Angin malam di Dawnfell Academy terasa lebih dingin dari biasanya. Tiga hari sudah berlalu sejak Ujian Tim. Status siaga merah masih belum dicabut sepenuhnya. Guru-guru tetap berpatroli berkeliling setiap jam.
Namun di atas atap Asrama Barat, hanya ada tiga orang dan satu buku tua.
Buku bersampul kulit coklat itu diletakkan tepat di tengah-tengah mereka. Di bawah cahaya remang bulan, sampulnya seolah menyerap cahaya lalu memantulkannya kembali dalam kilau keemasan yang lembut. Terasa hangat. Seolah-olah benda itu masih bernyawa.
✨ Malam Pertama — Halaman 2: Benih Pelindung
Arayan membuka halaman itu dengan sangat hati-hati. Tinta emas di atas kertas tua itu tampak seakan bergerak pelan.
“Untuk menumbuhkan perisai hidup. Sangat cocok digunakan untuk melindungi satu orang. Kuncinya: niat di hatimu hanya untuk melindungi, bukan untuk menyerang.”
“Gimana caranya mulai?” tanya Rakan sambil mengunyah buah apel yang diam-diam ia ambil dari dapur tadi sore.
“Coba saja dulu,” jawab Serina tenang. Di hadapannya sudah terpasang baskom berisi tanah yang sudah disiapkan sejak siang.
Percobaan pertama gagal total. Arayan terlalu gugup. Yang tumbuh hanya dua helai rumput kering yang langsung layu seketika.
Percobaan kedua, ia teringat kembali ejekan tajam Darian di kelas tadi siang. Emosi meluap, akar-akar tumbuh liar tak terkendali hingga memukul dan memecahkan baskom tanah itu berkeping-keping.
Ia menarik napas panjang, lalu memejamkan mata rapat. Bayangan wajah ibunya muncul — terbaring lemah di atas dipan kayu di kampung halaman, batuk pelan di tengah malam yang dingin tanpa selimut yang cukup tebal.
“Tumbuhlah… lindungi,” bisiknya pelan dari dalam hati.
Tanah di dalam wadah itu bergetar halus. Dari tengahnya muncul batang muda yang kokoh, lalu mekar menjadi sehelai daun lebar berwarna hijau keemasan berkilau. Daun itu berputar cepat, lalu melengkung rapi membentuk kubah pelindung sempurna seukuran kepalan tangan.
Tanpa banyak bicara, Rakan langsung melempar batu sebesar kepalan tangan ke arah kubah itu. Dukk! Batu itu terpental jauh ke samping, sementara perisai daun itu tidak bergeser atau tergores sedikit pun.
“Wah luar biasa!” seru Rakan takjub. “Kalau dipasang di punggung teman, ini pasti bisa menahan serangan tajam sekalipun!”
Serina tersenyum tipis sambil mengamati bentuk kubah itu. “Bagus sekali. Besok kita latihan lagi — kali ini coba pasang pelindung pada sasaran yang bergerak.”
✨ Malam Kedua — Halaman 3: Ladang Cepat
Jam tepat pukul dua pagi. Kebun di belakang akademi sepi sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik dan desir angin lembut.
Serina mengangkat kedua tangannya perlahan. Dari langit yang jernih, butiran air halus turun satu per satu — bukan hujan biasa, melainkan air yang ia kendalikan sepenuhnya. Air itu menyebar merata dan melembabkan sepetak tanah selebar dua kali dua meter.
“Tanah sudah siap,” katanya singkat.
Arayan menanam lima butir benih gandum. Tangannya sedikit gemetar. Ini pertama kalinya ia mencoba mantra yang mempengaruhi lahan yang lebih luas.
“Earthdawn: Ladang Cepat.”
Tanah bergetar pelan. Retakan halus terbuka di permukaannya. Dari dalam tanah, tunas hijau muda menjulur naik dengan kecepatan luar biasa. Dalam lima detik sudah setinggi mata kaki. Sepuluh detik kemudian tumbuh setinggi lutut. Batangnya kokoh, daunnya lebar segar. Dan di puncaknya, bulir gandum perlahan mulai menguning dan matang sepenuhnya.
Aroma tanah basah dan dedaunan segar memenuhi udara di sekitar kebun itu.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat. Profesor Miralune berdiri di balik pagar kebun, jubahnya sedikit basah terkena embun malam.
Ia diam mematung selama sepuluh detik penuh, hanya menatap hamparan gandum itu. Lalu menghela nafas panjang.
“Itu adalah mantra tingkat Penjaga Fajar kelas tiga,” ucapnya pelan namun jelas. “Biasanya butuh waktu tiga bulan serta bantuan empat guru tingkat tinggi untuk melakukannya. Kau… kau melakukannya sendiri dalam waktu sepuluh detik saja.”
Matanya menatap tajam namun penuh makna ke arah Arayan.
“Jaga buku itu sebaik-baiknya. Dan ingat satu hal: jangan pernah sekalipun kau gunakan kekuatan ini karena keinginan serakah atau ambisi pribadi.”
✨ Malam Ketiga — Halaman 4: Jebakan Akar
Ini adalah bagian yang paling sulit dan membuat frustasi.
Mantra ini menuntut ketepatan penuh. Terlalu kuat sasaran akan hancur rusak. Terlalu lemah musuh akan lepas begitu saja.
Percobaan pertama: akar muncul terlambat dua detik. Sasaran boneka kayu sudah sempat menjauh.
Percobaan kedua: kekuatan terlalu besar. Boneka latihan itu terbelah menjadi tiga bagian.
“Tenang dulu,” kata Serina menenangkan. “Bayangkan saja… kau bukan sedang menangkap atau menahan. Kau sedang memeluk seseorang agar tidak jatuh terluka.”
Arayan memejamkan mata kembali. Kali ini ia membayangkan Rakan tergelincir jatuh dari tebing curam, dan ia harus menariknya naik perlahan-lahan tanpa menyakiti sama sekali.
“Earthdawn: Jebakan Akar.”
Tanah meledak pelan. Enam batang akar berwarna keemasan melesat keluar dengan cepat namun terukur. Dua akar melilit bagian kaki. Dua lagi menahan kedua lengan. Dua batang lainnya menyangga punggung agar tidak terjatuh kasar. Boneka kayu setinggi dua meter itu perlahan ditarik turun dan dibaringkan lembut di atas tanah. Tidak ada retakan, tidak ada kerusakan sedikit pun.
Rakan bersiul panjang takjub.
“Keren sekali! Kalau begini di medan perang, kita bisa menahan sepuluh musuh sekaligus tanpa harus membunuh satu pun.”
Arayan membuka mata. Telapak tangannya terasa perih karena terlalu erat menggenggam tongkat kayu peninggalan kakaknya. Tapi di wajahnya terlihat senyum bangga yang tulus.
✨ Malam Keempat — Halaman 5 yang Tergores
Malam ini terasa berbeda. Sejak tadi Arayan merasa buku itu terasa lebih berat di tangannya.
Ia membuka halaman kelima. Namun yang terlihat bukan tulisan rapi seperti halaman sebelumnya. Seluruh permukaan halaman penuh goresan tajam seolah dikikis dengan pisau. Di sudut kiri atas terlihat bercak berwarna coklat tua yang sudah mengering lama.
“Jangan buka halaman ini sebelum kau siap… untuk…”
Kalimat itu berhenti begitu saja di tengah jalan. Tidak ada kelanjutan.
Rakan langsung merebut buku itu dan menutupnya rapat dengan cepat. Suaranya berubah berat dan serak.
“Itu… itu noda darah. Darah kakakmu. Dia menulis halaman ini saat tubuhnya sudah terluka parah, mungkin saat nyawanya hampir habis.”
Serina menyentuh noda tua itu dengan ujung jari sangat hati-hati. Tangannya gemetar pelan.
“Kalungku terasa sangat panas sekarang,” bisiknya pelan. “Halaman ini disegel dengan darah. Artinya isinya pasti mantra yang sangat terlarang. Atau mungkin… petunjuk lengkap tentang Segel Padi Emas.”
Arayan menatap sampul buku itu lama sekali. Dadanya terasa sesak.
“Halaman selanjutnya pasti berisi cara memperkuat segel yang tersembunyi di bawah Menara Fajar. Kakakku menulis ini supaya aku yang menyelesaikannya.”
Mereka bertiga terdiam. Angin malam berhembus semakin kencang dan dingin.
Belum sempat ada yang berbicara lagi, suara itu memecah keheningan.
TONNNNG… TONNNNG…
Lonceng darurat berbunyi dua kali berturut-turut. Itu kode paling tinggi: serangan nyata datang.
“Semua murid dan guru segera berkumpul di Gerbang Barat! Ulangi! Serangan besar datang dari arah barat!”
Suara Archmage Adityvar menggema keras ke seluruh penjuru akademi lewat sihir pengeras suara.
Dari tempat tinggi di atap, mereka bisa melihatnya dengan jelas.
Langit di sebelah barat sudah tidak berwarna lagi. Seluruhnya tertutup kabut hitam pekat yang bergerak maju cepat persis seperti ombak raksasa yang menelan daratan. Di dalam kabut itu terlihat ratusan titik merah menyala — mata-mata makhluk bayangan.
Dan di barisan paling depan, berjalan satu sosok tinggi besar.
Tingginya hampir dua meter. Jubah hitam panjang menjuntai sampai menyapu tanah. Wajahnya tertutup topeng dari tulang putih dengan ukiran retakan melintang. Di tangannya memegang tongkat raksasa yang terbuat dari tulang dan besi tua berkarat.
Lord Veykar.
Suaranya tidak perlu dikeraskan, tapi sihir gelapnya membuat setiap kata terdengar jelas sampai ke sudut paling jauh.
“Pembawa Fajar… Arayan Sartoran.”
Ia berhenti tepat lima puluh meter di depan gerbang utama.
“Aku tidak butuh akademi ini. Aku tidak butuh murid-muridnya. Aku hanya butuh kau. Keluarlah sendiri. Atau aku akan masuk ke sana… dan mengambilmu dari tumpukan mayat teman-temanmu.”
Keheningan tegang menyelimuti tempat itu.
Lalu Rakan berdiri tegak. Api keemasan besar langsung menyala di kedua telapak tangannya, menerangi separuh atap tempat mereka berdiri.
“Bajingan,” ucapnya pelan namun penuh amarah. “Berani sekali kau mengancam orang-orang yang aku sayangi.”
Serina berdiri di sebelahnya. Kalung batu bulan di lehernya bersinar terang biru cemerlang. Air mulai berputar lembut mengelilingi kedua pergelangan tangannya.
“Kami adalah Tim Fajar,” ucapnya tenang namun tegas. “Dan kami tidak pernah meninggalkan satu sama lain.”
Giliran Arayan. Ia berdiri paling akhir. Buku tua itu diselipkan rapat di dalam jubah, tepat dekat jantungnya. Tongkat kayu peninggalan kakaknya digenggam erat di tangan kanan.
Ia teringat pesan kakaknya dalam mimpi: Earthdawn bukan sekadar tentang menumbuhkan kehidupan. Tapi tentang siap berkorban demi kehidupan itu.
Ia menatap lurus ke arah sosok tinggi besar di kejauhan. Suaranya tidak gemetar sama sekali.
“Kalau kau menginginkanku… datanglah. Tapi kau harus melangkah melewati kami dulu.”
Di bawah sana, empat puluh guru dan enam puluh murid sudah bersiap lengkap di gerbang. Tombak, busur, dan jaring pelindung sihir sudah aktif dan bersinar terang.
Lord Veykar memiringkan kepalanya perlahan. Lalu ia tertawa — suara kasar serak persis seperti tulang-tulang yang saling bergesekan.
“Bagus sekali… Aku suka anak yang punya keberanian.”
Ia menghentakkan ujung tongkatnya ke tanah.
Kabut hitam pekat itu seolah berteriak marah.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: BAB 3: BUKU TERSERU
Sorry, comment are closed for this post.