BAB 26: RAMUAN UNTUK YANG SUSAH PERCAYA SAMA ORANG
Resep: Kunci untuk Pintu yang Selalu Dikunci
Hari ke-19 Lumi jaga gubuk.
Siang. Tanah Fajar mendung tipis. Anginnya dingin.
Kriiieekkk…
Yang masuk perempuan. 21 tahun. Jubah Akademinya ditutup rapat sampai leher. Dia duduk paling jauh dari pintu, dekat jendela.
“Duduk,” kata Lumi pelan. “Mau ramuan apa?”
Perempuan itu tidak menjawab. Matanya awas ke semua orang di ruangan. Seakan menghitung siapa yang bisa dipercaya.
Namanya Elin. Murid kelas 4. Pintar. Nilai sempurna. Tapi tidak punya satu teman pun.
Buku di meja terbuka di halaman 26. Kosong.
Veylara di luar daunnya menutup. Kayak ikut waspada.
Tio menuang air. “Kamu takut ya?”
Elin mengangguk kecil. Suaranya pelan.
“Aku pernah percaya, Pak. Sama sahabatku. Terus dia menyebar rahasiaku ke seluruh Akademi. Sekarang aku nggak percaya siapa-siapa. Lebih aman sendiri.”
Seraphina meletakkan kotak kayu kecil di meja. Di dalamnya ada kunci tua berkarat, tapi gagangnya masih mengkilap.
“Ini bukan ramuan minum,” kata Seraphina. “Ini ramuan buka.”
Elin menatap curiga. “Buka apa?”
Buku bergetar. Tinta emas muncul.
Resep 26: Kunci untuk Pintu yang Selalu Dikunci
Bahan: Besi untuk batas, kayu untuk pegangan, minyak Lumin untuk melumasi luka, waktu untuk berkarat dan dibuka lagi
Cara: Pegang kunci. Tidak harus langsung buka pintu. Ucapkan Confido gradatim, Aku percaya pelan-pelan. Kepercayaan bukan pintu yang dijebol. Dia pintu yang dibuka pelan, satu engsel sekali waktu.
Catatan: Tidak percaya karena pernah sakit itu wajar. Tidak pernah percaya lagi itu yang bikin sepi.
Di bawahnya coretan:
Untuk Elin dan semua yang hatinya digembok.
– Nenek Ysra
Lumi menyodorkan kuncinya. “Nggak harus dipakai sekarang. Simpan saja dulu. Buat pengingat.”
Elin menerima. Tangannya gemetar. “Kalau aku buka… terus disakiti lagi?”
“Terus kamu tutup lagi,” kata Alistair. “Tapi kamu udah tau rasanya dibuka. Dan itu berarti kamu masih bisa. Pintu itu milikmu.”
Elin menggenggam kunci erat. “Confido… gradatim,” bisiknya. “Aku percaya pelan-pelan.”
Dia menarik napas. Untuk pertama kalinya sejak masuk, bahunya agak turun.
Jam 3 sore. Elin pamit. Dia bawa kuncinya di saku.
“Buat aku taruh di meja, Bu,” katanya. “Biar aku ingat: aku boleh buka, kalau aku mau. Dan aku boleh tutup, kalau aku perlu.”
Sebelum pergi dia melirik Lumi. “Gratias. Udah nggak maksa aku cerita.”
Setelah Elin pergi, Lumi menanam satu bibit di dekat Veylara.
“Ini Pohon Confido,” kata Seraphina. “Pohon untuk semua yang belajar percaya lagi.”
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Luka bikin kita pasang pagar. Sembuh bikin kita pasang pintu. Bukan buat orang lain. Buat kita sendiri.
Kriiieekkk…
Pintu berderit.
Angin membawa suara: “Permisi… aku iri sama kebahagiaan orang…”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 26 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.