KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 5 — Harga Sebuah Seragam TK

    Bab 5 — Harga Sebuah Seragam TK

    BY 18 Okt 2026 Dilihat: 15 kali
    Harga Sebuah Seragam TK_alineaku

    Pagi itu, Senja datang lebih awal dari biasanya.

    Ia membawa Bima yang masih mengantuk. Anak itu menggosok matanya sambil berjalan tertatih menuju rumah Digantara.

    “Kenapa pagi-pagi sudah datang?” tanya Ratri sambil membuka pintu.

    “Maaf, Bu. Arga harus berangkat pagi. Saya juga ada rapat jam delapan.”

    “Bima belum sarapan?”

    “Sudah, Bu. Di rumah.”

    Ratri memeluk Bima dan membawanya masuk. Anak itu langsung merebahkan diri di sofa.

    Senja terlihat terburu-buru. Ia merapikan tas Bima, memastikan bekal dan buku gambar sudah masuk.

    “Ibu, nanti tolong antarkan Bima ke sekolah ya?”

    “Iya. Tenang saja.”

    “Jam pulangnya jam sebelas. Nanti saya langsung jemput.”

    “Tidak usah terburu-buru. Bima bisa di sini dulu.”

    Senja tersenyum lega.

    “Terima kasih, Bu.”

    Ia mencium Bima yang sudah mulai tertidur lagi di sofa, lalu bergegas pergi.

    Digantara keluar dari kamar dengan seragam kerja yang sudah rapi. Ia melihat Bima tidur di sofa.

    “Senja sudah pergi?”

    “Sudah. Dia ada rapat pagi.”

    Digantara mengangguk. Ia duduk di meja makan dan meminum kopi buatan Ratri.

    “Nanti aku yang antar Bima ke sekolah,” kata Ratri.

    “Pakai apa?”

    “Jalan kaki. Kan dekat.”

    “Panas nanti.”

    “Tidak apa-apa.”

    Digantara menatap istrinya. Ratri memang tidak pernah mengeluh. Namun Digantara tahu, usia mereka sudah tidak muda lagi. Berjalan di bawah terik matahari sambil menggandeng anak kecil bukanlah hal yang mudah.

    “Aku yang antar,” kata Digantara.

    “Kamu tidak terlambat?”

    “Tidak. Aku bisa berangkat agak siang hari ini.”

    Ratri tersenyum.

    “Terima kasih.”

    Sekitar pukul tujuh pagi, Bima terbangun. Ia duduk di sofa sambil mengucek mata.

    “Kakek,” panggilnya.

    “Iya?”

    “Bima mau ke sekolah.”

    “Sebentar lagi. Kakek yang antar.”

    Bima tersenyum lebar.

    “Naik motor?”

    “Iya.”

    “Yeay!”

    Bima berlari ke kamar mandi untuk cuci muka. Ratri membantunya memakai seragam TK. Namun ketika seragam itu dikenakan, Ratri menyadari sesuatu.

    Seragam itu sudah terlalu kecil.

    Lengan bajunya tidak sampai pergelangan tangan. Celananya juga sudah naik di atas mata kaki.

    “Bima,” kata Ratri. “Seragammu sudah kecil.”

    “Tidak apa-apa, Nek. Masih muat.”

    “Tapi kamu tidak nyaman.”

    “Nyaman kok.”

    Ratri menatap Digantara. Mereka berdua tahu apa artinya.

    Seragam baru harus dibeli.

    Digantara tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan, lalu mengambil kunci motor.

    “Ayo, Bima. Kita berangkat.”

    Bima naik ke motor dengan semangat. Digantara memastikan cucunya duduk dengan aman, lalu melaju perlahan menuju sekolah TK yang berjarak sekitar sepuluh menit dari rumah.

    Di sepanjang jalan, Bima terus bercerita.

    “Kakek, tadi malam Bima mimpi jadi pilot.”

    “Pilot?”

    “Iya. Bima terbang pakai pesawat besar.”

    “Bima mau jadi pilot?”

    “Mau. Tapi kata Ibu, jadi pilot harus sekolah tinggi-tinggi.”

    Digantara tersenyum.

    “Iya. Harus sekolah yang rajin.”

    “Bima rajin kok, Kek.”

    “Bagus.”

    Mereka tiba di depan gerbang TK. Bima turun dari motor dan melambaikan tangan.

    “Dadah, Kakek!”

    “Hati-hati. Jangan nakal.”

    “Iya!”

    Bima berlari masuk ke halaman sekolah. Digantara memperhatikan cucunya bergabung dengan teman-teman sekelasnya. Anak-anak itu tertawa, bermain, dan berlari tanpa beban.

    Digantara teringat ketika Senja dan Galang masih kecil. Mereka juga pernah seperti Bima. Polos, ceria, dan penuh harapan.

    Namun hidup mengubah banyak hal.

    Senja tumbuh menjadi perempuan yang kuat, tetapi sering menyembunyikan kesulitannya. Galang tumbuh menjadi pemuda yang berbakat, tetapi kehilangan kepercayaan diri.

    Digantara bertanya-tanya, apakah Bima juga akan mengalami hal yang sama?

    Ia berharap tidak.

    Digantara melanjutkan perjalanan ke kantor. Namun sepanjang jalan, pikirannya terus kembali kepada seragam Bima yang sudah kecil.

    Seragam TK mungkin tidak mahal. Namun bagi keluarga yang harus menghitung setiap pengeluaran, bahkan harga seragam dapat menjadi pertimbangan.

    Di kantor, Digantara bekerja seperti biasa. Namun siang itu, ia menerima pesan dari Senja.

    “Pak, nanti sore saya mau bicara. Boleh?”

    Digantara membalas: “Boleh. Ada apa?”

    “Nanti saja, Pak. Di rumah.”

    Digantara menatap layar telepon genggamnya. Ia tahu Senja ingin membicarakan sesuatu yang penting.

    Sore harinya, Senja datang tanpa Bima. Anak itu dititipkan kepada Arga di rumah.

    Senja duduk di ruang tamu dengan wajah serius. Ratri dan Digantara duduk di hadapannya.

    “Ada apa?” tanya Digantara.

    Senja menarik napas.

    “Saya mau minta maaf.”

    “Maaf kenapa?”

    “Karena selalu merepotkan Bapak dan Ibu.”

    Ratri menggeleng.

    “Kamu tidak merepotkan.”

    “Tapi saya selalu datang dengan masalah.”

    Digantara menatap anaknya.

    “Kalau ada masalah, memang harus dibicarakan.”

    Senja menunduk.

    “Seragam Bima harus diganti. Uang sekolahnya juga belum dibayar. Arga sedang ada masalah di kantor. Gajinya dipotong karena ada kesalahan administrasi.”

    Digantara tidak langsung menjawab.

    “Berapa yang dibutuhkan?”

    Senja menyebutkan jumlahnya.

    Jumlah itu tidak terlalu besar. Namun bagi Digantara yang baru saja membayar berbagai kebutuhan rumah tangga, jumlah tersebut cukup membuat tabungannya menipis.

    “Bapak tidak usah memaksakan diri,” kata Senja cepat. “Saya hanya ingin Bapak tahu. Nanti saya cari cara sendiri.”

    “Cara apa?”

    “Mungkin pinjam teman.”

    “Jangan.”

    Senja menatap ayahnya.

    “Kenapa?”

    “Karena Bapak masih bisa membantu.”

    “Tapi—”

    “Tidak ada tapi.”

    Digantara bangkit dan masuk ke kamar. Ia membuka laci meja dan mengambil amplop berisi uang tabungan. Uang itu sebenarnya ia simpan untuk keperluan mendadak atau biaya kesehatan.

    Namun seragam Bima juga keperluan mendadak.

    Digantara menghitung uang yang dibutuhkan, lalu membawanya ke ruang tamu.

    “Ini,” katanya sambil menyerahkan uang kepada Senja.

    Senja menatap uang di tangannya dengan mata berkaca-kaca.

    “Pak…”

    “Pakai untuk Bima.”

    “Tapi ini uang tabungan Bapak.”

    “Tabungan untuk apa kalau tidak dipakai saat dibutuhkan?”

    Senja tidak bisa menahan air matanya. Ia memeluk ayahnya erat-erat.

    “Terima kasih, Pak.”

    Digantara menepuk punggung anaknya.

    “Sudah. Jangan menangis.”

    Ratri ikut menghapus air mata. Ia tahu uang itu penting bagi Digantara. Namun ia juga tahu, bagi Digantara, kebahagiaan anak dan cucunya jauh lebih penting daripada uang.

    Setelah Senja pulang, Ratri duduk di samping Digantara.

    “Tabungan kita tinggal sedikit,” katanya pelan.

    “Tahu.”

    “Kamu tidak khawatir?”

    Digantara menatap langit-langit rumah.

    “Khawatir. Tapi apa boleh buat.”

    “Kita harus mulai menabung lagi.”

    “Iya.”

    Ratri memegang tangan suaminya.

    “Terima kasih sudah jadi ayah yang baik.”

    Digantara tersenyum kecil.

    “Aku hanya melakukan yang seharusnya.”

    “Tidak semua ayah seperti kamu.”

    Digantara tidak menjawab.

    Ia hanya menatap jendela rumah. Di luar, matahari mulai tenggelam. Cahaya senja menerangi halaman kecil mereka.

    Digantara teringat kata-kata Bima pagi tadi.

    “Jadi pilot harus sekolah tinggi-tinggi.”

    Ia berharap Bima benar-benar bisa menjadi pilot suatu hari nanti.

    Atau apa pun yang Bima inginkan.

    Dan ia berharap, ketika itu terjadi, Bima tidak perlu khawatir tentang harga seragam.

     

     

    Kreator : Sukirno (Kirno Nugraha)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 5 — Harga Sebuah Seragam TK

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021