KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 5 – Kejadian-Kejadian Aneh Raka

    Bab 5 – Kejadian-Kejadian Aneh Raka

    BY 11 Jul 2026 Dilihat: 3 kali
    Kejadian-Kejadian Aneh Raka_alineaku

    Setelah Raka mengambil piring berisi nasi goreng dan telur ceplok lalu kembali ke ruang tengah, Laras tetap berdiri di dapur sambil menyandarkan pinggangnya ke meja. Ponsel masih digenggam di tangan kanannya, sementara tangan kirinya mematikan api kompor yang sejak tadi digunakan untuk menggoreng telur.

    Tak lama kemudian, setelah beberapa kali panggilannya tidak dijawab, suara yang ditunggunya akhirnya terdengar dari seberang.

    “Assalaamu’alaikum, Mah.”

    “Wa’alaikumussalaam, Mas… kok baru diangkat, sih?”

    Laras mengembuskan napas pelan. Rasa lega karena teleponnya akhirnya dijawab bercampur dengan sedikit kesal yang sejak tadi sudah muncul.

    “Baru selesai mandi nih,” jawab Satria santai. “Anak-anak sudah bangun?”

    “Tuh, lagi sarapan di depan TV,” sahut Laras sambil melirik ke ruang tengah. “Mas sendiri sudah sarapan?”

    “Belum. Ini sebentar lagi mau turun. Sarapan hotel di sini enak banget, lho. Kemarin Mas cobain macam-macam.”

    “Tuh kan lepas seleranya kalau ga dirumah.”

    Satria langsung tertawa.

    “Enggak juga.”

    “Mas, aku udah hafal.”

    Tawa Satria terdengar lagi dari seberang telepon.

    Laras ikut tersenyum. Ia bahkan tidak perlu melihat suaminya untuk bisa membayangkan ekspresinya saat ini. Selama mereka menikah, urusan makanan selalu berhasil membuat Satria bersemangat. Kalau sudah berhadapan dengan meja prasmanan, biasanya ia akan berkeliling lebih dari sekali sebelum memutuskan mau mengambil apa.

    “Kemarin nasi uduk Betawinya enak banget,” lanjut Satria.

    “Yang penting jangan kalap, ya mas.”

    “Sedikit aja kok Ma.”

    Laras menggeleng sambil tersenyum kecil. Beberapa tahun terakhir berat badan suaminya memang naik cukup banyak dibanding saat mereka pertama kali menikah. Bahkan beberapa baju lamanya sudah jarang dipakai karena mulai terasa sempit.

    “Nanti pulang jangan kaget kalau timbangannya nambah lagi.”

    Satria terkekeh pelan sebelum akhirnya suasana di antara mereka perlahan menjadi lebih tenang.

    Senyum Laras masih bertahan beberapa saat setelah candaan mereka soal makanan. Namun begitu percakapan itu mulai mereda, pikirannya kembali melayang pada kejadian semalam.

    Ia menatap kompor yang sudah mati. Wajan yang tadi dipakai menggoreng telur masih tergeletak di atasnya, sementara aroma bawang dan minyak hangat masih terasa di dapur.

    “Mas…” Suaranya terdengar lebih pelan dari sebelumnya. “Ngomong-ngomong soal anak-anak…”

    “Hm?” Satria terdengar seperti sedang mengambil sesuatu. “Kenapa? Ada yang sakit?”

    “Bukan.”

    Laras melirik ke arah ruang tengah.

    Dari celah pembatas dapur, ia bisa melihat Raka yang sedang menghabiskan sarapannya. Anak itu makan lebih lahap dari biasanya sampai sesekali menunduk untuk menyendok nasi dalam jumlah banyak.

    Pemandangan itu seharusnya membuatnya tenang. Namun justru mengingatkannya pada apa yang terjadi tadi malam.

    “Raka… ada kejadian aneh semalam.”

    Nada suara Satria langsung berubah.

    “Kenapa lagi?”

    Laras menarik kursi lalu duduk perlahan.

    “Tadi malam aku ketindihan, Mas.”

    Ia menunduk sebentar sebelum melanjutkan.

    “Badanku kaku. Nggak bisa digerakin sama sekali. Mau baca doa juga susah.”

    Tangannya tanpa sadar meremas ujung meja.

    “Terus tiba-tiba Raka masuk ke kamar.”

    Ingatan itu kembali muncul begitu jelas di kepalanya.

    “Dia berdiri di dekat ranjang.”

    Laras mengernyit pelan saat mencoba mengingat wajah anaknya malam itu.

    “Dia terdiam, nggak ngomong apa-apa.”

    Suaranya makin pelan.

    “Tapi wajahnya kelihatan takut sekali, Mas.”

    Di seberang telepon tidak terdengar jawaban. Laras menelan ludah sebelum melanjutkan.

    “Kayak anak yang lagi ngelihat sesuatu…”

    Ia berhenti sejenak.

    “…sesuatu yang aku nggak bisa lihat.”

    Langkah kaki kecil terdengar dari ruang tengah.

    Farah muncul sambil membawa piring yang sudah hampir kosong, lalu meletakkannya di tempat cuci sebelum kembali melangkah ke arah televisi.

    “Wah, hebat anak Mama. Habis, ya, sarapannya?” ujar Laras sambil mengusap punggung putrinya. “Sapa Papa dulu, Nak.”

    “Halo, Pa…” jawab Farah sambil lalu.

    Ia bahkan sudah berbalik sebelum Laras sempat mengatakan apa-apa lagi.

    “Farah mau nonton lagi, ya. Lagi seru!”

    Anak itu langsung berlari kembali ke ruang tengah.

    Laras memperhatikannya sebentar sambil tersenyum kecil. Namun begitu Farah menghilang dari pandangan, senyum itu perlahan memudar dan pikirannya kembali pada kejadian semalam.

    Ia mendekatkan ponsel ke telinga.

    “Mas…”

    Suaranya terdengar jauh lebih pelan sekarang.

    “Aku belum cerita semuanya.”

    “Hm?” sahut Satria.

    Laras menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

    “Aku lihat Raka melayang.”

    Beberapa detik tidak ada jawaban dari seberang.

    “Hah?” suara Satria terdengar kaget. “Melayang gimana maksudnya?”

    “Badannya nggak nyentuh lantai, Mas.”

    Laras menatap meja di depannya.

    “Sumpah, aku lihat sendiri.”

    Ia masih bisa mengingat pemandangan itu dengan jelas. Raka berdiri di dekat ranjang. Wajahnya pucat. Tubuhnya tidak menyentuh lantai.

    Dan yang paling membuatnya takut adalah kenyataan bahwa semua itu terjadi saat ia tidak bisa bergerak sedikit pun.

    “Aku juga nggak ngerti waktu itu sebenarnya apa yang terjadi,” lanjutnya pelan. “Tak lama setelah Raka melayang, suasananya langsung berubah.”

    “Berubah gimana?”

    “Kamar yang tadinya sesak tiba-tiba jadi tenang.”

    Laras memejamkan mata sesaat, berusaha mengingat perasaan yang muncul saat itu.

    “Hangat juga.”

    Ia terdiam sebentar.

    “Terus Raka jatuh.”

    Suaranya nyaris seperti bisikan.

    “Dia pingsan tepat di samping ranjang.”

    Tangan Laras tanpa sadar meremas ujung taplak meja.

    “Setelah itu baru badanku bisa digerakin lagi.”

    Ia menelan ludah sebelum melanjutkan.

    “Aku langsung meluk dia, Mas.”

    Napasnya terdengar sedikit bergetar.

    “Aku takut banget waktu itu. Takut kalau terjadi sesuatu sama dia.”

    Laras berhenti bicara sejenak lalu meraih cangkir kopi yang sejak tadi tergeletak di sampingnya. Kopi itu sudah tidak sepanas tadi, tetapi rasa hangatnya masih cukup untuk membuat dadanya sedikit lebih tenang.

    “Alhamdulillah, Raka nggak kenapa-kenapa,” katanya pelan setelah meneguk sedikit. “Waktu itu dia kelihatan cuma seperti tidur.”

    Ia kembali melirik ke arah ruang tengah.

    Raka masih makan. Bahkan piringnya hampir habis.

    “Tapi yang bikin aku heran, dia sama sekali nggak ingat apa yang terjadi semalam. Tadi bangun kelihatan lemes, terus bilang lapar. Pas dikasih makan langsung habis  semuanya kayak ga makan seharian.”

    Laras mengembuskan napas pelan.

    “Mas…”

    “Hm?”

    “Aku jadi kepikiran terus.”

    Ia memutar pelan gagang cangkir di tangannya.

    “Jangan-jangan Raka memang beda dari anak-anak lain.”

    Di seberang telepon, Satria tidak langsung menjawab.

    Laras melanjutkan sebelum keberaniannya hilang.

    “Tadi malam aku sempat cari-cari di internet. Banyak yang cerita soal anak indigo dan beberapa pengalaman mereka mirip sama yang dialami Raka.”

    Ia menunduk menatap meja.

    “Aku jadi ingat waktu dia masih kecil.”

    “Yang soal teman khayalan itu?” tanya Satria.

    “Iya.”

    Laras mengangguk meski tahu suaminya tidak bisa melihatnya.

    “Dulu dia sering cerita tentang anak yang katanya suka main sama dia. Dia tahu namanya, tahu umurnya, bahkan bisa jelasin bajunya seperti apa.”

    Ia berhenti sebentar.

    “Kalau cuma ngomong sendiri sih mungkin masih biasa, Mas. Tapi waktu itu rasanya seperti dia benar-benar sedang ngobrol sama seseorang.”

    “Iya…” jawab Satria pelan. “Mas masih ingat.”

    Beberapa detik mereka sama-sama diam.

    “Dulu Mas kira itu cuma fase anak kecil. Banyak anak juga punya teman khayalan.”

    “Tapi?”

    “Tapi makin ke sini kok rasanya ada terlalu banyak kejadian aneh yang berhubungan sama dia.”

    Laras langsung teringat sesuatu.

    “Yang di kebun Akung?”

    “Nah.”

    Suara Satria terdengar lebih serius.

    “Dari pagi sampai hampir Magrib kita cari dia ke mana-mana. Mas sampai masuk ke sela-sela pohon salak sambil manggil namanya terus.”

    Laras masih ingat hari itu.

    Semua orang panik.

    Akung, Om Beni, para pekerja kebun, semuanya ikut mencari.

    “Terus tahu-tahu dia muncul di depan pondok,” lanjut Satria. “Santai banget. Malah bingung kenapa semua orang nyariin dia.”

    Satria tertawa kecil, meski terdengar hambar.

    “Dia bilang cuma main sebentar sama anak kecil yang tinggal di belakang kebun.”

    “Iya…”

    Laras mengingatnya dengan jelas.

    “Terus dia cerita soal kucing hitam itu.”

    “Kucing yang matanya biru?”

    “Iya.”

    Laras menyesap bibirnya sebelum melanjutkan.

    “Katanya waktu anak yang main sama dia itu tiba-tiba hilang, dia sendirian di tengah kebun. Terus muncul kucing hitam. Matanya biru terang sekali.”

    Ia masih ingat bagaimana seriusnya wajah Raka saat bercerita waktu itu.

    “Kucing itu cuma berdiri di depan dia sebentar, terus jalan pelan. Raka bilang dia ikut saja di belakangnya.”

    “Dan beberapa menit kemudian dia sudah sampai di pondok,” sambung Satria.

    “Iya.”

    Laras mengangguk pelan.

    “Waktu cerita dia sampai nunjuk ke samping kakinya.”

    “Katanya apa?”

    “‘Tadi si kucing masih di sini, Ma. Kok sekarang hilang?'”

    Laras terdiam sejenak sebelum melanjutkan.

    “Padahal waktu itu kita semua lihat ke arah yang dia tunjuk.”

    Suaranya mengecil.

    “Dan nggak ada apa-apa di sana kan, Mas.”

    Beberapa detik berlalu tanpa ada jawaban dari seberang.

    Lalu terdengar suara bel pintu.

    “Bentar, Mah. Kayaknya ada yang datang.”

    Laras menunggu sambil memegang cangkir kopinya.

    Dari telepon terdengar suara langkah kaki, pintu yang dibuka, lalu percakapan singkat yang tidak begitu jelas.

    Tak lama kemudian Satria kembali.

    “Ma, udahan dulu ya. Itu Pak Joko ngajak sarapan bareng.”

    “Oh.”

    “Besok Mas pulang.”

    Mendengar itu, Laras tersenyum kecil.

    “Ya sudah. Hati-hati.”

    “Kalau ada apa-apa lagi soal Raka, langsung kabarin Mas, ya.”

    “Iya.”

    “I love you.”

    Laras menunduk sambil tersenyum.

    “Love you too, Mas.”

    Sebelum sambungan benar-benar terputus, ia masih sempat menambahkan seperti biasa,

    “Dan jangan lupa, makannya dijaga.”

    Tawa kecil Satria terdengar dari seberang.

    “Iya, ibu Ratu.”

    Telepon pun terputus.

    Laras menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum meletakkannya di atas meja.

    Dari ruang tengah terdengar suara televisi yang masih menyala. Farah kembali tertawa melihat acara favoritnya, sementara Raka masih sibuk menghabiskan sarapan di piringnya.

    Rumah mereka terasa sama seperti biasanya.

    Hangat.

    Ramai.

    Tidak ada yang berbeda.

    Namun setiap kali matanya jatuh ke arah Raka, kejadian semalam kembali teringat begitu saja.

    Laras mengembuskan napas pelan.

    Ia berharap semua yang dilihatnya tadi malam hanya kebetulan atau mungkin akibat kepanikan sesaat.

    Tapi semakin ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, semakin sulit pula ia mengabaikan semua kejadian aneh yang selama ini selalu berhubungan dengan putra sulungnya itu.

     

     

    Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 5 – Kejadian-Kejadian Aneh Raka

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021