BAB 30: RAMUAN UNTUK YANG KEHILANGAN ARAH | Resep: Kompas untuk Menemukan Jalan Pulang ke Diri
Hari ke-23 Lumi jaga gubuk.
Fajar. Tanah Fajar berkabut. Tapi kabutnya bukan putih. Kabutnya keemasan dan berputar pelan kayak mau nunjukin arah. Akar Veylara di luar menunjuk ke empat penjuru, tapi semuanya berpendar sama terang.
Kriiieekkk. Pintu terbuka sendiri. Tak ada siapa-siapa.
Buku di meja terbuka di halaman 30. Kosong.
Tapi kali ini namanya yang muncul duluan.
Lumi.
“Lumi,” kata Seraphina pelan. “Kamu kenapa dari tadi diam?”
Lumi duduk. Tangannya memainkan ujung jubah.
“Aku. Aku bingung, Bu.”
Alistair menuang teh. “Bingung apa?”
“Aku sudah 23 hari di sini. Nyembuhin orang. Menanam pohon. Tapi, aku … Aku harus di sini selamanya atau kembali? Aku kangen rumah. Tapi, kalau aku pergi, siapa yang jaga gubuk ini?”
Tio menatap kompas tua di rak. Kompasnya berputar terus tanpa henti.
“Kamu kehilangan arah, ya.”
Lumi mengangguk. Matanya merah. “Aku takut salah pilih.”
Lumi berdiri. Ia berjalan menuju rak. Mengambil kompas tua. Besinya berkarat, tapi jarumnya dari Lumin.
“Ini bukan ramuan minum,” kata Lumi ke dirinya sendiri. “Ini ramuan cari.”
Buku bergetar hebat. Halaman 30 terbakar cahaya putih.
Tinta emas turun dari atas kayak hujan.
Resep 30: Kompas untuk Menemukan Jalan Pulang ke Diri
Bahan: Besi untuk tanya, jarum Lumin untuk jawab, angin Tanah Fajar untuk meniup, waktu untuk berhenti berlari
Cara: Pegang kompas. Diam. Ucapkan Invenio me. Artinya, Aku menemukan diriku. Kompas tidak menunjuk utara. Dia menunjuk kemana hatimu paling tenang.
Catatan: Kehilangan arah itu wajar. Yang bahaya itu pura-pura tau arah padahal tersesat.
Di bawahnya coretan:
Untuk Lumi. Kamu bukan cuma penjaga. Kamu juga yang dijaga.
– Nenek Ysra
Seraphina duduk di sampingnya. “Pegang.”
Lumi menggenggam kompas. Jarumnya bergetar. Muter. Lalu berhenti. Menunjuk ke arah gubuk. Ke arah Veylara. Ke arah tanah tempat dia menanam 23 pohon.
“Invenio me,” bisik Lumi. “Aku menemukan diriku.”
Tanah di luar berpendar. Dari 23 pohon yang ditanam, keluar cahaya tipis dan semuanya mengarah ke Lumi. Hampir seperti 23 benang Lumin yang mengikatnya ke tempat ini.
Alistair tersenyum. “Lihat. Tanah sudah menjawab.”
“Tapi aku kangen rumah,” kata Lumi lirih.
“Kangen bukan berarti harus pergi,” kata Seraphina. “Kadang rumah ikut kamu. Kadang kamu yang jadi rumah buat orang lain.”
Jam 6 pagi. Lumi meletakkan kompas di meja.
Dia tidak menyimpan. Dia taruh di tengah gubuk.
“Buat siapa saja yang bingung,” katanya. “Biar tahu bahwa tenang itu arah.”
Setelah itu dia keluar. Berjalan ke Veylara. Menyentuh batangnya.
Veylara berpendar dan daunnya menutup di kepalanya seperti payung.
Malamnya Lumi menulis:
Hari ini aku belajar. Arah bukan tempat. Arah itu rasa. Dan aku tenang di sini.
Kriiieekkk.
Pintu berderit.
Angin membawa suara dan kelopak Lumin: “Permisi. Aku rindu rumah.”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 30 dari novel Rahasia Buku Sihir Nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.