KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 4 — Galang dan Kamar yang Tertutup

    Bab 4 — Galang dan Kamar yang Tertutup

    BY 18 Okt 2026 Dilihat: 16 kali
    Galang dan Kamar yang Tertutup_alineaku

    Galang menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar.

    Kamar itu tidak besar. Hanya cukup untuk sebuah tempat tidur, lemari kecil, meja komputer, dan beberapa tumpukan buku serta majalah desain yang sudah lama tidak dibuka. Di dinding terpasang beberapa poster film dan karya desain grafis yang pernah ia cetak sendiri.

    Cahaya dari layar komputer menjadi satu-satunya penerangan di siang hari. Galang jarang membuka jendela. Ia merasa lebih nyaman dalam ruangan yang redup.

    Di layar, terbuka beberapa tab: tutorial desain, forum diskusi multimedia, dan portofolio desainer terkenal. Galang sering menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melihat karya orang lain, membandingkannya dengan miliknya, lalu merasa tidak cukup baik.

    Ia pernah mencoba mengirimkan lamaran pekerjaan ke beberapa tempat. Namun tidak ada yang merespons. Beberapa kali ia mendapat panggilan wawancara, tetapi selalu gagal di tahap akhir.

    “Pengalaman kerja Anda masih kurang.”

    “Kami mencari kandidat yang sudah siap terjun langsung.”

    “Portofolio Anda bagus, tetapi kami butuh seseorang dengan latar belakang pendidikan yang lebih tinggi.”

    Kalimat-kalimat itu terus berputar di kepalanya.

    Galang tahu ia memiliki kemampuan. Ia bisa membuat desain poster, mengedit video, bahkan membuat animasi sederhana. Namun di dunia kerja, kemampuan saja tidak cukup. Orang membutuhkan ijazah, pengalaman, dan kepercayaan diri yang tidak dimiliki Galang.

    Ketika pandemi datang, segalanya menjadi lebih buruk.

    Rencana kuliah yang sudah ia susun bersama orang tua terpaksa ditunda. Kampus tutup. Pembelajaran daring dimulai. Galang melihat teman-temannya berjuang mengikuti kuliah online sambil mengeluh tentang sinyal internet dan tugas yang menumpuk.

    Ia juga melihat orang-orang kehilangan pekerjaan. Toko tutup. Usaha bangkrut. Keluarga kesulitan. Bahkan mereka yang sudah sarjana pun harus kembali ke rumah orang tua karena tidak mampu bertahan sendiri.

    Galang mulai bertanya: untuk apa kuliah jika hasilnya tidak pasti?

    Ia tidak pernah mengungkapkan pertanyaan itu kepada siapa pun. Namun pertanyaan tersebut terus menghantuinya.

    Suara ketukan di pintu membuatnya menoleh.

    “Galang,” panggil Ratri dari luar.

    “Iya, Bu.”

    “Sudah makan?”

    “Belum.”

    “Keluar sebentar. Ibu sudah masak.”

    Galang menatap layar komputer. Ia sedang menyelesaikan desain untuk teman sekolahnya. Desain undangan pernikahan sederhana dengan warna pastel dan ornamen bunga.

    “Sebentar lagi, Bu.”

    “Jangan lama-lama. Nanti dingin.”

    Galang mendengar langkah kaki ibunya menjauh.

    Ia kembali fokus pada layar. Tangannya bergerak cepat di atas tetikus, mengatur posisi teks, menyesuaikan warna, dan menambahkan detail kecil yang mungkin tidak akan diperhatikan orang lain.

    Bagi Galang, desain bukan sekadar pekerjaan. Desain adalah cara ia berbicara ketika kata-kata tidak cukup.

    Namun masalahnya, tidak banyak orang yang mau mendengar.

    Setelah selesai, Galang menyimpan file dan mengirimkannya melalui aplikasi pesan. Ia tidak meminta bayaran. Temannya hanya berjanji akan memberinya “sesuatu” nanti.

    Galang tahu itu artinya tidak ada bayaran.

    Namun ia tetap mengerjakannya. Setidaknya ada orang yang melihat karyanya. Setidaknya ada yang mengatakan “bagus” atau “terima kasih”.

    Itu sudah cukup. Untuk sementara.

    Galang keluar dari kamar. Di ruang makan, Ratri sudah menyiapkan nasi, sayur asem, dan ikan goreng. Digantara belum pulang. Senja dan Bima sudah kembali ke rumah mereka.

    “Duduk,” kata Ratri.

    Galang duduk di kursi yang biasa ia tempati. Ia mengambil nasi dan lauk tanpa banyak bicara.

    Ratri memperhatikannya.

    “Kamu kelihatan capek.”

    “Biasa.”

    “Capek kenapa? Kan tidak kemana-mana.”

    Galang tidak menjawab.

    Ratri menghela napas.

    “Ibu tidak bermaksud menyindir.”

    “Tahu.”

    “Ibu hanya khawatir.”

    Galang mengunyah perlahan. Ia tahu ibunya khawatir. Ia juga tahu ayahnya kecewa. Namun ia tidak tahu harus berbuat apa.

    “Galang,” kata Ratri pelan.

    “Iya?”

    “Kamu tidak sendirian.”

    Galang menghentikan gerakan tangannya.

    “Maksud Ibu?”

    “Maksud Ibu, kalau kamu punya masalah, cerita saja. Jangan disimpan sendiri.”

    Galang menatap piring di depannya.

    “Ibu tidak akan mengerti.”

    “Coba saja dulu.”

    Galang terdiam cukup lama.

    “Ibu pernah merasa tidak berguna?” tanyanya tiba-tiba.

    Ratri terkejut.

    “Kenapa tanya begitu?”

    “Karena itu yang saya rasakan setiap hari.”

    Ratri menatap anaknya dengan hati yang sesak.

    “Kamu tidak tidak berguna.”

    “Saya sudah lulus dua tahun, Bu. Tidak kuliah. Tidak kerja. Hanya duduk di kamar.”

    “Kamu sedang mencari jalan.”

    “Mencari jalan atau lari dari kenyataan?”

    Ratri tidak bisa menjawab.

    Galang melanjutkan makan. Namun makanan di mulutnya terasa hambar.

    “Ayah pasti kecewa,” katanya lagi.

    “Ayahmu tidak kecewa. Dia hanya tidak tahu cara mengungkapkannya.”

    “Setiap kali dia melihat saya, matanya seperti bertanya: kapan kamu akan berhenti jadi beban?”

    “Galang—”

    “Saya tahu, Bu. Saya merasakan itu.”

    Ratri bangkit dari kursi dan duduk di samping Galang. Ia memegang tangan anaknya.

    “Dengar,” katanya. “Ayahmu memang keras. Tapi dia tidak pernah menganggapmu beban. Dia hanya takut kamu tidak punya masa depan.”

    “Masa depan seperti apa? Jadi PNS seperti dia? Bekerja puluhan tahun dengan gaji pas-pasan?”

    Ratri menatap Galang dengan tajam.

    “Gaji pas-pasan itu yang membesarkanmu.”

    Galang langsung menyesal.

    “Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud—”

    “Saya tahu kamu tidak bermaksud. Tapi kamu harus tahu, ayahmu bekerja keras supaya kamu bisa sekolah. Supaya kamu punya pilihan yang dia tidak punya dulu.”

    Galang menunduk.

    “Justru itu masalahnya, Bu. Saya punya pilihan, tapi saya tidak tahu harus memilih yang mana.”

    Ratri mengusap punggung tangan Galang.

    “Tidak apa-apa tidak tahu. Yang penting jangan berhenti mencoba.”

    “Saya sudah mencoba.”

    “Coba lagi.”

    “Sampai kapan?”

    “Sampai berhasil.”

    Galang tersenyum pahit.

    “Ibu selalu optimis.”

    “Karena Ibu percaya sama kamu.”

    Kalimat itu membuat Galang terdiam.

    Ia ingin percaya pada dirinya sendiri. Namun setiap kali ia mencoba, selalu ada suara di kepalanya yang mengatakan ia tidak cukup baik.

    Tidak cukup pintar.

    Tidak cukup berpengalaman.

    Tidak cukup berani.

    Suara pintu terbuka. Digantara pulang dengan wajah lelah. Ia meletakkan tas kerja di sofa, lalu mencuci tangan.

    “Sudah makan?” tanya Ratri.

    “Belum.”

    Ratri segera menyiapkan piring untuk Digantara. Galang bersiap kembali ke kamar.

    “Galang,” panggil Digantara.

    Galang berhenti.

    “Iya, Yah?”

    “Tadi ada yang telepon. Katanya kamu pernah kirim lamaran ke percetakan.”

    Galang mengerutkan kening.

    “Percetakan mana?”

    “Percetakan Bu Mirah. Dekat pasar.”

    Galang teringat. Beberapa bulan lalu ia memang mengirim lamaran ke sana. Namun tidak ada kabar, jadi ia pikir lamarannya ditolak.

    “Mereka telepon untuk apa?”

    “Minta kamu datang besok.”

    Galang terdiam.

    “Untuk wawancara?”

    “Entahlah. Yang jelas mereka minta kamu datang.”

    Galang merasakan jantungnya berdebar.

    “Jam berapa?”

    “Pagi. Jam sembilan.”

    Digantara duduk di meja makan dan mulai makan. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

    Galang berdiri di ambang pintu kamarnya. Ia ingin bertanya lebih banyak, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.

    “Yah,” katanya pelan.

    Digantara menoleh.

    “Apa?”

    “Terima kasih sudah menerima teleponnya.”

    Digantara menatap anaknya cukup lama.

    “Itu tugasku.”

    Galang mengangguk, lalu masuk ke kamar.

    Ia menutup pintu dan bersandar di dinding. Tangannya bergetar. Ia tidak tahu apakah itu karena gugup atau senang.

    Mungkin keduanya.

    Di luar, Ratri berbisik kepada Digantara.

    “Kamu lihat wajahnya? Dia senang.”

    Digantara tidak menjawab. Ia hanya terus makan.

    Namun di dalam hatinya, ia berharap Galang benar-benar datang besok.

    Ia berharap anaknya tidak lagi takut melangkah.

     

     

    Kreator : Sukirno (Kirno Nugraha)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 4 — Galang dan Kamar yang Tertutup

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021