KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 4 – Anak Bermata Belang

    Bab 4 – Anak Bermata Belang

    BY 11 Jul 2026 Dilihat: 6 kali
    Anak Bermata Belang_alineaku

    Sementara Bayu masih asyik membayangkan Inyiak Balang di pinggiran kota Jogja, di sebuah rumah yang berdiri tak jauh dari lereng Gunung Merapi, seorang anak lain baru saja terbangun dari tidur yang terasa sangat aneh.

    Usianya sama dengan Bayu, tetapi tubuhnya terlihat sedikit lebih kurus dan lebih tinggi dibanding kebanyakan anak seusianya. Saat duduk di tepi ranjang, kedua kakinya menggantung hampir menyentuh lantai, sementara tangannya bertumpu di samping tubuhnya. Ia belum langsung berdiri, hanya menunduk beberapa saat dengan napas pelan, seperti masih mencoba memahami apakah yang baru saja ia alami benar-benar mimpi atau bukan.

    Rambut hitamnya jatuh berantakan ke dahi. Beberapa helai mencuat ke arah yang berbeda, membuatnya tetap terlihat kusut meski biasanya Laras selalu berusaha merapikannya sebelum berangkat sekolah. Kulitnya sawo matang, tidak terlalu gelap, tetapi cukup menunjukkan bahwa ia sering bermain di luar rumah, terkena udara pegunungan dan matahari pagi yang biasa muncul di sela kabut.

    Raka mengangkat wajah perlahan. Di sanalah hal yang paling mudah membuat orang memperhatikannya terlihat jelas. 

    Kedua matanya tidak sama. Mata kanannya berwarna cokelat gelap, seperti mata kebanyakan anak lain. Namun mata kirinya jauh lebih pucat, abu-abu kebiruan, sehingga setiap kali ia menoleh ke arah cahaya, perbedaannya langsung tampak.

    Raka sendiri sudah terbiasa dengan tatapan orang-orang yang berhenti sedikit lebih lama di wajahnya. Ada yang penasaran, ada yang berbisik, ada juga yang langsung bertanya tanpa sungkan. Biasanya ia hanya diam atau menunduk, menunggu sampai mereka bosan sendiri.

    Pagi itu, ia tidak sedang memikirkan semua itu. Ia masih duduk di tepi ranjang, menatap lantai kamar dengan tubuh lemas, sementara sisa mimpi tadi malam terasa belum benar-benar pergi dari kepalanya.

    Di bawah kedua matanya tampak lingkar tipis yang sudah cukup akrab di wajahnya. Tidak sampai membuatnya terlihat sakit, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa tidurnya jarang benar-benar nyenyak.

    Raka mengerjapkan mata beberapa kali. Kepalanya masih terasa berat. Potongan-potongan mimpi tadi malam masih berputar samar di benaknya, meski sebagian mulai memudar seperti embun yang perlahan hilang terkena matahari pagi.

    Ia ingat melihat seorang anak. Atau setidaknya ia merasa begitu. Wajah anak itu tidak terlihat jelas. Setiap kali ia mencoba mengingatnya, yang muncul hanya siluet kecil dengan cahaya biru samar di belakang tubuhnya. Lalu semuanya berubah. Tiba-tiba ia berada di kamar ibunya.

    Raka mengernyit pelan. Mimpi itu terasa begitu nyata hingga sekarang. Ia masih bisa mengingat suasana kamar yang perlahan menjadi gelap ketika kabut hitam mulai merayap dari sudut-sudut lantai. Mula-mula tipis, lalu semakin banyak, menjalar ke dinding, ke lemari, dan ke jendela seperti asap yang hidup.

    Setelah itu ingatannya kembali terputus-putus. Ada sosok lain.

    Seorang anak juga. Tubuhnya memancarkan cahaya lembut keemasan yang membuat kabut di sekitarnya terlihat menjauh.

    Raka tidak ingat wajahnya. Tidak tahu siapa namanya. Namun ada satu perasaan yang masih tertinggal sampai sekarang. Anak itu terasa berbeda. Seolah dia adalah  seseorang yang menjaganya sepenuh hati.

    Lalu semuanya menghilang.

    Gelap.

    Dan setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi.

    Raka mengedip beberapa kali. Ingatan tentang mimpi itu langsung buyar saat ia mencoba mengingatnya lebih jelas. Tadi rasanya begitu nyata, tetapi sekarang yang tersisa hanya potongan-potongan kecil yang tidak bisa disusun menjadi sesuatu yang utuh.

    Ia tahu ada sesuatu yang terjadi dalam mimpi itu. Sesuatu yang penting. Namun semakin keras ia mencoba mengingatnya, semakin banyak bagian yang menghilang.

    Raka kembali mengusap wajahnya pelan. Tubuhnya terasa lemas. Perutnya kosong seperti belum makan sejak kemarin, sementara kepalanya masih terasa berat. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan, seolah ia baru pulang dari tempat yang sangat jauh dan sebagian dari dirinya masih tertinggal di sana.

    Ia menarik napas panjang lalu memaksa dirinya tetap duduk. Saat ia membuka mata lebih lebar, kamar itu sudah terang oleh cahaya matahari pagi.

    Tirai jendela sudah diikat ke samping sehingga cahaya matahari pagi bebas masuk dan menyinari lantai keramik. Di seberang ranjang, tempat tidur Farah sudah kosong. Selimutnya dirapikan seperti biasa, sementara bantalnya masih menyisakan cekungan tipis yang menandakan adiknya belum lama bangun.

    Udara pegunungan masuk dari jendela yang terbuka sedikit. Dingin dan segar. Biasanya udara pagi seperti itu cukup membuat Raka cepat sadar, tetapi kali ini berbeda. Sisa mimpi tadi masih terasa menempel di kepalanya dan membuatnya sulit berkonsentrasi.

    Ia kembali menarik napas, lalu mencoba duduk lebih tegak. Baru saat itulah ia menyadari ada yang tidak beres dengan tubuhnya.

    Kepalanya terasa berat dan berdenyut pelan di bagian belakang. Di telinganya terdengar denging tipis yang tidak kunjung hilang. Napasnya memang normal, tetapi seluruh badannya terasa pegal dan lelah, seperti habis berlari jauh atau bermain seharian tanpa istirahat.

    Raka memejamkan mata sebentar. Lalu membukanya lagi. Rasa itu masih ada.

    Ia menurunkan kaki ke lantai dan meraba sandal beruangnya dengan ujung jari. Setelah kedua kakinya masuk ke dalam sandal, ia berdiri perlahan.

    Baru beberapa detik berdiri, pandangannya langsung berkunang-kunang. Lantai di bawah kakinya terasa bergeser, sementara dinding di depannya seperti sedikit miring.

    Raka buru-buru memegang tepi ranjangnya. Ia memejamkan mata sebentar dan menunggu sampai rasa pusing itu berangsur hilang.

    Beberapa saat kemudian, semuanya kembali normal. Dari luar kamar, suara-suara rumah mulai terdengar jelas. Suara spatula yang beradu dengan wajan dari dapur. Suara televisi yang menyala cukup keras. Dan tawa Farah yang terdengar sampai ke lantai atas.

    “Faraah… Kecilkan lagi suaranya, nanti adikmu bangun!!” Suara ibunya terdengar dari dapur.

    Raka menghembuskan napas pelan.

    Suara-suara itu terasa menenangkan karena semuanya terdengar biasa. Tidak ada kabut hitam. Tidak ada anak bercahaya. Tidak ada mimpi aneh yang membuatnya bingung sejak bangun tadi.

    Tak lama kemudian aroma bawang goreng dan telur dadar ikut masuk melalui sela pintu kamar. Perutnya langsung berbunyi pelan.

    Raka menelan ludah. Ia baru sadar betapa laparnya dirinya pagi itu. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju pintu kamar lalu mendorongnya terbuka.

    Lorong kecil di lantai atas sudah terang oleh cahaya matahari, meski udara pegunungan masih terasa dingin di kulit. Raka berjalan ke pagar mezanin lalu melongok ke bawah.

    Televisi di ruang tengah menyala keras. Tom & Jerry sedang kejar-kejaran di layar. Jerry melompat ke gagang wajan. Tom terpeleset dan menabrak pintu. Farah yang duduk di depan televisi langsung tertawa keras sampai tubuhnya ikut bergoyang.

    Piring di tangan Farah hampir kosong. Rambut anak itu diikat asal-asalan, dan beberapa helai yang terlepas terus jatuh ke pipinya setiap kali ia tertawa melihat tingkah Tom dan Jerry di televisi.

    Raka tetap berdiri di dekat pagar mezanin sambil memperhatikannya beberapa saat.

    Farah terlihat seperti biasanya. Duduk bersila di depan televisi, sesekali tertawa sendiri saat melihat Tom terpeleset atau Jerry berhasil lolos dari kejaran. Tidak ada yang berbeda dari adiknya pagi itu, tetapi entah kenapa Raka masih terus memandang ke arahnya seolah sedang memastikan sesuatu.

    Perasaan aneh yang sejak tadi mengganjal di dadanya belum juga hilang.

    Akhirnya tatapannya beralih ke layar televisi.

    Tom sedang berlari mengejar Jerry mengelilingi dapur. Namun sesaat ia merasa ada yang aneh dengan layar televisi itu. Gerakan Tom dan Jerry seperti tersendat sepersekian detik sebelum kembali normal. Begitu singkat sampai Raka tidak yakin apakah itu benar-benar terjadi atau hanya karena kepalanya masih pusing.

    Raka mengerutkan dahi sebentar sebelum akhirnya menggeleng pelan. Mungkin ia memang belum sepenuhnya sadar.

    Dengan langkah perlahan, ia mulai menuruni tangga menuju ruang tengah. Tubuhnya masih terasa berat dan kepalanya belum benar-benar nyaman, sehingga ia harus berpegangan sebentar pada pagar tangga sebelum melanjutkan langkah.

    Sesampainya di bawah, Raka langsung duduk di sofa. Kedua tangannya bertumpu di atas lutut sementara matanya mengarah ke televisi, meski sebenarnya ia tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang ditayangkan.

    Tak lama kemudian Laras keluar dari dapur sambil membawa spatula.

    “Farah… kan Mama sudah bilang tadi. Kecilkan suaranya.”

    Farah yang masih tertawa melihat Tom dikejar Jerry langsung meraih remote di sampingnya lalu menurunkan volume televisi beberapa tingkat.

    Baru setelah itu Laras menoleh ke arah sofa.

    “Eh, sudah bangun, Mas Raka?”

    Senyumnya langsung melebar melihat putranya sudah duduk di ruang tengah.

    “Tunggu sebentar ya. Mama lagi bikin telur ceplok kesukaanmu.”

    Farah ikut menoleh sekilas ke arah kakaknya.

    Ia tersenyum kecil, lalu kembali fokus ke televisi yang masih menayangkan kejar-kejaran Tom dan Jerry.

    Raka hanya mengangguk pelan.

    Suara televisi yang kini lebih pelan, aroma masakan dari dapur, dan suara Laras yang kembali sibuk di dekat kompor membuat pagi itu terasa biasa seperti pagi-pagi lainnya di rumah mereka.

    Namun rasa ganjil yang muncul sejak ia bangun tadi belum juga hilang.

     

     

    Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 4 – Anak Bermata Belang

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021