BAB 29: RAMUAN UNTUK YANG NGERASA BERSALAH TERUS
Resep: Batu untuk Meletakkan Beban
Hari ke-22 Lumi jaga gubuk.
Malam menjelang. Tanah Fajar gelap. Tapi tanahnya berpendar biru perlahan seperti kunang-kunang yang tidur di bawah rumput. Angin membawa suara bisikan mantra lama dari akar Veylara. Tiap hembusan, daunnya berpendar lalu padam lagi.
Kriiieekkk.
Pintu gubuk terbuka. Hawa dingin masuk bersama debu Lumin yang berkilau.
Yang masuk seorang perempuan. Berusia 24 tahun. Jubahnya kusut.
Di punggungnya dia menggendong sebuah karung. Berat.
Dari karung itu terdengar suara rantai kecil beradu.
“Duduk,” kata Lumi. “Mau ramuan apa?”
Perempuan itu duduk. Karungnya ditaruh. Bunyinya duk. Tanah langsung bergetar pelan.
“Aku capek, Bu.”
Namanya Rani. Mantan Penyihir Penyembuh. Dia keluar dari Akademi karena satu pasiennya mati di tangannya.
Buku di meja terbuka di halaman 29. Kosong. Pinggir halamannya meneteskan tinta hitam yang langsung menguap jadi asap tipis.
Veylara di luar batangnya bergetar. Daunnya meneteskan embun Lumin ke tanah. Tanah menyerap dan jadi lebih terang.
Tio menatap karungnya. “Itu isinya apa?”
“Ini,” bisik Rani. “Semua kesalahanku. Pasien yang tak tertolong. Mantra yang salah. Teman yang aku sakiti. Aku gendong terus tiga tahun.”
Seraphina meletakkan batu Lumin di meja. Batunya bening, di dalamnya ada cahaya bergerak-gerak seperti air. Begitu diletak, meja berpendar pelan.
“Ini bukan ramuan minum,” kata Seraphina. “Ini ramuan letak.”
Rani tertawa getir. “Mau diletakkan dimana? Salahku sebesar gunung.”
Buku bergetar. Halaman 29 terbakar cahaya keemasan. Tinta emas muncul dan jatuh ke meja, membentuk tulisan.
Resep 29: Batu untuk Meletakkan Beban
Bahan: Batu Lumin untuk menampung, tanah Tanah Fajar untuk menyerap, air mata untuk membasuh, waktu untuk memaafkan diri
Cara: Taruh beban di atas batu. Ucapkan Dimitto. Artinya, Aku melepaskan. Bersalah itu bukti kamu punya hati. Tapi hidup di dalamnya itu hukuman.
Catatan: Kamu tidak harus melupakan. Kamu hanya harus berhenti menghukum diri setiap hari.
Di bawahnya coretan:
Untuk Rani dan semua yang membawa kuburan di punggung.
– Nenek Ysra
Lumi menuntun tangan Rani. Meletakkan telapaknya di batu. Batu itu langsung hangat dan berdenyut. Cahaya di dalamnya berputar cepat lalu lambat.
Rani menangis. Air matanya jatuh ke batu dan diserap.
“Dimitto,” isaknya. “Aku melepaskan.”
Tanah di luar Veylara retak sedikit. Dari retakan itu keluar cahaya biru lalu tumbuh tunas kecil. Akar Veylara menjulur pelan dan menyentuh karung Rani, seakan ikut mengangkat.
Alistair duduk di sebelahnya.
“Batu ini nggak akan bikin kamu lupa. Tapi dia akan ngingetin. Kamu udah naruh di sini. Nggak usah digendong lagi.”
Jam sembilan malam. Rani pamit. Karungnya masih ada, tapi bahunya lebih ringan. Dari karungnya sekarang keluar cahaya tipis, bukan rantai lagi.
“Buat aku balik kalau berat lagi, Bu,” katanya. “Biar aku taruh lagi di sini.”
Sebelum pergi dia menyentuh batang Veylara. Daunnya mengelus tangannya dan meneteskan satu embun Lumin di keningnya.
“Gratias. Tanah ini mau menerima aku.”
Setelah Rani pergi, Lumi menanam satu bibit di tempat tunas tadi. Begitu ditanam, tanah berpendar melingkar lalu membentuk lingkaran Lumin.
“Ini Pohon Dimitto,” kata Seraphina. “Pohon untuk semua yang belajar meletakkan. Kalau malam dia akan menyala, agar yang tersesat tahu tempat menaruh beban.”
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Tanah Fajar nggak cuma menanam pohon. Dia juga menerima beban kita. Asal kita mau naruh. Dan Veylara selalu siap menampung air mata.
Kriiieekkk.
Pintu berderit.
Angin membawa suara dan kunang-kunang Lumin: “Permisi. Aku kehilangan arah.”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 29 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.