Bayu berdiri di depan cermin kecil yang tergantung di samping lemari pakaian. Rambutnya masih sedikit basah sehabis mandi, membuat beberapa helai menempel lucu di dahinya. Dengan sisir hijau kesayangannya yang ujungnya sudah patah karena entah berapa kali jatuh, ia menyisir rambut sambil bersenandung lagu kartun favoritnya.
“La… la… laaa… aku sayang sekaliii… Doraaa… eee… monnn…”
Sesekali ia memiringkan kepala ke kanan, lalu ke kiri, memperhatikan bayangannya dengan sangat serius seperti seorang model yang sedang bersiap tampil di televisi.
Setelah merasa rambutnya sudah cukup rapi, Bayu meniup poninya pelan. Poni itu bergerak. Bayangannya ikut bergerak. Bayu langsung tertawa sendiri sampai bahunya berguncang.
“Sip… ganteng.”
Ia mengacungkan jempol ke arah cermin, lalu membalas jempolnya sendiri dengan wajah puas.
Belum sempat ia melanjutkan pertunjukan satu orang itu, suara Mamanya terdengar dari lantai bawah.
“Bayuuuu… sarapan yooook! Nanti nasi gorengnya keburu dingin, loh!”
Bayu langsung menoleh ke arah pintu.
Perutnya yang sejak tadi diam mendadak ikut bereaksi, berbunyi pelan seolah mengingatkan bahwa ada urusan yang jauh lebih penting daripada merapikan rambut.
Mata Bayu membesar. “Nasi goreng Mama…!” Ia berbisik seperti baru mendengar kabar besar.
Bagi Bayu, nasi goreng merah buatan Mamanya bukan sekadar sarapan biasa. Warnanya selalu terlihat cantik dengan semburat merah yang menggoda, rasanya gurih tanpa berlebihan, dan pedasnya pas sampai membuat orang ingin menambah suapan berikutnya.
Tapi yang paling enak adalah…Dendeng badaruak mama!.
Dendeng yang digoreng sampai renyah itu selalu ditaburkan di atas nasi goreng. Rasanya manis, gurih, dan sedikit berasap. Bayu bahkan sering diam-diam memakannya lebih dulu sebelum menyentuh nasinya.
“Iya, Maaa! Bayu dateng!”
Ia berlari kecil keluar kamar, lalu menuruni tangga dengan langkah cepat.
“Nasi goreng merah… dendeng badaruak… aku dataaang…” gumamnya sambil nyengir sendiri.
Begitu sampai di ruang makan, aroma nasi goreng langsung menyambutnya lebih dulu. Wangi bawang, cabai, dan dendeng goreng memenuhi ruangan yang diterangi cahaya matahari pagi. Di atas meja, sebuah vas berisi bunga sedap malam kesayangan Uti Rara tampak berkilau terkena sinar matahari yang masuk dari jendela.
“Nah, ini buat jagoan Mama.”
Reni, mamanya Bayu, meletakkan sepiring nasi goreng di depan Bayu.
Mata Bayu langsung berbinar.
Ia menarik piring itu sedikit lebih dekat lalu menatap bagian atasnya dengan penuh perhatian.
“Banyakin dendengnya, Ma…” pintanya polos.
Reni tertawa kecil.
“Belum mulai makan aja udah minta tambah dendeng. Mau jadi gendut kayak siapa?”
“Kayak Atuk.”
Jawabannya keluar begitu cepat sampai semua orang di meja langsung menoleh.
Di ujung meja, Atuk Is mengangkat alis.
“Atuk nggak gendut, Yu.”
Beliau berhenti sejenak lalu menepuk perutnya sendiri dengan bangga.
“Atuk cuma… makmur.”
Bayu langsung cekikikan.
Uti Rara yang baru datang sambil membawa teh hangat ikut tertawa mendengar itu.
“Nggak apa-apa gemuk, toh. Yang penting sehat, ya kan cah bagus.”
Tangannya otomatis mencubit pipi Bayu yang tembam.
Tak lama kemudian Rinto, papanya Bayu, turun dari lantai atas sambil merapikan kemeja biru mudanya. Name tag hotel masih tergantung rapi di saku dadanya.
“Lagi ngomongin apa nih?”
“Si Bayu ini, Pa” jawab Reni sambil duduk. “Belum makan sudah minta tambah dendeng.”
Rinto menoleh ke arah anaknya, lalu memasang wajah serius yang jelas-jelas dibuat-buat.
“Oalah… sama dong kita, Yu.”
Ia kemudian mendekat ke arah istrinya dan berbisik dengan nada merayu yang sengaja dibesarkan.
“Tambahin lagi dendengnya… sayang.”
Bayu langsung menutup mulutnya sambil tertawa.
Reni memutar bola matanya.
“Di meja makan ini ada dua anak kecil. Satu umurnya lima tahun, satu lagi tiga puluh lima tahun.”
Atuk Is tertawa lepas sampai bahunya berguncang.
“Wajar itu, Ren. Dendeng resep dari nenekmu itu memang terkenal dari dulu.”
“Lho, memang lo…enak e poool,” timpal Uti Rara sambil mengangguk mantap.
Rinto dan Bayu saling pandang.
Lalu tanpa dikomando, keduanya mengacungkan jempol bersamaan ke arah Reni.
Reni hanya bisa menghela napas sambil tersenyum geli.
“Sudah…sudah, ayo kita makan dulu. Nanti kita mau ke pantai, kan, Yu? Bareng Tante Winda sekeluarga.”
Bayu langsung duduk lebih tegak. Sudah lama dia tidak bertemu dengan Angga, sepupu tirinya.
“Siap, Ma!”
Senyumnya melebar sampai matanya hampir hilang.
“Papa ikut?”
Rinto menggeleng pelan.
“Maaf ya, Yu. Papa nggak bisa ikut. Hotel lagi ramai.”
Bayu berhenti mengunyah sesaat.
“Atuk ikut?”
Atuk menggelengkan kepalanya.
“Atuk mau survey lokasi cabang rumah makan atuk yang baru di Babarsari nanti, Yu”
Ada rasa kecewa kecil yang sempat muncul di wajahnya. Namun hanya sebentar. Ia membayangkan keseruan bermain bersama Angga nanti, lalu melirik Mamanya dan Uti Rara.
“Gapapa kok” katanya sambil tersenyum kecil. “Bayu nanti kan nggak sendirian, bisa bermain pasir bersama Angga dan Risa “
Rinto mengusap rambut anaknya pelan.
“Wah pasti seru tuh.”
Sarapan pun berlanjut dengan obrolan ringan yang saling bersahutan. Sendok dan garpu sesekali beradu dengan piring, tawa muncul tanpa alasan yang penting, dan aroma nasi goreng hangat masih memenuhi ruangan.
Bayu duduk sambil menopang pipinya dengan satu tangan.
Ia memandangi semua orang yang ada di meja itu.
Mama.
Papa.
Atuk.
Uti.
Semuanya ada di sana. Duduk dekat dengannya.
Dan bagi Bayu, pagi seperti itu terasa biasa saja. Padahal tanpa ia sadari, tidak semua anak memiliki pagi yang seramai dan sehangat itu. Ada anak-anak yang hanya bisa bertemu ayah atau ibunya sesekali.
Ada yang harus menunggu berhari-hari.
Berminggu-minggu.
Bahkan bertahun-tahun.
Bagi Raka, bertemu papanya hanyalah momen-momen singkat yang datang beberapa kali dalam seminggu sebelum pekerjaan kembali membawanya pergi.
Dan setiap kali pertemuan itu berakhir, selalu ada rasa rindu yang tertinggal—rindu yang belum sempat selesai ketika perpisahan berikutnya sudah datang lagi.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 6 – Dendek Badaruak
Sorry, comment are closed for this post.