Mobil keluarga itu melaju mulus di jalan yang mulai ramai oleh kendaraan wisatawan. Semakin jauh mereka meninggalkan kota, pemandangan di luar jendela perlahan berubah; deretan rumah dan pertokoan yang tadi masih rapat mulai jarang terlihat, berganti hamparan sawah luas berwarna hijau yang di beberapa bagian sudah bercampur kuning keemasan.
Sebuah truk besar melintas dari arah berlawanan.
Begitu melihatnya, Sekar yang sejak tadi duduk nyaman di pangkuan Laras langsung menunjuk ke luar jendela dengan mata berbinar.
“Iloo! Iloo!”
Farah langsung menoleh.
“Bukan ilo, Sekar.”
“Iloo!” ulang Sekar dengan lebih semangat.
“Itu truk.”
“Iloo!”
Farah menghela napas panjang seperti guru kecil yang sedang menghadapi murid keras kepala.
“No, no, no. Itu bukan ilo. Itu truk.”
Sekar menatap kakaknya beberapa detik, lalu kembali menunjuk ke luar jendela.
“Iloo!”
Laras hanya tersenyum melihat tingkah putri bungsunya itu sambil merapikan rambut halus yang menutupi dahi Sekar.
“Emang ilo itu truk ya, Ma?” tanya Satria heran sambil melirik lewat kaca spion.
“Iya, Mas,” jawab Laras sambil terkekeh. “Awalnya Mama juga bingung. Tiap lihat truk, dia pasti teriak ilo, ilo.”
Satria tertawa kecil.
“Oalah… truk toh.”
“Iya. Sampai sekarang nggak mau dibenerin.”
Farah yang merasa tugasnya belum selesai kembali mencondongkan tubuh ke arah adiknya.
“Dengar ya, Dek. Truuuk.”
“Iloo.”
“Truuuk.”
“Iloo.”
“Truuuuk.”
“Ilooo.”
Farah akhirnya menjatuhkan punggungnya ke kursi dengan wajah pasrah.
“Tuh kan, Ma. Adek nggak mau ubah.”
Raka yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa menahan tawa.
Mobil terus melaju. Raka duduk di kursi sebelah kanan dengan sabuk pengaman melintang rapi di dadanya. Di kursi tengah, Farah sedang memangku Ami, boneka kesayangan Sekar yang entah sejak kapan berpindah ke tangannya, sementara Sekar sendiri sudah kembali bersandar di dada Mama, memainkan ujung kerudung Laras sambil mengoceh pelan dengan bahasa yang hanya ia pahami sendiri.
“Ami sekarang punya aku ya,” kata Farah sambil memeluk boneka itu.
“Jangan lama-lama ya, Kak,” sahut Laras dari kursi depan. “Nanti adek cari.”
Farah mengangguk cepat.
“Sebentar aja kok, Ma. Boleh kan, Dek Sekar?”
Seolah mengerti namanya disebut, Sekar langsung mengangkat tangan ke arah boneka itu.
“Amiii…”
“Pinjam bentar ya, Dek,” kata Farah sambil tersenyum.
Sekar tampak berpikir beberapa detik, tetapi setelah itu ia kembali sibuk memainkan ujung kerudung Mamanya.
Satria melirik lagi ke kaca spion.
“Raka kok diam aja?”
Raka mengangkat bahu kecil.
“Lagi lihat-lihat aja, Pa.”
“Lihat apa?”
Raka menoleh ke luar jendela.
“Sawah.”
Satria tersenyum kecil, tetapi belum sempat menggoda lebih jauh, Laras tiba-tiba memicingkan mata ke arah depan.
“Mas, itu spanduk apa?”
Satria memperlambat laju mobil sedikit.
“Mana?”
“Itu, yang warna-warni.”
Farah langsung mencondongkan tubuh ke depan sampai hampir menyentuh sandaran kursi.
“Mana, Ma? Mana?”
Laras memicingkan mata ke arah spanduk warna-warni yang masih agak jauh di depan mereka.
“Itu, Kak. Fes…ti…val… la…yang-la…yang… inter…na…sio…nal.”
Ia membacanya pelan-pelan karena tulisan di spanduk itu belum terlihat jelas.
Farah mengernyit.
“Itu apa?”
“Itu lomba layang-layang, Dek,” jawab Raka.
“Layang-layang gede?”
“Ada yang gede, ada yang kecil. Macam-macam,” sahut Satria dari kursi depan.
“Tuh, yang paus itu gede kan?”
Farah langsung mendongak lagi ke arah spanduk. Matanya yang bulat membesar.
“Waaah…”
Tak lama kemudian, mobil melewati sebuah spanduk raksasa yang membentang dari satu tiang ke tiang lainnya. Kainnya bergoyang pelan diterpa angin, sementara tulisan besar berwarna merah, kuning, dan biru memenuhi hampir seluruh permukaannya.
FESTIVAL LAYANG-LAYANG INTERNASIONAL — HARI INI
Di sisi kanan dan kirinya terdapat gambar layang-layang raksasa dengan berbagai bentuk. Ada naga merah panjang yang tubuhnya melingkar di udara, kapal layar dengan tiang tinggi, dan seekor paus biru besar yang tampak seperti sedang berenang di langit.
“Mas Raka, lihat! Pausnya gede banget!”
Raka ikut mendongak.
“Wah, kayaknya seru juga. Pesertanya dari luar negeri ada juga ternyata.”
Farah langsung menepuk lengan kakaknya.
“Mas Raka bisa nerbangin layang-layang nggak?”
Raka menggeleng.
“Nggak bisa, Dek.”
Farah langsung menoleh ke depan.
“Papa bisa?”
“Bisa dong.”
Mata Farah langsung berbinar.
“Farah mau!”
“Kita cari dulu layang-layangnya nanti ya.”
“Oke!”
“Aku mau layang-layang Tom & Jerry ya, Pa.”
“Siap!” jawab Satria sambil mengangguk mantap.
Farah langsung tersenyum puas.
Raka kembali menoleh ke luar jendela. Pemandangan sawah perlahan mulai berganti dengan jalan-jalan yang semakin ramai oleh kendaraan menuju pantai. Sesekali embusan angin yang masuk dari ventilasi mobil membawa aroma asin yang sangat tipis.
Ia menarik napas pelan.
Laut sepertinya sudah tidak terlalu jauh lagi.
***
Begitu turun dari mobil, angin laut langsung menyambut wajah Raka. Embusannya cukup kencang sampai membuat kausnya berkibar, tetapi tidak sampai membuat orang kesulitan berjalan. Di kejauhan, ombak bergulung silih berganti menuju pantai, memecah menjadi garis-garis putih sebelum kembali ditarik laut.
Suasana pantai jauh lebih ramai daripada biasanya. Di berbagai sudut, orang-orang sedang menyiapkan layang-layang berukuran besar. Ada yang membentangkan kain panjang di atas pasir, ada yang memeriksa tali, dan ada pula yang sibuk berdiskusi sambil menunjuk ke arah langit.
Raka sedang memperhatikan keramaian itu ketika matanya menangkap sosok seorang lelaki tua yang berdiri sendirian tidak jauh dari garis pantai.
Lelaki itu mengenakan kaus lengan panjang dan sarung. Angin membuat ujung pakaiannya berkibar pelan. Dari tempat Raka berdiri, ia tampak seperti orang biasa yang sedang menghadap laut sambil berdoa. Kedua tangannya terangkat setinggi dada, sementara bibirnya bergerak pelan meski suaranya tenggelam oleh debur ombak.
Raka sempat mengalihkan pandangan.
Namun entah kenapa matanya kembali tertarik ke arah lelaki itu.
Saat itulah ia melihat sesuatu yang membuat tubuhnya membeku.
Udara di sekitar lelaki tua itu tampak beriak samar, tipis sekali, nyaris tidak terlihat. Dari kedua tangannya muncul garis-garis keperakan yang melayang mengikuti angin seperti benang halus yang sangat panjang. Benang-benang itu bergerak menjauh ke arah laut, membentang sampai ke kejauhan sebelum perlahan menghilang di balik cakrawala.
Raka mengedip cepat.
Seketika semuanya lenyap.
Tidak ada benang.
Tidak ada cahaya.
Hanya seorang lelaki tua yang masih berdiri menghadap laut seperti sebelumnya.
Raka berdiri diam beberapa saat. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ada keinginan untuk memanggil Papa dan menunjukkan apa yang baru saja dilihatnya, tetapi niat itu urung ia lakukan karena ia sudah cukup sering melihat hal-hal aneh yang tidak pernah dilihat orang lain.
Di belakangnya, Papa sedang mengeluarkan barang dari bagasi. Mama menggendong Sekar yang masih setengah mengantuk. Farah bahkan sudah berlari lebih dulu ke pasir sambil berteriak kegirangan.
Raka kembali menoleh ke arah langit.
Ratusan layang-layang sudah memenuhi udara di atas pantai. Dari kejauhan, pemandangan itu terlihat indah. Warna-warni kain bergerak mengikuti arah angin. Naga, burung, kapal, dan paus raksasa bergelantungan di langit biru seperti makhluk-makhluk aneh yang sedang bermain.
Namun ketika pandangannya tanpa sengaja kembali berubah seperti tadi, langit itu tidak lagi terlihat benar-benar kosong.
Sesekali ia melihat garis-garis tipis mengikuti gerakan beberapa layang-layang. Kadang garis itu muncul hanya sepersekian detik sebelum menghilang lagi. Kadang terlihat seperti bayangan yang melintas cepat di antara tali-tali yang membentang ke udara.
Setiap kali Raka mencoba fokus, semuanya kembali normal.
Ia menarik napas panjang.
Belakangan ini kejadian seperti itu semakin sering muncul. Kadang ia mendengar namanya dipanggil padahal tidak ada siapa-siapa. Kadang ada suara yang terasa seperti berbisik dari jauh, tetapi menghilang sebelum sempat ia pahami.
Namun pagi itu perasaannya berbeda.
Ia tidak takut.
Justru penasaran.
Di tengah kerumunan pengunjung festival, sesuatu berkilat sesaat. Kecil. Berwarna keemasan. Kilatan itu muncul di antara orang-orang yang berlalu-lalang, lalu menghilang lagi sebelum sempat terlihat jelas.
Raka memicingkan mata.
Dadanya mendadak berdebar.
Entah kenapa kilatan itu terasa tidak asing, seperti sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya, tetapi tidak bisa ia ingat.
“Bagaimana, Ka? Ramai banget ya?”
Suara Papa membuatnya menoleh.
Satria berdiri di sampingnya sambil menyodorkan sebuah tas.
“Bantu Papa bawa ini dulu. Kita cari tempat yang enak.”
Raka mengangguk dan mengambil tas itu.
Pasir hangat langsung terasa di bawah sandal jepitnya ketika mereka mulai berjalan menjauhi area parkir. Ia mengikuti keluarganya menuju keramaian festival, tetapi beberapa kali kepalanya masih menoleh ke belakang.
Ke arah langit.
Ke arah laut.
Dan ke arah tempat kilatan emas itu sempat muncul.
Karena meski belum tahu apa yang sebenarnya ia lihat, Raka mulai merasa bahwa hari itu akan membawa sesuatu yang tidak biasa.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 9 – Parangtritis
Sorry, comment are closed for this post.