hilang saat ada orang. Kesepian hilang saat kamu tidak meninggalkan dirimu sendiri.
Kriiieekkk…
Pintu berderit.
Angin membawa suara: “Permisi… aku susah percaya sama orang.”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 25 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.