Keesokan paginya, langit Jogja tampak biru pucat dengan awan tipis yang bergerak pelan, sementara udara pagi masih terasa sejuk ketika mobil keluarga itu keluar dari halaman rumah dan melewati deretan rumah tetangga yang mulai hidup oleh aktivitas kecil; ada yang menyapu halaman, ada yang menyiram tanaman, dan ada pula yang berdiri di depan pagar sambil menikmati sisa dingin pagi.
Raka duduk di kursi tengah, tepat di samping Farah, dengan sabuk pengaman yang sudah terpasang rapi di tubuhnya. Di bagian belakang mobil, stroller Sekar sudah dilipat dan diletakkan bersama beberapa tas kecil berisi baju ganti, sementara Sekar sendiri tertidur miring di pangkuan Mama, jari mungilnya masih menggenggam ujung selimut tipis.
“Jadi kita ke pantai mana, Mas?” tanya Laras sambil melirik ke arah Satria yang sedang fokus menyetir.
“Ke Slili, ya,” jawab Satria. “Pantai kecil di Gunungkidul. Pasirnya halus, tempatnya enak, jalannya juga lumayan gampang.”
“Pantai Sliiiliii…” Farah mengulang nama itu sambil terkikik. “Namanya lucu.”
Raka hanya tersenyum kecil sambil memandang ke luar jendela. Ia belum pernah ke Pantai Slili, bahkan belum bisa membayangkan seperti apa bentuk tempatnya, tetapi setiap kali mendengar kata pantai, yang pertama kali muncul di kepalanya adalah suara ombak yang datang berulang-ulang, lalu pecah di pasir seperti tepuk tangan yang tidak pernah berhenti.
Mobil melaju ke jalan yang lebih besar, kemudian masuk ke Ring Road. Satria mengambil arah timur, menuju jalan panjang ke Wonosari, sementara obrolan kecil mulai mengalir di dalam mobil. Radio menyala pelan, Farah sesekali bertanya ini dan itu, Laras menjawab sambil membetulkan posisi Sekar di pangkuannya, dan Raka mulai merasa matanya berat karena goyangan mobil yang stabil membuat tubuhnya semakin nyaman.
Namun baru beberapa menit ia hampir terlelap, suara penyiar radio tiba-tiba terdengar lebih jelas.
“…pemberitahuan untuk wisatawan yang hendak menuju beberapa pantai di kawasan Gunungkidul. Sejumlah pantai kecil, termasuk Pantai Slili, untuk sementara ditutup karena gelombang tinggi dan angin kencang. Pengunjung diimbau memilih pantai lain atau menunggu sampai kondisi dinyatakan aman.”
Satria dan Laras saling pandang.
“Slili ditutup?” tanya Laras pelan.
Satria menghela napas pendek. “Padahal tadi malam sudah janji ke anak-anak.”
Belum sempat ia melanjutkan, ponselnya bergetar di tempat penyimpanan kecil dekat tuas persneling. Nama Mas Jono, temannya di tim SAR, muncul di layar. Satria segera mengangkat panggilan itu dan menyalakan pengeras suara kecil agar Laras juga bisa mendengar.
“Halo, Mas.”
“Sat, kamu jadi ke Slili hari ini?” suara di seberang terdengar tegas. “Kalau rencananya ke arah Slili dan sekitarnya, mending jangan dulu. Ombak lagi jelek. Tadi pagi ada pengunjung hampir keseret arus.”
Satria memijit keningnya pelan. “Iya, Mas. Kami baru dengar juga dari radio.”
“Kalau cuma mau ngajak anak-anak main pasir, cari pantai yang lebih gampang dipantau saja. Bawa bocah-bocah, kan?”
“Iya, Mas. Siap. Makasih sudah ngabarin.”
Telepon ditutup, tetapi beberapa detik setelah itu suasana di dalam mobil terasa lebih pelan. Farah yang sejak tadi semangat langsung menoleh dari kursinya.
“Berarti nggak jadi ke Pantai Slili?”
Satria diam sebentar, lalu tersenyum tipis lewat kaca spion. “Kita tetap ke pantai, cuma ganti tempat.”
“Ke mana?” tanya Laras.
Satria memutar setir perlahan, mengambil jalur menuju Ring Road Selatan. “Yang lebih gampang dijangkau dan lebih ramai petugasnya. Parangtritis, mungkin.”
“Paaaraangtritiiiis!” seru Farah, semangatnya langsung kembali seolah nama pantai itu jauh lebih menyenangkan daripada Slili.
Raka menatap ke depan. Beberapa menit kemudian, sebuah papan penunjuk jalan muncul di sisi jalan, dan di antara tulisan lain yang bergerak cepat melewati pandangannya, ia sempat membaca satu nama yang sudah sering ia dengar.
Parangtritis.
Saat mobil melewati papan itu, Raka melihat kilatan kecil berwarna kekuningan di ujungnya. Sangat singkat, seperti ada cahaya yang menyentuh pinggir papan lalu menghilang sebelum ia sempat benar-benar memastikannya.
Raka menggenggam celana pendeknya pelan.
Dadanya terasa aneh, bukan seperti takut, tetapi seperti saat seseorang memanggil namanya dari jauh dan ia belum tahu dari mana asal suara itu.
“Gimana, Ka?” suara Papa membuyarkan lamunannya. “Setuju ke Pantai Parangtritis?”
Raka menoleh sebentar ke arah Papa, lalu kembali memandang jalan yang membentang lurus ke selatan.
“Iya, Pa,” jawabnya pelan. “Ke Parangtritis aja.”
Mobil terus melaju. Angin yang masuk dari sela jendela terasa sedikit berbeda, lebih lembap dan seperti membawa bau asin yang sangat tipis, padahal laut masih jauh di depan sana.
Pada waktu yang hampir bersamaan, di dekat kawasan pantai yang sama, Bayu sedang berdiri di depan sebuah warung kecil sambil memilih ember dan sekop plastik warna-warni. Ia mengambil yang merah, lalu menggantinya dengan yang biru, kemudian menimbang-nimbang yang kuning karena menurutnya warna itu paling cerah untuk dibuat istana pasir.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa jauh di jalan menuju laut, ada sebuah mobil yang sedang melaju ke arah pantai itu juga.
Di dalam mobil itu, ada seorang anak bernama Raka.
Mereka belum saling mengenal.
Belum pernah bertemu.
Namun pagi itu, tanpa mereka sadari, langkah kecil mereka mulai bergerak menuju tempat yang sama.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 8 – Liburan ke Pantai
Sorry, comment are closed for this post.