Mereka berjalan menuju deretan gubug di tepi pantai, sementara suara Farah terus mengalir tanpa jeda. Anak itu menunjuk ke sana-sini, mengomentari hampir setiap hal yang dilihatnya, seolah seluruh isi pantai hari itu terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja.
“Yang di sana aja, Mas,” kata Laras sambil menunjuk deretan gubug sederhana yang berdiri tidak jauh dari area parkir.
Bangunan-bangunan itu berjajar mengikuti garis pantai. Tiang-tiang kayunya berdiri sedikit miring karena tertanam di pasir yang tidak rata, menopang atap seng yang warnanya mulai kusam dimakan garam laut dan panas matahari. Di bawahnya tersusun bangku-bangku panjang dari papan kayu yang cukup untuk beberapa keluarga duduk berderet.
Di bagian depan gubug, termos besar dan galon air ditata seadanya. Sebuah spanduk yang tergantung miring bergoyang pelan tertiup angin. Tulisan di atasnya sudah mulai pudar.
ES KELAPA – MIE REBUS – TEH ANGET
Pasir yang mereka pijak semakin dalam saat mendekati deretan gubug itu sehingga langkah mereka otomatis melambat. Tak banyak pengunjung yang memilih duduk di sana. Beberapa bangku masih kosong.
Seorang ibu berjilbab dengan celemek lusuh yang sejak tadi berdiri di salah satu gubug langsung tersenyum begitu melihat mereka mendekat.
“Monggo, Mas, Mbak. Mau duduk sini? Silakan saja. Gratis kok, nggak perlu bayar sewa,” sapanya ramah.
Nada bicara ibu itu terdengar akrab di telinga Raka. Ia sudah beberapa kali mendengar tawaran yang sama saat berlibur ke pantai bersama keluarganya. Duduk memang gratis, tetapi biasanya setelah itu pengunjung akan memesan minuman atau makanan dari warung tempat mereka berteduh.
Raka melirik ke arah Papanya yang masih diam sambil mengamati sekitar. Tatapan Satria bergerak dari bangku-bangku kosong ke area pantai di depannya, seolah sedang menimbang apakah gubug yang cukup teduh dan tidak terlalu jauh dari pusat keramaian festival itu cocok untuk mereka.
Sementara itu, ibu pemilik warung tetap menunggu dengan sabar. Senyumnya tidak berubah sedikit pun.
Melihat cara Papanya mengamati tempat itu, Raka sudah bisa menebak keputusan yang akan diambil bahkan sebelum pria itu membuka mulut.
“Di sini aja ya, Mah,” kata Satria akhirnya sambil menoleh ke arah Laras.
“Iya, enak di sini,” jawab Laras setuju.
Menurut Raka pilihan itu memang paling masuk akal. Sejak turun dari mobil, ia sudah melihat beberapa tempat lain yang jauh lebih ramai, tetapi gubug ini terasa pas. Tidak terlalu dekat dengan kerumunan, namun juga tidak jauh dari pusat kegiatan festival.
Satria mulai menurunkan tas dan perlengkapan dari mobil, lalu meletakkannya di atas meja kayu. Begitu Raka melangkah masuk ke bawah atap seng, udara yang mengenai kulitnya langsung terasa berbeda. Matahari masih bersinar terik, tetapi panasnya tidak lagi menghantam langsung. Angin laut tetap berembus, membawa aroma asin bercampur wangi minyak goreng dan kuah mie rebus dari warung sebelah.
Raka mengusap permukaan bangku di sampingnya. Kayunya terasa agak kasar, tetapi masih kokoh.
Baru beberapa saat Laras duduk, Sekar mulai terbangun. Tangisnya tidak keras, tetapi cukup tajam untuk terdengar di tengah suara ombak, angin, dan obrolan pengunjung di sekitar mereka.
Matahari siang mulai terasa menyengat di kulit. Angin pantai juga membuat bibir Raka sedikit kering. Mungkin Sekar haus, atau mungkin masih tidak nyaman setelah perjalanan tadi. Laras segera menggeser posisi duduk dan mengayun tubuh kecil putrinya perlahan.
Melihat adiknya menangis, Farah langsung mendekat.
“Ciluuuk… baaa!”
Tangannya bergerak lincah di depan wajah Sekar dengan harapan adiknya itu kembali tertawa, tetapi Sekar hanya terisak pelan sambil meringis. Di saat yang sama, Raka yang berdiri di sisi lain gubug kembali mengangkat pandangan ke langit.
Puluhan layang-layang raksasa memenuhi langit. Ada yang berbentuk paus, pari, naga, hingga bentuk-bentuk aneh yang belum pernah dilihat Raka sebelumnya. Semuanya melayang perlahan mengikuti tarikan angin, membuat langit di atas pantai tampak lebih ramai dari biasanya.
“Taruh dulu tasnya di sini, Ka,” kata Papa sambil mengeluarkan perlengkapan Sekar dari tas besar. “Biar Mama gampang ambil kalau butuh.”
Raka mengangguk lalu meletakkan tasnya di sudut meja.
Tangis Sekar sempat meninggi beberapa saat. Tubuh kecilnya menggeliat gelisah di pelukan Laras.
“Oh, sayang… haus ya?” gumam Laras sambil mengusap kepala putrinya. “Bentar ya…”
Ia merapikan jilbabnya lalu menyelimuti Sekar dengan lebih tertutup.
Pemandangan itu sudah sering dilihat Raka sejak Sekar lahir. Begitu sering sampai terasa biasa. Namun setiap kali melihatnya, ada perasaan nyaman yang sulit dijelaskan. Seolah semuanya baik-baik saja selama Mama ada di dekat mereka.
Perlahan tangis Sekar mulai mereda. Isakannya semakin jarang hingga akhirnya tinggal sesekali terdengar pelan.
“Tolong ambilkan minum buat Mama, Nak,” kata Laras kepada Farah sambil menunjuk tas di atas meja.
Farah langsung bergerak. Ia membuka tas, mencari botol minuman, lalu menyodorkannya kepada Mama.
Tak lama kemudian ibu pemilik warung kembali menghampiri sambil membawa lembaran menu.
“Kalau mau pesan, panggil saya saja ya, Pak.”
“Oh iya, Bu. Terima kasih,” jawab Satria sambil menerima menu itu.
Dari tempatnya berdiri, Raka melihat Papanya sempat melirik ke arah Mama dan Sekar. Mungkin memastikan semuanya sudah beres. Dan memang, Sekar kini jauh lebih tenang. Hanya sesekali tersisa isakan kecil.
“Ma,” kata Papa pelan, “Papa ajak Mas Raka sama Dek Farah lihat-lihat dulu ya.”
Laras tersenyum sambil mengangguk.
“Iya, nggak apa-apa. Jalan aja dulu. Tapi jangan jauh-jauh dari sini.”
Papa lalu menoleh ke kedua anaknya.
“Gimana? Sudah siap keliling?”
“Siiaaap!” seru Farah sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Raka hanya mengangguk. Namun tanpa sadar ia ikut tersenyum. Sejak mereka tiba di pantai, perasaan aneh itu terus muncul di dalam dirinya. Bukan hanya karena senang melihat festival layang-layang, melainkan karena ia merasa ada sesuatu di tempat itu yang belum ia lihat, sesuatu yang membuatnya ingin segera berkeliling dan menemukannya.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 9 – Parangtritis part 2
Sorry, comment are closed for this post.