BAB 28: RAMUAN UNTUK YANG TAKUT MENGECEWAKAN ORANG
Resep: Tali untuk Mengikat Janji ke Diri Sendiri
Hari ke-21 Lumi jaga gubuk.
Pagi. Tanah Fajar cerah tapi hawanya berat. Embun Lumin di daun Veylara jatuh satu per satu. Tiap jatuh, bunyinya hampir seperti lonceng kecil.
Akar Pohon Sumus di luar melingkar pelan, seakan ikut menahan napas.
Kriiieekkk.
Pintu gubuk berpendar keemasan saat dibuka.
Yang masuk laki-laki. 19 tahun. Jubahnya sangat rapi.
Tangannya gemetar memegang surat.
“Duduk,” kata Alistair. “Mau ramuan apa?”
Laki-laki itu duduk. “Aku. Aku takut, Bu.”
Namanya Dika. Anak emas keluarga. Pintar. Juara. Harapan.
Buku di meja terbuka di halaman 28. Kosong. Tinta di pinggirnya berkilau pelan.
Veylara di luar daunnya merunduk berat. Tanah di bawahnya retak halus, mengeluarkan uap hangat.
Seraphina menuang air. Uapnya membentuk spiral Lumin di atas cangkir.
“Takut apa?”
Dika menaruh surat di meja. Surat penerimaan Akademi Cabang. Di atas kertasnya ada stempel cahaya yang redup.
“Aku nggak mau kesini, Bu. Aku mau jadi Penyihir Pertempuran. Tapi Ayah mau aku jadi Penyihir Penyembuh. Katanya lebih aman. Kalau aku menolak, maka aku ngecewain dia.”
Tio menghela napas. “Berat ya jadi harapan orang.”
Lumi masuk dari dapur membawa gulungan tali Lumin tipis.
Talinya bersinar redup. Di dalamnya ada urat cahaya bergerak seperti nadi.
“Ini bukan ramuan minum,” kata Lumi. “Ini ramuan ikat.”
Dika bingung. “Ikat apa?”
Buku bergetar. Halaman 28 menyala. Tinta emas muncul dan mengambang sebentar di udara.
Resep 28: Tali untuk Mengikat Janji ke Diri Sendiri
Bahan: Tali Lumin untuk batas, simpul untuk keberanian, minyak Lumin untuk melunakkan, waktu untuk berani bilang
Cara: Ikat di pergelangan tangan. Tidak harus diputus hari ini. Ucapkan Eligo me. Artinya, Aku memilih diriku. Mengecewakan orang lain sakit. Mengecewakan diri sendiri lebih sakit.
Catatan: Kamu bukan alat untuk membahagiakan orang. Kamu manusia.
Di bawahnya coretan:
Untuk Dika dan semua yang hidup demi nilai orang lain.
– Nenek Ysra
Seraphina mengikatkan tali itu pelan di tangan Dika. Begitu menyentuh kulit, talinya menghangat dan mengeluarkan cahaya keemasan tipis.
“Nggak harus diputus hari ini,” kata Seraphina. “Tapi ingatlah, kamu selalu punya pilihan.”
Dika menatap talinya. Cahayanya berdenyut pelan mengikuti jantungnya.
“Eligo me,” bisiknya. “Aku memilih diriku.”
Matanya berkaca. “Kalau Ayah marah gimana?”
“Maka, jelaskan pelan-pelan. Orang yang sayang, lama-lama pasti mengerti,” kata Alistair.
“Lihat saja tanahnya.”
Tanah di luar berpendar pelan. Dari retakan tadi, tumbuh tunas kecil.
Jam 11 siang. Dika pamit. Talinya masih di tangan dan masih berpendar.
“Buat aku ingat, Bu,” katanya. “Kalau aku boleh memilih jalanku sendiri.”
Sebelum pergi dia membungkuk.
“Gratias. Sudah mengajari aku kalau mengecewakan bukan berarti jahat.”
Setelah Dika pergi, Lumi menanam satu bibit di samping tunas tadi.
Begitu bibit masuk ke dalam tanah, tanah langsung menyala keemasan lalu padam.
“Ini Pohon Eligo,” kata Seraphina. “Pohon untuk semua yang belajar memilih. Nanti kalau daunnya menyala, artinya dia sudah berani.”
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Menjadi anak baik bukan berarti harus mengorbankan diri terus. Tanah Fajar saja memberi ruang buat tumbuh, masa kita tidak.
Kriiieekkk.
Pintu berderit.
Angin membawa suara dan debu Lumin: “Permisi. Aku merasa bersalah terus.”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 28 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.