BAB 27: RAMUAN UNTUK YANG IRI SAMA KEBAHAGIAAN ORANG
Resep: Cermin untuk Melihat Luka Sendiri
Hari ke-20 Lumi jaga gubuk.
Sore. Tanah Fajar terang. Terlalu terang sampai nyakitin mata.
Kriiieekkk.
Yang masuk perempuan. 20 tahun. Jubah Akademinya mahal. Tapi mukanya masam. Dia melirik keluar terus ke arah pesta di kejauhan.
“Duduk,” kata Seraphina. “Mau ramuan apa?”
Perempuan itu duduk. “Aku nggak butuh apa-apa.”
Namanya Mira. Murid kelas 3. Jago mantra. Tapi tiap buka gulungan cahaya, isinya cuma pesta, wisuda, dan pacar teman-temannya.
Buku di meja terbuka di halaman 27. Kosong.
Veylara di luar daunnya mengkilap. Seperti menyindir.
Alistair menuang teh tawar. “Lagi kesal, ya?”
Mira mendengus. “Kesal lihat orang bahagia, Bu. Feed cahayaku isinya mereka tertawa. Jalan bareng. Lulus bareng. Aku? Di menara. Sendiri. Menghafal mantra.”
Tio duduk. “Jadi, kamu iri?”
“Aku benci diriku karena iri,” kata Mira. “Mereka nggak salah. Tapi, kenapa aku sakit lihatnya. Kenapa aku?”
Lumi masuk. Bawa cermin kecil. Permukaannya buram ketutup embun Lumin.
“Ini bukan ramuan minum,” kata Lumi. “Ini ramuan lihat.”
Mira menatap curiga. “Cermin.”
Buku bergetar. Tinta emas muncul.
Resep 27: Cermin untuk Melihat Luka Sendiri
Bahan: Kaca untuk jujur, air mata Veylara untuk membersihkan, debu Lumin untuk mengingatkan, waktu untuk menatap
Cara: Tatap cermin. Tanya: Aku iri karena apa. Ucapkan Video me. Artinya, Aku melihat diriku. Iri ke orang lain biasanya rindu ke diri sendiri yang belum diurus.
Catatan: Bahagia orang bukan bukti kamu gagal. Dia undangan buat nanya: aku mau bahagia model apa.
Di bawahnya coretan:
Untuk Mira dan semua yang lelah membandingkan.
– Nenek Ysra
Seraphina menyodorkan cermin. “Lihat.”
Mira melihat wajahnya sendiri. Capek. Lingkaran hitam.
“Aku iri. Karena aku juga pengen punya temen sebanyak itu. Pengen dirayain.”
“Nah,” kata Lumi. “Itu. Bukan benci mereka. Kamu kangen punya itu juga.”
Mira menggigit bibir. “Video me,” bisiknya. “Aku melihat diriku.”
Air matanya jatuh. “Aku selalu sibuk. Nggak pernah main. Pantas sepi.”
Alistair mengangguk. “Iri itu kompas. Dia nunjukin kamu mau kemana. Bukan buat nyalahin orang.”
Jam 5 sore. Mira pamit. Dia bawa cermin kecil itu.
“Buat aku taruh di meja, Bu,” katanya. “Biar tiap iri, aku tanya dulu: aku butuh apa.”
Sebelum pergi dia senyum tipis. “Gratias. Sudah mengajari aku kalau iri bukan dosa. Dia sinyal.”
Setelah Mira pergi, Lumi menanam satu bibit.
“Ini Pohon Video,” kata Seraphina. “Pohon untuk semua yang belajar melihat ke dalam.”
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Jangan menutup mata dari bahagia orang.
Buka mata kebahagian kamu sendiri.
Kriiieekkk.
Pintu berderit.
Angin membawa suara: “Permisi. Aku takut mengecewakan orang.”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 27 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.