
“Nah… itu juga yang bikin seseorang tadi rela berpisah dari teman sejatinya. Ia pergi bersama yang lebih ia cintai.” Bang Ghazi berkata puas.
“Tapi, Nadin masih sedih tau, Bang!” keluh Dek Nadin, jujur sama perasaannya.
“‘Hahaha!’ Bang Ghazi tertawa, lalu memeluk Dek Nadin erat. Kemudian, Bang Ghazi mengelus pelan kepala Dek Nadin.” Kedua tangan Raina lihai sekali menggerak-gerakkan boneka muppet di tangannya, seperti seorang kakak yang sedang menghibur adiknya betulan.
“Iya… boleh sedih, kok! Tapi, jangan sampai lupa — siapapun yang kita tinggalkan karena Allah, — Allah yang akan menjaga mereka.”
Kedua boneka itu terdiam di dalam rumah muppet. Membiarkan kedua tangan Raina yang mulai pegal di baliknya, beristirahat.
Sunyi perlahan memenuhi tiap sudut rumah muppet, bahkan ke halaman panti sore itu.
Lalu Raina bersuara, pelan. “The end.”
“Yaaahhh…!!!” Penonton protes serempak.
Raina terkekeh dari balik panggung. “Sekarang bantu Kak Raina tutup pintu rumah Dek Nadin dulu, yuk! — Dek Nadin sama Bang Ghazi mau siap-siap pindah nih, hehe!”
Satu dua anak bangkit, berlomba membantu menutup daun pintu rumah muppet.
Raina menyimpan kembali boneka-bonekanya ke dalam laci, menutup panel belakang, lalu melangkah ke depan panggung untuk menutup pertunjukannya.
“Oke! Jadi, akhirnya Dek Nadin ikut pindah, nggak?”
“Ikuut…!”
“Berarti, kalau nanti temen-temen bertemu dengan orang tua barunya…” Raina menatap wajah-wajah kecil di depannya satu per satu. “Mau ikut pindah ke rumah barunya, nggak?”
“MAUUU!!!”
Raina tersenyum. “Berarti udah siap dong, yah… berpisah sama temen-temen yang paling disayangi di sini?”
“Enggakkk…!!!” Beberapa anak langsung memeluk sahabat di sampingnya. Beberapa lagi pura-pura menangis.
Raina tertawa. “Yasudah… nanti kalau ada temen-temen kita yang mau pergi ke rumah baru bareng orangtua barunya — Kak Raina main kesini deh. Kita bareng-bareng melepas keberangkatan mereka, yaa!”
“Asiiiik…!!!”
Seruan itu mengudara beberapa saat, lalu perlahan mereda.
Raina membiarkan suasana itu mengendap sebentar. Lalu ia bertanya, satu kali lagi, dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya.
“Oh iya — tadi Bang Ghazi cerita tentang seseorang yang harus pergi meninggalkan teman sejatinya, tapi tetap memilih pergi karena yang lebih ia cintai memintanya.” Raina menatap penonton kecilnya. “Kira-kira… seseorang itu siapa, ya?”
Anak-anak saling pandang. Ada yang menebak-nebak. Ada yang menggeleng tidak tahu.
Raina membiarkan mereka menunggu sedikit lebih lama.
Lalu tersenyum.
“Namanya…”
Jeda.
Mata-mata kecil itu semakin membulat.
“…Zainab.” Raina berhenti sebentar. “Putri Rasulullah ﷺ.”
“Haahhh…!”
“Putrinya Rasulullah?!” beberapa anak panti ada yang saling melempar tatap ke teman di sebelahnya, sambil mengulang nama Zainab dengan wajah tidak percaya.
“MasyaAllah…!”
“Beneran?!”
Anak-anak yang lain tak kalah riuhnya saling menimpali dengan seruan-seruan mereka, juga reaksi lain yang beragam. Ada yang membulatkan mata, ada pula yang menggumam kagum sendiri.
Kini mata Raina terfokus ke barisan belakang, Raniah tidak ikut bersuara. Ia hanya diam, menatap panggung muppet yang kini sudah tertutup rapat itu — tangannya perlahan mengepal pelan di atas lututnya.
Raina mengangkat kepalanya sebentar, matanya semakin fokus menuju ke tempat Raniah. Kok, Raniah diem terus yah, dari tadi? Apa ceritaku kurang menghibur, yah? Hatinya berdenyut. Rasanya seperti ada jarum-jarum kecil yang menusuknya. Raina tersenyum lagi. Lalu, kembali menatap anak-anak di hadapannya yang masih riuh membahas cerita tadi.
*****
Matahari mulai turun perlahan. Anak-anak panti satu per satu berpamitan — ada yang melambaikan tangan.
Dari kejauhan, Raina melihat seorang anak lelaki tiba-tiba menghentikan laju jalannya, yang sudah beberapa langkah memasuki asrama. Raina mengernyitkan dahinya. Ada apa?
Anak itu membalikkan badannya ke arah Raina. Membentuk kedua tangannya seperti lingkaran yang mengelilingi mulutnya. Berteriak sekuat tenaga.
“Kak Rainaaa… minggu depan cerita lagi yaaa!”
Lalu, melambaikan tangan kanannya tinggi-tinggi ke arah Raina.
Raina menyipitkan matanya, lalu tersenyum setelah mengenali anak lelaki tadi. Rupanya itu Bana. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, mengacungkan kedua ibu jarinya. Ikut berteriak sekuat tenaga. “Iyaaa! Inshaallah, ya..!” Dan membalas lambaian tangan Bana.
Bana segera berlari masuk ke dalam asrama.
Kemudian, mata Raina kembali menyapu halaman asrama, tempatnya memainkan pertunjukan muppetnya tadi. Ia tersenyum, dan menghampiri seorang gadis kecil yang terlihat kesulitan berjalan. Sudah beberapa kali ia terjatuh. Raina jongkok membantu gadis kecil itu membenarkan sandalnya yang ternyata terbalik. Lalu merapikan jilbab anak perempuan lain di dekatnya, yang terus melorot.
Selesai berpamitan dan membereskan halaman panti, ia menoleh, mencari Raniah — masih berdiri di samping mobil, memperhatikan dari jauh, seperti belum terbiasa dengan semua keriuhan tadi.
Di perjalanan pulang, Raina duduk di samping kotak muppetnya, sesekali mengecek boneka muppetnya sambil mengangguk puas. “Hmm… lengkap semua.” Ia menutup lacinya kembali dengan puas.
Di sebelahnya, Raniah memandang keluar jendela, diam. Dari kaca mobil di depan, Raina menyadari bahwa lirikan Raniah sesekali berpindah — dari jendela, ke arah Raina, lalu buru-buru kembali ke luar jendela lagi.
Tapi Raina pura-pura saja tidak melihat yang dilakukan Raniah. Ia lebih memilih untuk melihat ke luar jendela, lengan kanannya menopang dagu. Bibirnya mengerucut, kadang condong ke sisi kiri, kadang ke sisi kanan. Dahinya berkerut. Ada apa, ya, sama Raniah?
“Raina.” Suara Raniah tiba-tiba muncul, lebih pelan dari biasanya.
Raina menoleh. “Ya?”
“Tadi…” Raniah menggenggam ujung bajunya. “Kamu bilang… Orang di zaman dulu yang diceritakan Bang Ghazi itu… Zainab, Putrinya Rasulullah ﷺ ?”
Raina tersenyum lebar, kepalanya mengangguk mantap.
Raniah menelan ludah pelan. “Dan… teman sejatinya itu… siapa?”
“Abu Al Ash.” Raina menjawab tenang. “Suaminya.”
Raniah membeku sebentar.
“Ke—Ehm…” Raniah seperti sedang membersihkan tenggorokannya yang kering. “Kenapa…” suara Raniah yang keluar nyaris berbisik. “Kenapa Zainab meninggalkan suaminya?”
Raina menatap mata Raniah yang terlihat bergetar. Lalu tersenyum lembut, “Karena Zainab sudah beriman kepada Allah dan Rasulullah. Sedangkan suaminya… masih belum mau beriman.” Ia berhenti sejenak. “Dan saat itu, turun perintah dari Allah kepada Rasulullah untuk memerintahkan setiap muslimah yang suaminya belum beriman, gak boleh sa Zainab untuk ikut berijrah ke Madinah, meninggalkan suaminya.”
“Karena Rasulullah memerintahkan putrinya untuk hijrah ke Madinah.” Suara Raina pelan. “Akhirnya, Zainab memenuhi perintah itu. Karena Zainab lebih mencintai Allah dan Rasulullah.”
Raniah mengangguk-anggukan kepalanya pelan. Tidak berkata apa-apa. Matanya kembali ke jendela, ke jalanan yang terus berganti, ke lampu-lampu yang mulai menyala satu per satu seiring langit menggelap.
Raina melirik sekilas, lalu kembali menatap ke depan, jarinya mengetuk-ngetuk tutup kotak muppetnya pelan mengikuti irama nasyid dari radio yang dinyalakan Mas Zaid. Ia tidak bertanya lagi.
Sampai mobil berhenti di depan rumah Raina, Raniah tidak bersuara lagi.
Mereka turun dari mobil.
Raina melangkah menuju pintu rumahnya dengan kotak muppetnya di tangan.
“Raina.”
Suara Raniah menghentikan langkah kaki Raina. Sebuah tangan menyentuh lengan kirinya — ringan, tapi ragu-ragu.
Raina berbalik.
Raniah berdiri dua langkah di belakangnya. Wajahnya masih sama — dingin dan tertutup. Kepalanya menunduk ke tanah di bawahnya. Jari-jemarinya meremas pelan ujung-ujung kain kemejanya.
Raina menatapnya. Lalu tanpa bertanya, ia menoleh ke arah bangku kayu di bawah pohon mangga.
“Duduk dulu yuk!”
Langit sudah berubah ungu tua ketika mereka duduk di bangku itu, untuk kedua kalinya hari ini.
Kali ini tidak ada lagi jarak di antara mereka.
Raina meletakkan kotak muppetnya di bangku, mengambil satu muppet, lalu memainkannya pelan di atas lututnya — berjalan naik turun. Sesekali pura-pura terpeleset. Raina terkekeh sendiri melihat tingkahnya.
Raniah memperhatikannya sebentar. Lalu membuka mulut. “Cerita Zainab tadi… apakah betul-betul ada dalam sirah?” Ia berhenti, suaranya sedikit hati-hati. “Atau… kamu buat-buat sendiri?”
Raina terkejut sebentar — bonekanya hampir terjatuh dari tangannya. Ia menyimpan boneka itu kembali ke dalam laci, menutupnya, lalu menatap Raniah.
“Betulan, ada kok!” Mata Raina membulat lebar. Jemari tangannya menggenggam erat tempurung lututnya. “Inshaallah memang nyata, walau persisnya aku juga gatau kayak gimana. — Kata Ummah, itu dulu sirah yang paling sering Ummah ceritain waktu dakwah di kampusnya.”
Raniah diam. Sepertinya sedang fokus mendengarkan. Atau mungkin sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Tapi, Raina tetap ingin melanjutkan ceritanya. Jarang-jarang ada yang menemaninya mengobrol selain keluarganya dan muppet-muppet buatan Ummah.
“Kata Ummah, banyak teman-teman kuliahnya yang udah masuk Islam, tapi suaminya belum. Terus mereka sering curhat ke Ummah. Jadi, Ummah sering ceritain sirah Zainab Putri Rasulullah ini.”
Raniah menatap ujung sepatunya, diam sesaat, lalu mengangkat wajah pelan. “Menurut kamu… apa dulu, Bunda pernah dengerin sirah Zainab ini dari Ummah?”
Raina berpikir sebentar. Lalu mengangkat bahunya. “Ya… bisa jadi. Aku gak tau juga. Kan —aku belum lahir waktu itu. Hehe…”
Kali ini Raniah hanya menghela napas panjang, dan sudut bibirnya bergerak sedikit. Otot-otot wajahnya terlihat lebih rileks.
Raina menoleh, alisnya terangkat. Tapi tidak satu pun pertanyaan keluar dari mulutnya. Walaupun sebetulnya tenggorokannya sudah gatal sekali ingin menanyakan banyak hal yang mengganjal di hatinya tentang Raniah.
Dan akhirnya, di ujung senja, sambil menunggu azan Magrib berkumandang, Raniah membuka mulutnya. “Tadi pagi…” suaranya pelan. “Subuh-subuh mungkin. Ayah dan Bunda bertengkar.”
Raina masih diam, walau keningnya mulai mengerut ke tengah.
“Kayaknya sih, ini bukan yang pertama kali. Soalnya, aku belum pernah lihat Ayah semarah itu ke Bunda. Tapi selain marah, Ayah juga…” Raniah berhenti sebentar. “…kayak yang lagi memohon ke Bunda.”
Ia mengembuskan napas lagi.
“Lalu, Bunda keluar nemuin aku dan Abang. Terus, ngajakin kita buat pergi dari rumah. Aku sih, nurut aja. Tapi Abang…” suara Raniah mengecil. “Nggak mau ninggalin Ayah.”
Lengang sejenak. Raniah memainkan jari-jarinya di atas lutut. Kepalanya tertunduk. Lama sekali.
Raina hanya duduk diam. Lalu, menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku taman. Menggeser posisi duduknya, sehingga condong menghadap Raniah. Kedua tangannya di letakkan di atas pahanya. Matanya menatap lurus ke Raniah.
“Sejujurnya… yang bikin aku sedih, bukan karena berpisah dari Ayah. Dari kecil, aku memang gak terlalu deket sama Ayah.” Ia menggenggam ujung bajunya. “Tapi… karena pisah sama Abang.” Raniah menarik napas panjang. Punggungnya disandarkan ke sandaran bangku taman.
Ia mengembuskan napas panjangnya. “Rasanya kayak… ada setengah diri aku yang memilih untuk tetep disana.”
“Abang tuh temen pertama aku, Rai. Dari kecil, aku nggak jago berteman sama orang. Jadi, Abang yang selalu nemenin aku, jagain aku, ngelindungin aku.”
“Tapi sejak SD, Ayah jadi mulai ikut nentuin sekolah, dan abang selalu ikutin pilihan Ayah. Kalo aku… yah, nurut-nurut aja sama Bunda. Jadi… sejak itu, aku ngerasa kayak dipisahin dari Abang. Dan rumah kita dulu, jadi satu-satunya tempat aku sama abang ketemu.”
Raniah menunduk. Kedua tangannya memainkan kuku jemarinya. Sesekali sudut bibirnya bergerak naik.
“Tapi sekarang…” Tangannya bergerak menggenggam bangku kayu yang didudukinya.
“Gatau deh. Kapan aku bisa ketemu lagi sama Abang.”
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Lalu Raniah kembali mengangkat kepalanya — pandangannya masih tertunduk ke bawah, tapi suaranya bergetar.
“Waktu tadi aku dengar cerita muppet kamu… aku merasa — aku kangen banget sama Abang, Rai.”
Raina tidak menjawab. Ia hanya menggeser posisi duduknya, lalu memeluk Raniah dari samping.
Raniah membeku sedetik.
Lalu tangannya terangkat, membalas pelukan Raina erat-erat. Dan pelan-pelan, ia melepaskan pelukannya. Begitupun Raina.
Mereka duduk diam sebentar.
Lalu Raniah melanjutkan, dengan suara yang lebih tenang. “Waktu tadi kamu nyebutin Zainab sama suaminya di mobil — aku jadi keingetan Bunda sama Ayah.” Ia menatap lurus ke depan. “Ayahku… Kristen. Dan Ayah nggak mau banget ikut Bunda masuk Islam. Padahal aku sering ngeliat sendiri, perjuangan Bunda ngajakin Ayah buat ikut masuk Islam. Tapi, tetep aja, Ayah nggak mau.” Ia menghela napas. Lalu menggeser duduknya, condong ke Raina.
“Mungkin itu alasan Bunda akhirnya pergi dari rumah. Pisah sama Ayah. Ya kan?”
Raina tersenyum kecil. Namun di dalam hatinya, ia merasakan denyut. Seperti ada jarum yang menusuk dadanya.
“Terus…” Raina akhirnya bersuara, pelan. “Kamu nggak masuk sekolah tadi — karena…?” Ia memiringkan kepalanya ke kiri.
“Bunda ngajakin aku cari rumah baru. Tapi, sepertinya tabungan Bunda nggak cukup.” Ia berhenti sebentar. “Terus, Bunda ngajakin aku berhenti di masjid, dari azan Zuhur sampai ashar. Habis itu… Bunda ngajakin aku ke sini. Aku nggak tau kalau ternyata Bunda sama Ummah sahabatan.”
Ia melirik Raina sebentar. “Maaf ya, Rai. Aku… nggak pernah nyapa kamu di sekolah.”
Raina terkekeh kecil. “Nggak papa, kok.” Ia memiringkan kepalanya. “Kalau gitu… gimana kalau mulai sekarang kita sahabatan juga?” Raina berhenti sebentar, setelah menyadari ucapannya. Lalu, menegakkan kepalanya. “Eh — tapi bukan karena Bunda sama Ummah sahabatan, yah!”
“Terus..?”
“Yah.. Raina mau sahabatan aja sama Raniah. Pasti seru deh, punya sahabat kayak Raniah. Udah rajin, sekolahnya, pinter, baik lagi!” Raina mengacungkan satu per satu jemarinya, seperti sedang menghitung-hitung kebaikan Raniah di matanya.
Raniah menoleh cepat. Tetap dengan wajah tanpa ekspresi.
“Kalau Raniah?” Mata Raina berbinar. “Mau gak, jadi sahabat Raina?”
Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Raniah. Ia mengangkat tangannya cepat, menyekanya sebelum yang lain menyusul.
Kepalanya mengangguk. Cepat. “Mau.”
Raina ikut tersenyum lebar. “Kalau gitu, mulai sekarang kita sahabatan, ya! Pokoknya Raina bakal berusaha buat dengerin, jagain, dan nemenin Raniah terus!” Lalu terkekeh.
Raniah menatapnya. Lalu mengangguk pelan, sudut bibirnya terangkat sedikit. “Aku juga. Aku akan berusaha jadi teman yang baik untuk Raina.”
Mereka tersenyum bersama — dua gadis di atas bangku kayu yang sama, di penghujung senja yang sama.
Mereka duduk diam sebentar lagi, membiarkan momen itu mengendap. Angin sore yang mulai dingin membelai kepala mereka di bawah balutan kain jilbab yang menutupi kepala hingga dada mereka.
“Raina, Raniah!! Sini sayang…!”
Suara Ummah sudah memanggil dari pintu depan rumah. Mereka hanya sempat saling berpandangan sebentar — lalu keduanya bangkit dan berjalan memenuhi panggilan itu.
“Lagi seru ya ngobrolnya?” goda Ummah begitu kedua sahabat baru itu sampai di hadapannya. “Ngobrolin apa sih, sampai lupa waktu?”
Raina dan Raniah hanya terkekeh malu, kompak.
Ummah tersenyum. “Tapi, sekarang udah mau Maghrib. Jadi, Raniah dan Bunda pulang dulu ya! Besok kan, masih bisa ketemu di sekolah — nanti dilanjutin lagi ngobrolnya! Atau lain kali, Raina aja gantian main ke rumah Raniah. Oke?”
Kedua sahabat itu saling melempar pandang.
Raina mengangkat kedua alisnya dan membelalakkan matanya — seakan memberi isyarat tak terucap — Rumahnya udah ketemu?
Raniah mengangkat sedikit sudut kiri bibirnya sambil mengangkat kedua bahunya pelan — Gatau!
“Makasih ya, Sar…” Bunda Mariam yang sejak tadi berdiri di sebelah Ummah, menggenggam tangan Ummah erat. “Udah mau ngedengerin ceritaku pun, aku udah makasih… Malah sekarang dibantuin juga. Aku jadi nggak enak.” Suaranya masih bergetar tipis. “Titip terima kasih juga buat Mas Ibrahim, ya Sar!”
“Jangan gitu, Mar!” Ummah menggenggam balik. “Sebagai sesama muslim kan kita saudara. Udah seharusnya saling bantu. Lagian, aku udah anggap kamu sama Azra kayak saudara perempuanku sendiri. Jadi, gausah nggak enakan, ya!” Lalu, tersenyum hangat.
“Kalau soal rumah, anggap aja itu rezeki dari Allah, lewat kami. Alhamdulillah, di deket rumah Zaid dan Halimah ada rumah kosong yang pernah ditawarkan ke kami. Ternyata, hikmahnya, sekarang kamu sama Raniah yang butuhin rumah itu. Jadi, kenapa enggak kalian aja yang nempatin rumahnya. Ya, kan?”
“Semoga, di rumah yang baru, kamu bisa betah ya. Nanti Zaid dan Halimah yang antar kesana, sekalian mereka pulang. Kalau nanti ada waktu, aku sama keluarga akan silaturahim kesana, ya?”
Mata Bunda Mariam berkaca-kaca lagi. “MasyaAllah… Allah kok baik banget ya, Sar..!”
“Allah kan emang selalu baik, Mar!” Ummah menepuk lembut tangan Bunda Mariam. “Cuma kita aja yang sering ngelupain kebaikan-kebaikan Allah yang datang ke kehidupan kita setiap detiknya.”
Tiin. Tiin.
Mobil sedan hitam muncul dari arah garasi. Mas Zaid dan Mbak Halimah lalu turun dari dalamnya, menghampiri Ummah.
“Mobilnya sudah siap, Umm!” Mas Zaid tersenyum.
“Yasudah, Umma titip sahabat baik Ummah ya, Zaid. Tolong diantarkan ke rumah yang waktu itu.”
“Oh..! Iya, Ummah! Siap, Inshaallah!”
“Yasudah, Halimah dan Zaid pamit pulang dulu ya, Ummah!” Mbak Halimah menggenggam tangan Ummah dan menciumnya.
“Mashaallah, iya Halimah. Duuh — maaf yah, jadi ngerepotin kamu lagi. Sehat-sehat yah, Halimah — Usamah juga” Ummah mengusap lembut kepala Mbak Halimah dan Usamah di gendongan Mbak Halimah, bergantian.
“Iya, Ummah. Aamiin, inshaallah.”
“Kalau gitu, Zaid dan Halimah berangkat ya Ummah, — Yuk, Ammah!” Mas Zaid mengangguk sopan kepada Bunda Mariam, sambil menundukkan pandangannya.
Bunda Mariam balas mengangguk, lalu menoleh ke putrinya. “Raniah, yuk.”
Raniah melangkah ke arah bundanya. Tapi sebelum benar-benar pergi, ia menoleh ke Raina sekali lagi — dan untuk pertama kalinya, Raniah tersenyum. Lebar sekali, sampai terlihat kerutan di bawah sudut-sudut matanya yang ikut menyipit.
Raina membalasnya dengan senyum yang sama.
Bunda Mariam dan Raniah mengikuti Mas Zaid dan Mbak Halimah menuju mobil. Mbak Halimah segera naik ke kursi penumpang di sebelah kemudi. Mas Zaid membukakan pintu mobil untuk Bunda Mariam dan Raniah.
“Raniah!” Raniah menoleh. “Besok… masuk sekolah, kan?” Bunda Mariam lebih dulu tersenyum, lalu menoleh ke arah Raina “InshaaAllah. Besok Raniah sekolah lagi.”
“Nanti, Raina main ya sama Raniah!” Raina tersenyum lebar. “Dengan senang hati, Bunda!”
Bunda tersenyum sebentar. Lalu masuk ke dalam mobil. Raniah menyusul. Dan pintu mobil pun ditutup.
Saat Mas Zaid sedang berputar, hendak masuk ke dalam mobil, dan duduk di kursi kemudinya, Raniah menurunkan kaca jendela mobil di dekatnya.
“Raina!” Raina menoleh. Suara Raniah hampir tenggelam oleh deru mesin mobil yang telah dinyalakan Mas Zaid yang telah masuk ke dalam mobil. “…terima kasih.”
Raina mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Sama-sama! Besok, kita main lagi ya!”
Mobil Mas Zaid melaju pelan, menghilang di balik tikungan jalan yang mulai diterangi lampu-lampu sore.
Raina berdiri di pinggir pagar, Angin sore mengibaskan ujung kerudungnya. Matanya mengikuti mobil hitam Mas Zaid yang sudah tidak lagi kelihatan. Ummah berdiri di belakangnya, meletakkan tangan lembut di bahu putrinya.
Banyak sekali pertanyaan yang bermunculan di kepalanya tentang Raniah. Teman satu kelasnya sejak kelas satu SD, yang baru saja dikenalnya sore ini. Semua pertanyaan itu berisik sekali, menagih untuk segera ditemukan jawabannya.
Ia sadar. Selama apapun ia mengamati Raniah dari satu sudut kelasnya, masih banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Raniah. Ada banyak luka yang ia tanggung sendiri di dalam diamnya.
Namun sore itu, ada satu hal yang Raina ketahui — persahabatan mereka hari ini tidak lahir dari tawa yang riuh, atau permainan yang menyenangkan. Ia tumbuh dari sebuah duka. Dari dua anak yang sama-sama masih asing. Yang satu membawa kehangatan. Yang satu membawa luka. Dan di antara keduanya, Allah mempertemukan hati yang suatu hari nanti akan saling menguatkan.
Kreator : Zaida Rahma Sabila (Safar Safiir)
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 5 — Awal Persahabatan
Sorry, comment are closed for this post.