KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 4: PERTARUNGAN GERBANG

    BAB 4: PERTARUNGAN GERBANG

    BY 23 Okt 2026 Dilihat: 11 kali
    PERTARUNGAN GERBANG_alineaku

    Kabut hitam itu berteriak.

     

    Bukan suara angin. Bukan suara manusia. Tapi suara ribuan jiwa yang tenggelam, bercampur jeritan gagak dan gesekan rantai besi. Suaranya merayap masuk ke telinga, membuat gigi terasa ngilu dan bulu kuduk berdiri.

     

    Dari balik kabut pekat itu, perlahan muncul tiga sosok.

     

    Tingginya hampir dua meter. Tubuh mereka tidak padat dan utuh. Bagian dada dan perut berlubang kosong, di dalamnya hanya berputar asap hitam yang terus bergerak tak henti. Tulang rusuk dan tengkorak melayang mengambang, seolah terikat dan digantung oleh energi gelap yang tak terlihat. Di rongga mata mereka, menyala dua titik merah terang persis seperti bara api yang tak pernah padam. Di tangan masing-masing tergenggam pedang panjang — bukan dari besi yang ditempa, melainkan dibentuk dari bayangan yang memadat tajam. Ujung dan pinggirannya bergerigi tidak beraturan.

     

    Bayangan Hidup. Ciptaan murni kekuatan Lord Veykar. Prajurit abadi yang tak bisa binasa, kecuali sumber sihir yang menopangnya diputus sepenuhnya.

     

    “Formasi bertahan!” teriak Archmage Adityvar dari atas menara gerbang. Suaranya menggema ke seluruh lapangan lewat sihir pengeras suara. “Guru senior di baris paling depan! Nyalakan semua perisai rune! Murid pemanah segera naik ke menara pengawas! Murid baru mundur ke baris ketiga, lindungi diri!”

     

    Gerbang utama Dawnfell Academy terbuat dari kayu besi padat setebal tiga meter. Seluruh permukaannya diukir dengan pola rune emas kuno yang saling terhubung. Saat ini ukiran-ukiran itu sudah menyala terang, tapi cahayanya berkedip-kedip tidak stabil — persis seperti lampu minyak yang sebentar lagi kehabisan bahan bakar.

     

    Lima puluh meter di depan gerbang, berdiri satu sosok sendirian. Diam saja.

     

    Lord Veykar. Jubah hitam panjangnya menjuntai sampai menyentuh tanah, sama sekali tidak bergoyang meski angin malam bertiup sangat kencang. Topeng tulang putih yang menutupi wajahnya menghadap lurus ke arah gerbang, seolah menatap lurus ke dalam hati setiap orang yang berdiri di sana. Di tangan kanannya digenggam tongkat raksasa campuran tulang dan besi tua berkarat. Di ujung tongkat itu, berputar perlahan bola kabut hitam pekat seukuran kepalan tangan manusia.

     

    “Tim Fajar, maju ke depan!” perintah Profesor Miralune. Dia berdiri di sisi kiri gerbang utama, jubah birunya sudah sedikit robek di bagian lengan. “Kalian berdiri tepat di tengah garis pertahanan. Kalian tim yang paling kompak dan seimbang. Jangan biarkan satupun musuh berhasil melewati garis ini!”

     

    Arayan menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering seketika. Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar berdiri di hadapan bahaya nyata. Bukan boneka latihan. Bukan sasaran batu diam. Ini musuh sungguhan yang siap melukai, bahkan membunuh.

     

    Di sebelah kanannya, Rakan sudah membiarkan api keemasan menjalar dan menyala terang di kedua lengannya sampai ke siku. Wajahnya menyeringai berani, tapi matanya tajam dan penuh kesiapan.

     

    “Akhirnya datang juga,” bisiknya pelan. “Sudah bosan rasanya cuma latihan terus tiap malam.”

     

    Di sebelah kirinya, Serina menarik napas panjang dan tenang. Kalung batu bulan di lehernya memancarkan cahaya biru lembut yang perlahan makin terang. Air mulai berputar mengelilingi kedua pergelangan tangannya seperti gelang cair yang tak terputus.

     

    “Fokus saja pada tugas masing-masing,” katanya lembut namun tegas. “Ikuti arahan dan sinyal dariku.”

     

    Di belakang mereka, sepuluh guru senior dan dua puluh murid tingkat tinggi sudah bersiap lengkap — tongkat sihir terangkat, busur ditarik, dan jaring pelindung sihir sudah mulai terbentuk.

     

    Bayangan pertama tiba-tiba melesat maju.

     

    Gerakannya melampaui batas kecepatan manusia biasa. Dalam sedetik saja ia sudah menempuh jarak dua puluh meter. Pedang bayangan yang tajam diangkat tinggi, diarahkan langsung ke seorang murid pemanah berusia empat belas tahun yang berdiri gemetar memegang busur di baris pertahanan sayap kanan.

     

    “RAKAN!” teriak Serina seketika.

     

    “SIAP!”

     

    Rakan membanting kedua tangannya kuat-kuat ke tanah di depannya. “Api Matahari: Dinding Sayap Phoenix!”

     

    Tanah bergetar pelan. Dari garis api yang terbentuk di tanah, menjulur naik dinding api setinggi tiga meter yang membentang lebar. Bentuknya persis seperti sepasang sayap besar burung phoenix yang sedang terbentang lebar. Panasnya begitu hebat sampai udara di sekitarnya tampak beriak bergelombang.

     

    Bayangan itu menabrak dinding api itu dengan keras. DUAR! Tubuhnya berasap tebal dan terpental mundur sejauh lima meter. Namun seketika itu juga ia bangkit kembali berdiri tegak. Tidak ada luka yang tertinggal. Tidak ada yang rusak.

     

    “Api saja belum cukup buat mereka!” teriak Rakan sambil mundur selangkah. “Perlu es buat membekukan inti tenaga mereka dulu baru bisa hancur!”

     

    “Kerja bagus!” Serina langsung menyambung tanpa jeda. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi ke langit. “Air Bulan: Hujan Tombak Es!”

     

    Awan di atas lapangan pertahanan tiba-tiba berubah gelap seketika. Dari dalamnya turun lima batang tombak tajam yang terbuat dari es padat, sebesar dan seberat tombak sungguhan. Jatuh secepat batu yang dilempar dari langit.

     

    Dua batang tombak menghantam tepat ke bahu dan kaki bayangan kedua. Es itu langsung menyebar cepat menjalar ke seluruh tubuhnya, membekukan asap hitam yang menjadi badannya. Makhluk itu meraung panjang — suaranya tajam seperti ribuan keping kaca saling bertabrakan. Lalu tubuhnya retak perlahan dan hancur berantakan menjadi butiran debu hitam yang melayang hilang.

     

    Tinggal satu bayangan tersisa.

     

    Makhluk ketiga itu tidak bodoh. Ia melihat barisan guru-guru kuat berdiri kokoh di bagian tengah. Jadi ia berbelok arah tajam menuju sisi sayap kanan, tempat murid-murid baru yang belum berpengalaman berdiri. Sasarannya adalah seorang anak laki-laki yang masih memegang busur dengan tangan gemetar tak berhenti.

     

    “HATI-HATI!”

     

    Arayan tidak sempat berpikir panjang. Kepalanya kosong, hanya terbayang wajah anak itu jatuh terluka.

     

    Kakinya melangkah maju sendiri. Tongkat Elder Sprout di tangannya dihentakkan kuat ke tanah.

     

    “Earthdawn: Jebakan Akar!”

     

    Tanah tepat di depan anak itu meledak pelan. Empat batang akar keemasan setebal lengan orang dewasa melesat keluar seketika. Dua melilit erat kakinya. Dua lagi memegang erat lengan yang memegang pedang bayangan. Dengan satu tarikan lembut namun kuat, sosok tinggi itu ditarik jatuh dan ditahan terikat rapat di tanah — tidak dilukai, hanya dilumpuhkan sepenuhnya agar tak bisa bergerak lagi.

     

    Seluruh lapangan terdiam hening sedetik penuh.

     

    Lalu sorakan kagum meledak dari barisan guru dan murid. “Luar biasa! Pengendalian kekuatan yang sempurna!”

     

    Arayan berdiri terengah-engah. Keringat dingin membasahi seluruh punggungnya, tangannya gemetar hebat.

     

    “Aku… aku berhasil melakukannya,” bisiknya pelan pada diri sendiri, masih tidak percaya.

     

    Belum sempat rasa lega menyelinap masuk, suhu udara di seluruh lapangan tiba-tiba turun drastis hingga sepuluh derajat lebih dingin.

     

    Lord Veykar perlahan mengangkat tongkatnya tinggi ke udara.

     

    “Cukup permainan anak-anak ini,” ucapnya pelan. Suaranya rendah berat, tapi setiap orang di gerbang bisa mendengarnya dengan jelas.

     

    Dari ujung tongkatnya, es berwarna hitam pekat mulai merambat menjalar ke permukaan tanah. Es ini bukan putih bening biasa — warnanya gelap pekat seperti tinta kental, dan bergerak cepat melata persis seperti ular besar menuju bagian bawah pondasi gerbang utama.

     

    “Dia menyerang dari bawah! Dia mau merusak dasar segel pelindung gerbang!” teriak Profesor Miralune, wajahnya langsung pucat pasi. “Dia ingin meretakkan rune pelindung dari dalam tanah! Semua segera salurkan tenaga ke gerbang, sekarang juga!”

     

    Es hitam itu menghantam dasar gerbang dengan keras. DUAR!

     

    Retakan pertama muncul di ukiran emas kuno itu. Satu garis panjang.

    Retakan kedua menyusul. Dua garis silang.

    Retakan ketiga terbuka lebar. Cahaya emas rune itu berkedip lalu redup setengah terang dari semula.

     

    “Salurkan semua kekuatan kalian ke gerbang! Sekarang juga!” perintah keras Archmage Adityvar.

     

    Sepuluh guru senior langsung menancapkan tongkat sihir mereka ke tanah serentak. Cahaya emas mengalir dari tubuh mereka menyatu dan masuk ke dalam ukiran rune di gerbang. Rune itu kembali menyala terang sebentar. Tapi Lord Veykar menekan kekuatannya semakin kuat. Lapisan es hitam makin tebal, makin tinggi, makin menyebar luas.

     

    “Kekuatannya terlalu besar kalau dilawan satu-satu,” kata Serina cepat, otaknya bekerja secepat kilat menyusun rencana. “Sumber tenaganya seolah tak habis-habis. Kita harus menyerang bersama dalam satu waktu. Gabungan kekuatan ketiga elemen sekaligus.”

     

    Rakan mengangguk mantap, giginya gemeretak menahan emosi. “Gue maju duluan ke depan buat narik perhatiannya. Serina, kau kunci gerakannya pakai air dan es. Arayan, kau berikan serangan penutup dari belakang.”

     

    Mereka bertiga saling bertatapan sekilas. Tidak perlu kata-kata panjang lagi. Semuanya sudah dimengerti.

     

    Rakan berlari maju paling depan, lalu melompat tinggi melesat ke udara setinggi lima meter. “Api Matahari: Tinju Matahari Penuh!”

     

    Tangan kanannya diselimuti bola api raksasa sebesar rumah kecil. Panasnya begitu hebat sampai rumput kering di sepanjang jalurnya langsung layu dan gosong seketika. Ia menghantamkan kepalan api itu tepat ke dada Lord Veykar.

     

    Lord Veykar mengangkat tongkatnya menahan benturan itu. DUAR!

     

    Gelombang kejut benturan itu begitu kuat sampai tiga pohon besar di pinggir lapangan tumbang tercabut. Tanah di sekitar mereka retak membentuk lingkaran selebar sepuluh meter.

     

    Sebelum Lord Veykar sempat membalas serangan, Serina sudah bergerak cepat di sampingnya, luwes dan tenang seperti aliran air. “Air Bulan: Pusaran Air Langit!”

     

    Air dari udara, dari tanah lembab, dari embun di dedaunan — semuanya dikumpulkan sekaligus. Dalam dua detik terbentuk pusaran air raksasa setinggi empat meter yang berputar kencang. Air itu menghantam kaki Lord Veykar, melilit, lalu menariknya ke bawah agar tidak bisa bergerak leluasa.

     

    “SEKARANG, ARAYAN!” teriak Rakan dan Serina serentak dari dua arah berbeda.

     

    Inilah saatnya.

     

    Arayan memejamkan mata rapat. Ia mengingat kembali ajaran Profesor Miralune: Lindungi. Bukan hancurkan.

     

    Ia membayangkan wajah ibunya yang terbaring lemah di kampung halaman Dawnfield.

    Ia teringat Rakan yang selalu tertawa dan bilang sahabat itu harus saling menjaga nyawa.

    Ia teringat Serina yang diam-diam menaruh selimut tambahan di tempat tidurnya pada malam pertama.

     

    Ia menghentakkan tongkat Elder Sprout ke tanah dengan seluruh tenaga yang dimilikinya.

     

    “Earthdawn: Akar Penjaga Raja!”

     

    Tanah di bawah kaki Lord Veykar meledak terbuka lebar.

     

    Bukan empat akar. Bukan enam akar.

     

    Tapi puluhan, bahkan ratusan batang akar berwarna keemasan tebal seperti batang pohon besar melesat keluar dari segala arah sekaligus. Muncul dari depan, belakang, samping, dari dalam tanah. Mereka melilit tubuh Lord Veykar mulai dari kaki, pinggang, badan, sampai leher — mengikat erat dan menariknya perlahan masuk ke dalam tanah dengan kekuatan yang cukup untuk meremukkan batu keras sekalipun.

     

    Lord Veykar mengerang keras. Untuk pertama kalinya sejak ia datang, suaranya terdengar penuh rasa sakit dan kaget.

     

    KRAK!

     

    Topeng tulang putih yang menutupi wajahnya retak terbuka. Dari celah retakan itu, terlihat sedikit bagian wajah aslinya — kulit pucat sekali, bibir tipis yang tegang.

     

    “Kau…!” suaranya bergetar marah dan tak percaya. “Kau bukan sekadar Pembawa Fajar biasa… Kau adalah Pembawa Masalah terbesar!”

     

    Ia mengangkat tangan kirinya dengan sisa tenaga. Dari seluruh tubuhnya meledak kabut hitam pekat yang tajam seperti ribuan pisau — memotong dan merobek semua akar emas yang melilitnya satu per satu. Akar-akar itu putus, layu, lalu menjadi debu seketika.

     

    Lord Veykar terdorong mundur sejauh sepuluh meter. Ia berdiri tegak lagi perlahan, jubah hitamnya robek dan kotor.

     

    “Ini belum selesai antara kita,” ucapnya dingin. “Segel itu akan retak dan hancur sepenuhnya — dengan bantuanmu atau tanpa bantuanmu. Saat hari itu tiba… kau akan sangat menyesal pernah memilih jalan melindungi mereka semua.”

     

    Ia melambaikan tangan kiri sekali. Kabut hitam tebal menyedot sisa-sisa tenaga bayangan yang masih ada dan menariknya kembali masuk ke dalam tubuhnya sendiri. Lalu ia berbalik perlahan.

     

    Tanpa menoleh ke belakang lagi, ia berjalan masuk kembali ke dalam kabut gelap yang perlahan tertutup rapat di belakangnya, seolah tidak pernah ada siapa-siapa di sana.

     

    Serangan selesai. Waktu berlangsung: tiga menit dua belas detik.

     

    Seluruh area gerbang hening sunyi. Hanya terdengar suara nafas berat, detak jantung, dan bunyi senjata yang bergetar jatuh ke tanah.

     

    Lalu terdengar suara panjang lega. Ada yang menangis karena ketakutan sudah berlalu. Ada yang berpelukan dengan teman di sebelahnya.

     

    Arayan jatuh berlutut di tanah. Tangannya gemetar tak terkendali, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Pandangannya berkunang-kunang kabur.

     

    “Berhasil… ya?” suaranya nyaris berbisik. “Kita berhasil menahannya?”

     

    Rakan langsung berlari dan memeluknya erat dari belakang. “Berhasil banget, bodoh! Lo gila ya! Akar sebesar pohon semua keluar! Itu kekuatan apa sih!”

     

    Serina berjongkok tepat di depannya. Tangannya lembut menyentuh bahu Arayan. “Pengendalian luar biasa. Tidak ada satupun murid atau guru yang terluka karena seranganmu. Kau hebat, Arayan.”

     

    Archmage Adityvar turun perlahan dari atas menara gerbang. Wajahnya sama sekali tidak tampak lega. Justru terlihat jauh lebih serius, berat, dan penuh kekhawatiran.

     

    “Tim Fajar… ikut saya ke Ruang Dewan. Sekarang juga.”

     

     

     

    Ruangan Dewan kecil, dingin, dan sederhana. Hanya ada meja batu bundar besar dan enam kursi batu di sekelilingnya.

     

    Di dalam ruangan itu hanya ada Archmage Adityvar, Profesor Miralune, serta ketua tiga keluarga besar — Keluarga Ignis, Keluarga Lunaris, dan Keluarga Windrale. Darian tidak ada di sini.

     

    Di atas meja batu terbentang peta lengkap wilayah Dawnfell. Tepat di tengah peta, di bawah gambar Menara Fajar, terlukis sebuah lingkaran sempurna yang dibentuk dari susunan butir-butir padi emas.

     

    Segel Padi Emas.

     

    Namun sekarang, di gambar lingkaran itu terlihat jelas tiga garis retakan baru. Panjang. Dalam. Dan menjalar ke mana-mana.

     

    “Serangan tadi bukan sekadar untuk menangkapmu atau menguasai gerbang,” kata Archmage pelan, suaranya berat dan lelah. “Itu hanya ujian… sekaligus cara melemahkan segel itu dari jauh.”

     

    Ia menatap tajam ke mata Arayan. Matanya terlihat tua dan penuh beban panjang.

     

    “Lord Veykar sudah tahu sifatmu: kau pasti akan melindungi apa pun yang terancam bahaya. Dan setiap kali kau menggunakan kekuatan Earthdawn dalam skala besar… Segel Padi Emas di bawah sini ikut bergetar dan melemah. Karena kekuatanmu dan kekuatan segel itu berasal dari sumber yang sama — bumi itu sendiri.”

     

    Darah seolah membeku di tubuh Arayan. Jantungnya terasa berat jatuh ke perut.

     

    “Jadi… kekuatanku… justru perlahan merusak segel itu?”

     

    “Benar,” jawab Profesor Miralune lembut namun tegas. Ia meletakkan tangan di bahu Arayan. “Tapi tidak menggunakannya juga bukan pilihan. Kalau kau diam saja dan segel itu retak sepenuhnya… Raja Bayangan akan bebas keluar. Dan saat itu terjadi, tidak ada siapa pun yang sanggup menghentikannya lagi.”

     

    Serina mengepalkan tangannya erat sampai buku jarinya memutih. “Lalu apa yang harus kami lakukan? Pasti ada cara untuk memperbaikinya atau memperkuatnya kembali.”

     

    Archmage terdiam lama sekali. Matanya jatuh menatap benda yang selalu digenggam erat Arayan — buku tua bersampul kulit coklat itu.

     

    “Halaman kelima… halaman yang tergores dan bernoda darah itu. Di sanalah jawabannya. Di sana tertulis cara memperkuat kembali segel yang sudah lemah. Cara menambal retakan itu.”

     

    Rakan menatap bergantian ke wajah Archmage lalu ke buku itu. “Terus… apa masalahnya? Kenapa halaman itu ditutup rapat?”

     

    Archmage menutup matanya perlahan. “Syaratnya… butuh pengorbanan.”

     

    Keheningan panjang menyelimuti ruangan.

     

    “Pengorbanan apa?” tanya Rakan lagi, suaranya kini jauh lebih pelan dan hati-hati.

     

    Archmage membuka matanya kembali. Menatap lurus ke arah Arayan.

     

    “Darah keturunan Pembawa Fajar… dan ingatan paling berharga yang pernah kau miliki. Ingatan itu akan disegel selamanya ke dalam tanah, menyatu menjadi bagian dari Segel Padi Emas. Dan kau… tidak akan pernah mengingatnya lagi.”

     

    Dunia seolah berhenti berputar bagi Arayan.

     

    Ingatan paling berharga…

     

    Wajah ibunya yang tersenyum lembut sambil menyuapinya makan waktu kecil.

    Sawah luas di Dawnfield saat musim panen pertama yang berhasil ia kerjakan bersama keluarga.

    Tangan kakaknya Aryan yang besar dan hangat, mengajarkan membaca huruf pertama di bawah pohon besar.

     

    Semua itu… mungkin akan hilang selamanya.

     

    Arayan menunduk dalam. Tangannya mencengkeram sampul buku tua itu sekuat tenaga.

     

    Di luar jendela Ruang Dewan, jauh di dalam kabut gelap yang sudah menjauh, Lord Veykar berhenti melangkah sejenak. Ia menoleh perlahan ke arah Menara Fajar yang berdiri tegak di kejauhan.

     

    Di balik topeng tulangnya, ia tersenyum tipis dan puas.

     

    “Bagus sekali… Dia sudah mulai ragu dan terbelah. Langkah pertama rencanaku sudah berhasil sempurna.”

     

     

    Kreator : Nadya Putri

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 4: PERTARUNGAN GERBANG

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021