Senja datang menjelang sore dengan membawa Bima.
Anak laki-laki itu turun dari mobil sambil mengenakan seragam TK. Tas kecil berbentuk kereta api menggantung di punggungnya. Begitu melihat Digantara yang baru pulang kerja, Bima langsung berlari.
“Kakek!”
Digantara yang masih berdiri di dekat pagar segera membuka tangan. Bima menabrak tubuhnya, lalu memeluk pinggangnya erat-erat.
“Pelan-pelan,” kata Digantara sambil tertawa.
“Aku dapat bintang hari ini.”
“Bintang apa?”
Bima membuka tasnya dan mengeluarkan selembar kertas. Di sana terdapat gambar rumah dengan atap merah, dua pohon, dan tiga orang yang berdiri di depan pintu.
“Ini rumah siapa?” tanya Digantara.
“Rumah Kakek.”
“Kenapa rumah Kakek ada tiga orang?”
“Itu Bima, Kakek, dan Nenek.”
“Senja dan Ayah Arga mana?”
“Mereka di kantor.”
Digantara tertawa. Bima memang memiliki cara berpikir yang sederhana. Baginya, orang-orang dapat berpindah rumah sesuka hati. Ia belum memahami bahwa orang dewasa memiliki pekerjaan, tanggung jawab, dan tempat tinggal masing-masing.
Senja turun dari mobil setelah mengambil beberapa barang. Ia mengenakan pakaian kerja yang rapi, tetapi wajahnya terlihat lelah.
“Assalamualaikum,” katanya.
“Waalaikumsalam,” jawab Ratri dari dalam rumah.
Senja memeluk ibunya, lalu mencium tangan Digantara.
“Capek?” tanya Digantara.
“Sedikit.”
“Arga belum pulang?”
“Masih di kantor. Katanya menyusul nanti.”
Senja masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu. Bima langsung membuka mainannya di lantai. Ratri menyajikan teh hangat dan gorengan yang baru dibeli.
Digantara mengganti pakaian, lalu kembali ke ruang tamu. Ia memperhatikan Senja yang memegang cangkir dengan kedua tangan.
“Ada yang ingin dibicarakan?” tanya Digantara.
Senja menatap ayahnya.
“Bapak sudah tahu?”
“Belum.”
“Bapak selalu begitu,” kata Ratri dari dapur. “Baru duduk sudah bertanya masalah.”
Digantara menoleh.
“Aku hanya bertanya.”
Senja tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa, Pak.”
Namun senyum itu tidak bertahan lama. Senja menunduk dan mengaduk teh yang sudah tidak perlu diaduk.
Digantara mengenal gerakan itu. Senja biasanya melakukan hal yang sama ketika sedang menyembunyikan sesuatu.
“Kalau ada masalah, bicara saja,” kata Digantara lebih lembut.
Senja menarik napas.
“Uang sekolah Bima bulan ini belum dibayar.”
Digantara tidak langsung menjawab.
“Berapa?”
Senja menyebutkan jumlahnya.
Jumlah tersebut tidak terlalu besar bagi sebagian orang. Namun bagi keluarga yang harus membayar cicilan, kebutuhan sehari-hari, dan biaya sekolah, jumlah kecil pun dapat menjadi beban.
“Kenapa belum dibayar?” tanya Digantara.
“Gaji Arga baru masuk beberapa hari lagi.”
“Gajimu?”
“Sudah banyak keperluan.”
Digantara menatap anaknya. Ia tidak ingin terlihat menghakimi. Ia tahu Senja juga memiliki kebutuhan sendiri.
“Seragam Bima juga perlu diganti,” lanjut Senja. “Yang lama sudah sempit.”
Bima yang sedang bermain mendengar namanya.
“Kakek, seragam Bima masih bagus.”
“Bagus, tetapi sudah sempit,” kata Senja.
“Tidak apa-apa. Bima bisa tarik bajunya.”
Kalimat itu membuat suasana menjadi hening.
Ratri menatap Senja. Digantara merasakan sesuatu menekan dadanya. Bima tidak seharusnya memahami bahwa keluarganya sedang menghemat uang. Anak seusianya seharusnya hanya memikirkan bermain dan belajar.
Digantara memasukkan tangan ke saku celana.
“Ayahmu nanti menyusul?” tanyanya.
“Iya.”
“Kalau begitu, nanti kita bicarakan bersama.”
Senja langsung menggeleng.
“Jangan, Pak.”
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin membuat Bapak dan Ibu ikut pusing.”
“Kamu anak Bapak.”
“Itulah masalahnya. Aku selalu merasa masih menjadi beban.”
Digantara menatap Senja dengan terkejut.
“Siapa yang bilang kamu beban?”
“Tidak ada.”
“Lalu kenapa berpikir begitu?”
Senja menghela napas.
“Karena setiap kali ada masalah, saya datang ke rumah ini.”
Digantara ingin segera menyangkal. Namun ia teringat beberapa bulan terakhir. Senja memang beberapa kali meminta bantuan. Kadang untuk biaya sekolah Bima, kadang untuk memperbaiki kendaraan, kadang hanya untuk membeli kebutuhan rumah tangga.
Digantara selalu memberikan bantuan tanpa banyak bertanya.
Ia tidak pernah menganggap Senja sebagai beban.
Namun mungkin Senja melihat dirinya sendiri seperti itu.
“Dengar,” kata Digantara. “Selama Bapak masih bisa membantu, kamu tidak perlu merasa bersalah.”
“Tapi Bapak juga punya Galang.”
“Galang berbeda.”
“Galang juga anak Bapak.”
Digantara diam.
Senja menatapnya.
“Bapak selalu bilang Galang harus mandiri. Tapi kalau saya datang, Bapak selalu membantu.”
“Karena kamu punya anak.”
“Galang juga punya masa depan.”
Kalimat itu membuat Digantara terdiam lebih lama.
Dari kamar, terdengar suara komputer menyala. Galang mungkin mendengar sebagian percakapan mereka. Namun ia tidak keluar.
Ratri membawa piring gorengan dan meletakkannya di atas meja.
“Sudahlah,” katanya. “Kita cari jalan bersama.”
Digantara mengangguk.
Ia melihat Bima yang sedang menyusun balok mainan. Anak itu membuat sebuah bentuk menyerupai rumah.
“Kakek,” panggil Bima.
“Apa?”
“Kalau Bima besar, Bima mau belikan Kakek rumah besar.”
Digantara tersenyum.
“Kenapa harus rumah besar?”
“Supaya semua bisa tinggal di sini.”
Senja menunduk. Ratri tersenyum haru. Digantara menatap cucunya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Di depan mata, ia melihat tiga generasi keluarganya. Ia melihat masa lalu dalam dirinya, masa kini dalam Senja, dan masa depan dalam diri Bima.
Untuk merekalah ia terus bekerja.
Untuk merekalah ia bersedia menunda membeli sepatu baru, memperbaiki motor seperlunya, dan mencatat setiap pengeluaran hingga rupiah terakhir.
Namun sore itu, untuk pertama kalinya Digantara bertanya kepada dirinya sendiri:
Sampai kapan seorang ayah harus terus kuat?
Ia tidak menemukan jawabannya.
Di luar rumah, langit mulai berwarna jingga. Senja datang perlahan, seperti namanya. Indah, tetapi hanya sebentar.
Digantara memandang warna langit itu melalui jendela.
Mungkin hidup memang seperti senja. Tidak selalu terang, tidak selalu gelap. Ada masa ketika semuanya tampak indah, tetapi ada pula saat-saat ketika cahaya perlahan menghilang.
Yang dapat dilakukan manusia hanyalah tetap menunggu pagi.
Dan Digantara tahu, sebagai seorang ayah, ia tidak boleh berhenti menunggu.
Kreator : Sukirno (Kirno Nugraha)
Comment Closed: Bab 3 — Senja yang Sudah Menjadi Ibu
Sorry, comment are closed for this post.