Galang menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar.
Kamar itu tidak besar. Hanya cukup untuk sebuah tempat tidur, lemari kecil, meja komputer, dan beberapa tumpukan buku serta majalah desain yang sudah lama tidak dibuka. Di dinding terpasang beberapa poster film dan karya desain grafis yang pernah ia cetak sendiri.
Cahaya dari layar komputer menjadi satu-satunya penerangan di siang hari. Galang jarang membuka jendela. Ia merasa lebih nyaman dalam ruangan yang redup.
Di layar, terbuka beberapa tab: tutorial desain, forum diskusi multimedia, dan portofolio desainer terkenal. Galang sering menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melihat karya orang lain, membandingkannya dengan miliknya, lalu merasa tidak cukup baik.
Ia pernah mencoba mengirimkan lamaran pekerjaan ke beberapa tempat. Namun tidak ada yang merespons. Beberapa kali ia mendapat panggilan wawancara, tetapi selalu gagal di tahap akhir.
“Pengalaman kerja Anda masih kurang.”
“Kami mencari kandidat yang sudah siap terjun langsung.”
“Portofolio Anda bagus, tetapi kami butuh seseorang dengan latar belakang pendidikan yang lebih tinggi.”
Kalimat-kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Galang tahu ia memiliki kemampuan. Ia bisa membuat desain poster, mengedit video, bahkan membuat animasi sederhana. Namun di dunia kerja, kemampuan saja tidak cukup. Orang membutuhkan ijazah, pengalaman, dan kepercayaan diri yang tidak dimiliki Galang.
Ketika pandemi datang, segalanya menjadi lebih buruk.
Rencana kuliah yang sudah ia susun bersama orang tua terpaksa ditunda. Kampus tutup. Pembelajaran daring dimulai. Galang melihat teman-temannya berjuang mengikuti kuliah online sambil mengeluh tentang sinyal internet dan tugas yang menumpuk.
Ia juga melihat orang-orang kehilangan pekerjaan. Toko tutup. Usaha bangkrut. Keluarga kesulitan. Bahkan mereka yang sudah sarjana pun harus kembali ke rumah orang tua karena tidak mampu bertahan sendiri.
Galang mulai bertanya: untuk apa kuliah jika hasilnya tidak pasti?
Ia tidak pernah mengungkapkan pertanyaan itu kepada siapa pun. Namun pertanyaan tersebut terus menghantuinya.
Suara ketukan di pintu membuatnya menoleh.
“Galang,” panggil Ratri dari luar.
“Iya, Bu.”
“Sudah makan?”
“Belum.”
“Keluar sebentar. Ibu sudah masak.”
Galang menatap layar komputer. Ia sedang menyelesaikan desain untuk teman sekolahnya. Desain undangan pernikahan sederhana dengan warna pastel dan ornamen bunga.
“Sebentar lagi, Bu.”
“Jangan lama-lama. Nanti dingin.”
Galang mendengar langkah kaki ibunya menjauh.
Ia kembali fokus pada layar. Tangannya bergerak cepat di atas tetikus, mengatur posisi teks, menyesuaikan warna, dan menambahkan detail kecil yang mungkin tidak akan diperhatikan orang lain.
Bagi Galang, desain bukan sekadar pekerjaan. Desain adalah cara ia berbicara ketika kata-kata tidak cukup.
Namun masalahnya, tidak banyak orang yang mau mendengar.
Setelah selesai, Galang menyimpan file dan mengirimkannya melalui aplikasi pesan. Ia tidak meminta bayaran. Temannya hanya berjanji akan memberinya “sesuatu” nanti.
Galang tahu itu artinya tidak ada bayaran.
Namun ia tetap mengerjakannya. Setidaknya ada orang yang melihat karyanya. Setidaknya ada yang mengatakan “bagus” atau “terima kasih”.
Itu sudah cukup. Untuk sementara.
Galang keluar dari kamar. Di ruang makan, Ratri sudah menyiapkan nasi, sayur asem, dan ikan goreng. Digantara belum pulang. Senja dan Bima sudah kembali ke rumah mereka.
“Duduk,” kata Ratri.
Galang duduk di kursi yang biasa ia tempati. Ia mengambil nasi dan lauk tanpa banyak bicara.
Ratri memperhatikannya.
“Kamu kelihatan capek.”
“Biasa.”
“Capek kenapa? Kan tidak kemana-mana.”
Galang tidak menjawab.
Ratri menghela napas.
“Ibu tidak bermaksud menyindir.”
“Tahu.”
“Ibu hanya khawatir.”
Galang mengunyah perlahan. Ia tahu ibunya khawatir. Ia juga tahu ayahnya kecewa. Namun ia tidak tahu harus berbuat apa.
“Galang,” kata Ratri pelan.
“Iya?”
“Kamu tidak sendirian.”
Galang menghentikan gerakan tangannya.
“Maksud Ibu?”
“Maksud Ibu, kalau kamu punya masalah, cerita saja. Jangan disimpan sendiri.”
Galang menatap piring di depannya.
“Ibu tidak akan mengerti.”
“Coba saja dulu.”
Galang terdiam cukup lama.
“Ibu pernah merasa tidak berguna?” tanyanya tiba-tiba.
Ratri terkejut.
“Kenapa tanya begitu?”
“Karena itu yang saya rasakan setiap hari.”
Ratri menatap anaknya dengan hati yang sesak.
“Kamu tidak tidak berguna.”
“Saya sudah lulus dua tahun, Bu. Tidak kuliah. Tidak kerja. Hanya duduk di kamar.”
“Kamu sedang mencari jalan.”
“Mencari jalan atau lari dari kenyataan?”
Ratri tidak bisa menjawab.
Galang melanjutkan makan. Namun makanan di mulutnya terasa hambar.
“Ayah pasti kecewa,” katanya lagi.
“Ayahmu tidak kecewa. Dia hanya tidak tahu cara mengungkapkannya.”
“Setiap kali dia melihat saya, matanya seperti bertanya: kapan kamu akan berhenti jadi beban?”
“Galang—”
“Saya tahu, Bu. Saya merasakan itu.”
Ratri bangkit dari kursi dan duduk di samping Galang. Ia memegang tangan anaknya.
“Dengar,” katanya. “Ayahmu memang keras. Tapi dia tidak pernah menganggapmu beban. Dia hanya takut kamu tidak punya masa depan.”
“Masa depan seperti apa? Jadi PNS seperti dia? Bekerja puluhan tahun dengan gaji pas-pasan?”
Ratri menatap Galang dengan tajam.
“Gaji pas-pasan itu yang membesarkanmu.”
Galang langsung menyesal.
“Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud—”
“Saya tahu kamu tidak bermaksud. Tapi kamu harus tahu, ayahmu bekerja keras supaya kamu bisa sekolah. Supaya kamu punya pilihan yang dia tidak punya dulu.”
Galang menunduk.
“Justru itu masalahnya, Bu. Saya punya pilihan, tapi saya tidak tahu harus memilih yang mana.”
Ratri mengusap punggung tangan Galang.
“Tidak apa-apa tidak tahu. Yang penting jangan berhenti mencoba.”
“Saya sudah mencoba.”
“Coba lagi.”
“Sampai kapan?”
“Sampai berhasil.”
Galang tersenyum pahit.
“Ibu selalu optimis.”
“Karena Ibu percaya sama kamu.”
Kalimat itu membuat Galang terdiam.
Ia ingin percaya pada dirinya sendiri. Namun setiap kali ia mencoba, selalu ada suara di kepalanya yang mengatakan ia tidak cukup baik.
Tidak cukup pintar.
Tidak cukup berpengalaman.
Tidak cukup berani.
Suara pintu terbuka. Digantara pulang dengan wajah lelah. Ia meletakkan tas kerja di sofa, lalu mencuci tangan.
“Sudah makan?” tanya Ratri.
“Belum.”
Ratri segera menyiapkan piring untuk Digantara. Galang bersiap kembali ke kamar.
“Galang,” panggil Digantara.
Galang berhenti.
“Iya, Yah?”
“Tadi ada yang telepon. Katanya kamu pernah kirim lamaran ke percetakan.”
Galang mengerutkan kening.
“Percetakan mana?”
“Percetakan Bu Mirah. Dekat pasar.”
Galang teringat. Beberapa bulan lalu ia memang mengirim lamaran ke sana. Namun tidak ada kabar, jadi ia pikir lamarannya ditolak.
“Mereka telepon untuk apa?”
“Minta kamu datang besok.”
Galang terdiam.
“Untuk wawancara?”
“Entahlah. Yang jelas mereka minta kamu datang.”
Galang merasakan jantungnya berdebar.
“Jam berapa?”
“Pagi. Jam sembilan.”
Digantara duduk di meja makan dan mulai makan. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Galang berdiri di ambang pintu kamarnya. Ia ingin bertanya lebih banyak, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
“Yah,” katanya pelan.
Digantara menoleh.
“Apa?”
“Terima kasih sudah menerima teleponnya.”
Digantara menatap anaknya cukup lama.
“Itu tugasku.”
Galang mengangguk, lalu masuk ke kamar.
Ia menutup pintu dan bersandar di dinding. Tangannya bergetar. Ia tidak tahu apakah itu karena gugup atau senang.
Mungkin keduanya.
Di luar, Ratri berbisik kepada Digantara.
“Kamu lihat wajahnya? Dia senang.”
Digantara tidak menjawab. Ia hanya terus makan.
Namun di dalam hatinya, ia berharap Galang benar-benar datang besok.
Ia berharap anaknya tidak lagi takut melangkah.
Kreator : Sukirno (Kirno Nugraha)
Comment Closed: Bab 4 — Galang dan Kamar yang Tertutup
Sorry, comment are closed for this post.