Pagi itu, Senja datang lebih awal dari biasanya.
Ia membawa Bima yang masih mengantuk. Anak itu menggosok matanya sambil berjalan tertatih menuju rumah Digantara.
“Kenapa pagi-pagi sudah datang?” tanya Ratri sambil membuka pintu.
“Maaf, Bu. Arga harus berangkat pagi. Saya juga ada rapat jam delapan.”
“Bima belum sarapan?”
“Sudah, Bu. Di rumah.”
Ratri memeluk Bima dan membawanya masuk. Anak itu langsung merebahkan diri di sofa.
Senja terlihat terburu-buru. Ia merapikan tas Bima, memastikan bekal dan buku gambar sudah masuk.
“Ibu, nanti tolong antarkan Bima ke sekolah ya?”
“Iya. Tenang saja.”
“Jam pulangnya jam sebelas. Nanti saya langsung jemput.”
“Tidak usah terburu-buru. Bima bisa di sini dulu.”
Senja tersenyum lega.
“Terima kasih, Bu.”
Ia mencium Bima yang sudah mulai tertidur lagi di sofa, lalu bergegas pergi.
Digantara keluar dari kamar dengan seragam kerja yang sudah rapi. Ia melihat Bima tidur di sofa.
“Senja sudah pergi?”
“Sudah. Dia ada rapat pagi.”
Digantara mengangguk. Ia duduk di meja makan dan meminum kopi buatan Ratri.
“Nanti aku yang antar Bima ke sekolah,” kata Ratri.
“Pakai apa?”
“Jalan kaki. Kan dekat.”
“Panas nanti.”
“Tidak apa-apa.”
Digantara menatap istrinya. Ratri memang tidak pernah mengeluh. Namun Digantara tahu, usia mereka sudah tidak muda lagi. Berjalan di bawah terik matahari sambil menggandeng anak kecil bukanlah hal yang mudah.
“Aku yang antar,” kata Digantara.
“Kamu tidak terlambat?”
“Tidak. Aku bisa berangkat agak siang hari ini.”
Ratri tersenyum.
“Terima kasih.”
Sekitar pukul tujuh pagi, Bima terbangun. Ia duduk di sofa sambil mengucek mata.
“Kakek,” panggilnya.
“Iya?”
“Bima mau ke sekolah.”
“Sebentar lagi. Kakek yang antar.”
Bima tersenyum lebar.
“Naik motor?”
“Iya.”
“Yeay!”
Bima berlari ke kamar mandi untuk cuci muka. Ratri membantunya memakai seragam TK. Namun ketika seragam itu dikenakan, Ratri menyadari sesuatu.
Seragam itu sudah terlalu kecil.
Lengan bajunya tidak sampai pergelangan tangan. Celananya juga sudah naik di atas mata kaki.
“Bima,” kata Ratri. “Seragammu sudah kecil.”
“Tidak apa-apa, Nek. Masih muat.”
“Tapi kamu tidak nyaman.”
“Nyaman kok.”
Ratri menatap Digantara. Mereka berdua tahu apa artinya.
Seragam baru harus dibeli.
Digantara tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan, lalu mengambil kunci motor.
“Ayo, Bima. Kita berangkat.”
Bima naik ke motor dengan semangat. Digantara memastikan cucunya duduk dengan aman, lalu melaju perlahan menuju sekolah TK yang berjarak sekitar sepuluh menit dari rumah.
Di sepanjang jalan, Bima terus bercerita.
“Kakek, tadi malam Bima mimpi jadi pilot.”
“Pilot?”
“Iya. Bima terbang pakai pesawat besar.”
“Bima mau jadi pilot?”
“Mau. Tapi kata Ibu, jadi pilot harus sekolah tinggi-tinggi.”
Digantara tersenyum.
“Iya. Harus sekolah yang rajin.”
“Bima rajin kok, Kek.”
“Bagus.”
Mereka tiba di depan gerbang TK. Bima turun dari motor dan melambaikan tangan.
“Dadah, Kakek!”
“Hati-hati. Jangan nakal.”
“Iya!”
Bima berlari masuk ke halaman sekolah. Digantara memperhatikan cucunya bergabung dengan teman-teman sekelasnya. Anak-anak itu tertawa, bermain, dan berlari tanpa beban.
Digantara teringat ketika Senja dan Galang masih kecil. Mereka juga pernah seperti Bima. Polos, ceria, dan penuh harapan.
Namun hidup mengubah banyak hal.
Senja tumbuh menjadi perempuan yang kuat, tetapi sering menyembunyikan kesulitannya. Galang tumbuh menjadi pemuda yang berbakat, tetapi kehilangan kepercayaan diri.
Digantara bertanya-tanya, apakah Bima juga akan mengalami hal yang sama?
Ia berharap tidak.
Digantara melanjutkan perjalanan ke kantor. Namun sepanjang jalan, pikirannya terus kembali kepada seragam Bima yang sudah kecil.
Seragam TK mungkin tidak mahal. Namun bagi keluarga yang harus menghitung setiap pengeluaran, bahkan harga seragam dapat menjadi pertimbangan.
Di kantor, Digantara bekerja seperti biasa. Namun siang itu, ia menerima pesan dari Senja.
“Pak, nanti sore saya mau bicara. Boleh?”
Digantara membalas: “Boleh. Ada apa?”
“Nanti saja, Pak. Di rumah.”
Digantara menatap layar telepon genggamnya. Ia tahu Senja ingin membicarakan sesuatu yang penting.
Sore harinya, Senja datang tanpa Bima. Anak itu dititipkan kepada Arga di rumah.
Senja duduk di ruang tamu dengan wajah serius. Ratri dan Digantara duduk di hadapannya.
“Ada apa?” tanya Digantara.
Senja menarik napas.
“Saya mau minta maaf.”
“Maaf kenapa?”
“Karena selalu merepotkan Bapak dan Ibu.”
Ratri menggeleng.
“Kamu tidak merepotkan.”
“Tapi saya selalu datang dengan masalah.”
Digantara menatap anaknya.
“Kalau ada masalah, memang harus dibicarakan.”
Senja menunduk.
“Seragam Bima harus diganti. Uang sekolahnya juga belum dibayar. Arga sedang ada masalah di kantor. Gajinya dipotong karena ada kesalahan administrasi.”
Digantara tidak langsung menjawab.
“Berapa yang dibutuhkan?”
Senja menyebutkan jumlahnya.
Jumlah itu tidak terlalu besar. Namun bagi Digantara yang baru saja membayar berbagai kebutuhan rumah tangga, jumlah tersebut cukup membuat tabungannya menipis.
“Bapak tidak usah memaksakan diri,” kata Senja cepat. “Saya hanya ingin Bapak tahu. Nanti saya cari cara sendiri.”
“Cara apa?”
“Mungkin pinjam teman.”
“Jangan.”
Senja menatap ayahnya.
“Kenapa?”
“Karena Bapak masih bisa membantu.”
“Tapi—”
“Tidak ada tapi.”
Digantara bangkit dan masuk ke kamar. Ia membuka laci meja dan mengambil amplop berisi uang tabungan. Uang itu sebenarnya ia simpan untuk keperluan mendadak atau biaya kesehatan.
Namun seragam Bima juga keperluan mendadak.
Digantara menghitung uang yang dibutuhkan, lalu membawanya ke ruang tamu.
“Ini,” katanya sambil menyerahkan uang kepada Senja.
Senja menatap uang di tangannya dengan mata berkaca-kaca.
“Pak…”
“Pakai untuk Bima.”
“Tapi ini uang tabungan Bapak.”
“Tabungan untuk apa kalau tidak dipakai saat dibutuhkan?”
Senja tidak bisa menahan air matanya. Ia memeluk ayahnya erat-erat.
“Terima kasih, Pak.”
Digantara menepuk punggung anaknya.
“Sudah. Jangan menangis.”
Ratri ikut menghapus air mata. Ia tahu uang itu penting bagi Digantara. Namun ia juga tahu, bagi Digantara, kebahagiaan anak dan cucunya jauh lebih penting daripada uang.
Setelah Senja pulang, Ratri duduk di samping Digantara.
“Tabungan kita tinggal sedikit,” katanya pelan.
“Tahu.”
“Kamu tidak khawatir?”
Digantara menatap langit-langit rumah.
“Khawatir. Tapi apa boleh buat.”
“Kita harus mulai menabung lagi.”
“Iya.”
Ratri memegang tangan suaminya.
“Terima kasih sudah jadi ayah yang baik.”
Digantara tersenyum kecil.
“Aku hanya melakukan yang seharusnya.”
“Tidak semua ayah seperti kamu.”
Digantara tidak menjawab.
Ia hanya menatap jendela rumah. Di luar, matahari mulai tenggelam. Cahaya senja menerangi halaman kecil mereka.
Digantara teringat kata-kata Bima pagi tadi.
“Jadi pilot harus sekolah tinggi-tinggi.”
Ia berharap Bima benar-benar bisa menjadi pilot suatu hari nanti.
Atau apa pun yang Bima inginkan.
Dan ia berharap, ketika itu terjadi, Bima tidak perlu khawatir tentang harga seragam.
Kreator : Sukirno (Kirno Nugraha)
Comment Closed: Bab 5 — Harga Sebuah Seragam TK
Sorry, comment are closed for this post.