Malam semakin larut ketika mobil yang ditumpangi Raka dan keluarganya memasuki area Bandara Internasional Yogyakarta. Dari kejauhan bangunan terminal sudah terlihat terang benderang, berdiri megah di tengah gelapnya malam seperti kota kecil yang tidak pernah benar-benar tidur.
Begitu masuk ke hall kedatangan, suara dan cahaya langsung menyambut mereka dari segala arah. Roda koper beradu dengan lantai marmer yang mengilap, langkah kaki orang-orang terdengar saling bersahutan, sementara suara pengumuman dari pengeras suara terus bergema di langit-langit bandara, bercampur dengan tawa, sapaan, dan percakapan para penumpang yang baru tiba.
Raka langsung merapat ke sisi Mamanya dan menggenggam tangannya erat. Bukan karena takut. Ia memang selalu begitu setiap kali berada di tempat yang terlalu ramai.
Di depan mereka, Farah berjalan sambil melompat dari satu ubin ke ubin lain, sibuk menghitung jumlah kotak lantai yang berhasil diinjaknya tanpa menyentuh garis. Di belakang, Heny, kakak sepupunya, mendorong stroller Sekar yang sejak tadi memandangi lampu-lampu bandara dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.
Raka sesekali mendongak ke layar besar yang tergantung di atas area kedatangan.
Kata mama, pesawat papa sudah mendarat. Artinya Papa bisa muncul kapan saja.
Memikirkan hal itu membuat perutnya terasa aneh. Rasanya mirip ketika antre naik seluncuran paling tinggi di taman bermain. Senang, tapi sekaligus membuat jantung berdebar tanpa alasan yang jelas.
Pintu kaca otomatis terus terbuka dan tertutup. Orang-orang keluar bergelombang. Ada yang langsung disambut pelukan keluarganya. Ada yang berjalan tergesa sambil menempelkan ponsel ke telinga. Ada pula yang menyeret koper dengan wajah lelah setelah perjalanan panjang.
Raka sampai berjinjit beberapa kali untuk mencoba melihat lebih jauh ke dalam. Namun Papa belum terlihat.
Saat itulah tawa kecil Sekar tiba-tiba terdengar dari dalam stroller. Sekar terkekeh pelan, lalu menepuk-nepuk sandaran kursinya dengan gembira seperti melihat sesuatu yang sangat menarik.
Raka spontan menoleh mengikuti arah pandang adiknya. Awalnya ia mengira Sekar hanya sedang memperhatikan orang lewat. Namun beberapa detik kemudian ia ikut melihatnya.
Seorang pria separuh baya berjalan santai sambil menarik koper kecil di belakangnya. Batik yang dikenakannya masih rapi meskipun wajahnya terlihat lelah setelah penerbangan panjang.
Tidak ada yang aneh. Setidaknya bagi orang lain. Namun di mata Raka, pria itu tidak berjalan sendirian.
Di sisi kanannya, sedikit di belakang bahunya, ada sosok perempuan yang samar seperti terbentuk dari cahaya kekuningan yang sangat tipis. Wujudnya tidak benar-benar jelas. Terkadang terlihat seperti manusia, lalu beberapa saat kemudian menyerupai cahaya samar yang bergerak perlahan mengikuti langkah pria itu.
Raka tidak bisa melihat wajahnya. Setiap kali mencoba fokus, bentuknya selalu seperti larut dalam cahaya.
Anehnya, melihat sosok itu tidak membuatnya takut. Justru sebaliknya. Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan. Perasaan yang mengingatkannya pada saat Mama duduk di samping tempat tidurnya ketika ia demam dan tidak bisa tidur semalaman.
Sosok perempuan itu perlahan menoleh. Bukan ke pria yang didampinginya. Melainkan ke arah Sekar.
Sekar langsung tertawa lebih keras. Kakinya menendang-nendang kecil dengan riang.
Raka menahan napas. Ia tahu apa yang sedang dilihatnya bukan sesuatu yang bisa dilihat semua orang.
Selama ini ia beberapa kali melihat cahaya atau bayangan aneh di tempat-tempat tertentu, tetapi tidak pernah sejelas ini. Tidak pernah sedekat ini.
Beberapa detik kemudian sosok perempuan itu kembali menoleh.
Kali ini ia menoleh ke arah Raka. Meski wajahnya tetap tidak terlihat jelas, Raka merasakan sesuatu yang membuat dadanya menghangat. Seolah ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Menjaganya.
Lalu, perlahan, cahaya itu memudar. Larut ke dalam keramaian. Menghilang begitu saja di antara lalu-lalang manusia yang tidak menyadari keberadaannya.
“Sekar ketawa sama siapa, ya?” gumam Heny. Keningnya mengernyit heran.
Raka tidak menjawab. Tangannya justru menggenggam tangan Mamanya sedikit lebih erat.
Pintu kedatangan kembali terbuka. Gelombang penumpang berikutnya keluar.
Dan kali ini Raka melihat sosok yang sejak tadi ditunggunya. Papa berjalan keluar dari pintu dengan jaket hitam favoritnya. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya terlihat lelah, tetapi senyumnya langsung muncul begitu melihat keluarganya berdiri menunggu.
Papa mengangkat tangan tinggi-tinggi.
“Itu Papa!” teriak Farah lebih dulu.
Belum selesai Farah berbicara, Raka sudah melepaskan tangan Mamanya dan berlari. Hampir saja ia menabrak koper milik orang lain di tengah jalan.
“Papaaa!”
Satria langsung berjongkok dan membuka kedua tangannya. Beberapa detik kemudian tubuh Raka menabrak pelukan itu dengan keras. Semua rasa tegang yang sejak tadi memenuhi dadanya langsung runtuh begitu saja.
Ia memeluk erat. Mencium aroma jaket yang bercampur dengan bau perjalanan panjang, pendingin ruangan pesawat, dan sedikit keringat. Aroma yang bagi orang lain mungkin biasa saja. Namun bagi Raka terasa seperti rumah.
“Udah lama nunggunya? Papa kangen lho.” bisik Satria sambil mengusap belakang kepala anaknya.
Raka hanya mengangguk tanpa melepaskan pelukan. Farah segera ikut bergabung dan memeluk lengan Papanya.
“Aku juga kangen!”
Satria tertawa.
“Papa kangen semuanya.”
Heny mendorong stroller lebih dekat. Sekar langsung mengulurkan kedua tangannya sambil mengoceh tidak jelas.
Satria membungkuk.
“Halo… anak kecil Papa sekarang sudah tambah gede ya?”
Sekar langsung tersenyum lebar seolah mengenali suara itu.
Heny kemudian menjabat tangan dan mencium tangan adik mamanya itu.
“Sehat Om?”
“Alhamdulillah…gimana kabar papa mama?”
“Alhamdulillah sehat semua, Om”
“Makasih ya, uda bantuin tante Laras”
“Sama-sama om”
Laras yang sejak tadi berdiri di belakang akhirnya mendekat. Satria mengecup kening istrinya sebentar sebelum kembali menatap Raka yang sampai sekarang masih menggenggam tangannya.
“Siap pulang?”
Raka mengangguk cepat. Namun tangannya tetap tidak mau lepas. Seolah takut jarak itu kembali muncul.
Mereka pun berjalan bersama menuju pintu keluar. Saat melewati area tempat sosok perempuan bercahaya tadi berdiri, Raka sempat menoleh sekilas.
Tidak ada siapa-siapa. Hanya orang-orang yang lalu lalang.
Koper yang terus bergerak. Dan suara pengumuman bandara yang bergema dari kejauhan.
Raka menggenggam tangan Papanya lebih erat. Satria menoleh lalu mengacak rambutnya pelan. Dan untuk sesaat semuanya terasa lengkap.
Raka tidak tahu siapa sosok perempuan itu.
Ia juga tidak mengerti kenapa hanya dirinya dan Sekar yang melihatnya.
Tapi sejak malam itu, ia mulai sadar bahwa tidak semua makhluk yang tidak terlihat itu menakutkan dan jahat.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 7 – Bandara Internasional Yogyakarta
Sorry, comment are closed for this post.