
Malam itu Arayan sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Tidak sedetikpun. Jam tepat pukul satu dini hari. Seluruh bangunan Asrama Barat sunyi senyap, seolah seluruh penghuninya sudah tenggelam dalam mimpi yang tenang.
Dari luar jendela yang tertutup rapat hanya terdengar suara riuh jangkrik yang bersahutan, dan di sampingnya terdengar suara napas berat Rakan yang tertidur pulas sambil mendengkur pelan. Kasur teman itu selalu berantakan, selimut terlempar ke lantai, bantal terguling miring — persis seperti sifat pemiliknya yang ceroboh namun tulus.
Di atas meja kayu kecil yang berdiri dekat jendela, dua benda tergeletak diam, diterangi cahaya bulan yang masuk lewat celah tirai. Sebuah pisau kecil tajam, bilahnya bersih berkilau dingin seolah tak pernah disentuh siapa pun. Dan di sampingnya, buku tua bersampul kulit yang sudah lusuh — buku yang selalu ia genggam erat kemanapun ia pergi. Halaman kelima terbuka lebar. Noda darah kakaknya yang dulu menetes di sana kini sudah mengering gelap, berwarna coklat tua persis seperti karat yang menempel lama di besi tua.
Arayan duduk bersandar di dinding batu yang dingin dan lembab, tepat di lantai yang keras. Kedua tangannya gemetar begitu hebat sampai buku tua yang tergeletak di pangkuannya ikut bergetar pelan mengikuti irama detak jantungnya yang kacau.
“Keputusan sepenuhnya ada di tanganmu,” kata Archmage Adityvar sore tadi di Ruang Dewan. Suaranya terdengar begitu berat, tua, dan penuh kelelahan mendalam, seolah ia sudah menanggung beban ini selama berabad-abad sendirian.
“Kalau kau memilih memperkuat dan menambal kembali Segel Padi Emas, kau akan kehilangan ingatan yang paling berharga bagi dirimu. Hilang selamanya. Tidak bisa dikembalikan lagi, tidak ada sihir apa pun yang sanggup mengembalikannya. Kalau kau memilih untuk tidak melakukannya, kami akan berusaha mencari jalan lain. Tapi ingatlah: waktu yang tersisa sangat sedikit. Paling lama hanya tiga hari. Setelah itu, retakan akan melebar sampai segel itu jebol sepenuhnya, dan apa yang ada di bawah sana akan bebas keluar.”
Ingatan paling berharga.
Kalimat itu terus berputar dan bergema di kepalanya berulang-ulang, tak mau pergi, seolah suara itu hidup sendiri di dalam pikirannya.
Apa sebenarnya yang paling berharga baginya?
Apakah wajah lembut ibunya di kampung halaman Dawnfield? Tangan-tangan yang kasar karena bekerja di ladang, namun selalu terasa hangat saat memeluknya erat ketika ia sakit demam tinggi sampai suhu tubuhnya mencapai empat puluh derajat — demam yang berlangsung tak kunjung turun selama tiga hari tiga malam penuh?
Atau bayangan kakaknya, Aryan — sosok yang selalu menjadi pelindungnya sejak kecil. Suara kakaknya yang tegas namun lembut saat mengajarkan mengenal huruf pertama di atas tanah pakai ranting kayu: “Ini huruf A. Bentuknya seperti atap rumah kita yang sederhana itu. Ini huruf B. Lihat, bentuknya seperti perut Ibu saat sedang mengandungmu dulu.”
Kalau ia benar-benar melupakan semua hal itu… apakah ia masih tetap Arayan yang sama? Atau ia akan berubah menjadi orang lain yang asing, yang kehilangan sebagian besar dirinya sendiri?
Di luar pintu kamar, terdengar suara langkah kaki yang berjalan sangat pelan, sangat berhati-hati, seolah takut membangunkan siapa pun di seluruh asrama.
Tok… tok…
“Keluar sebentar…” bisik suara Rakan dari balik pintu. Suaranya serak dan berat, berbeda jauh dari nada bercandanya yang biasa. “Kita sudah tunggu di ujung tangga.”
Arayan membuka pintu kamar perlahan-lahan.
Rakan duduk di anak tangga paling atas, memeluk lututnya. Di telapak tangannya nyala api kecil berwarna keemasan, hanya sebesar nyala lilin — cukup untuk menerangi wajah mereka berdua. Wajah yang biasanya selalu ceria, penuh semangat, dan suka mengganggu orang lain kini tampak tegang sekali. Matanya merah bengkak, persis seperti orang yang baru saja menangis lama.
Di sisi lain anak tangga, Serina duduk diam. Kalung batu bulan yang selalu bersinar lembut di lehernya kini tampak redup, hampir padam. Ia tidak mengenakan seragam latihan seperti biasa, melainkan jubah sederhana berwarna biru tua yang kusam. Rambut panjangnya diikat asal saja, tidak rapi seperti kebiasaannya. Di tangannya tergenggam secangkir teh yang sudah dingin dan menguap sama sekali.
Ketiga anak itu hanya duduk diam berhadapan satu sama lain. Keheningan itu terasa sangat panjang, sangat berat, sampai nyaris menekan dada. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah bunyi kecil api yang berkedip di tangan Rakan.
“Kau… kau benar-benar mau melakukannya?” tanya Rakan akhirnya. Suaranya pecah di tengah kalimat.
Arayan mengangguk pelan, hanya satu kali. “Harus. Tidak ada jalan lain.”
“Tapi kenapa harus kau?!” suara Rakan tiba-tiba naik, tertahan agar tidak terdengar jauh.
“Kenapa bukan para guru? Kenapa bukan Archmage sendiri? Dia sudah hidup lama, sudah banyak melihat dunia! Kenapa harus anak berumur lima belas tahun yang harus membayar harga setinggi ini?!”
“Karena darah,” potong Serina pelan namun tegas. Ia menunduk menatap lantai batu di bawah kakinya. “Hanya darah keturunan Pembawa Fajar yang memiliki ikatan sejati dengan tanah ini, yang sanggup mengaktifkan kembali kekuatan Segel Padi Emas. Dan hanya ingatan yang paling berharga, paling dalam, dan paling menyakitkan di hati seseorang yang cukup kuat untuk menjadi ‘pupuk’ bagi segel itu. Segel itu memakan ingatan. Semakin berarti, semakin dalam perasaanku… semakin kuat ia akan tumbuh kembali.”
Rakan membanting kepalan tangannya keras ke permukaan anak tangga batu. Api di tangannya membesar seketika karena amarah, lalu padam seketika. “Sialan… ini tidak adil. Benar-benar tidak adil sekali.”
Arayan tersenyum tipis, senyum yang terasa dipaksakan dan penuh kepahitan.
“Kalau bukan aku, lalu siapa lagi? Empat ratus murid yang sedang tidur nyenyak di sini? Para guru yang sudah mengabdikan hidupnya? Kalian berdua? Seluruh penduduk Dawnfell?”
Keheningan kembali menyelimuti mereka, kali ini terasa lebih berat lagi.
“Tapi… kalau nanti kau lupa aku bagaimana?” tanya Rakan tiba-tiba. Suaranya merendah sampai hampir berbisik, penuh ketakutan yang tak biasa ia tunjukkan. “Kalau kau lupa bagaimana kita membentuk Tim Fajar? Lupa bagaimana kita diam-diam mencuri apel dari kebun dapur lalu dikejar Bu Koki sampai lari keliling halaman?”
Arayan menatap wajah sahabatnya itu lekat-lekat. Matanya sendiri sudah mulai basah.
“Aku tidak akan melupakan kalian berdua. Yang akan hilang hanya satu ingatan. Bukan seluruh isi kepalaku. Aku janji.”
“Kau yakin?” Serina mendongak, menatap tajam lurus ke mata Arayan. “Tidak ada satupun yang tahu apa efek sebenarnya. Buku itu hanya menuliskan caranya, tapi tidak ada yang mencatat apa yang terjadi setelahnya. Bisa saja kau berubah menjadi orang yang berbeda sepenuhnya. Bisa saja kau lupa bagaimana caranya tersenyum, bagaimana caranya merasakan hangatnya persahabatan.”
Arayan tidak menjawab. Sebab ia juga takut. Takut sekali.
Bagian 1: Turun ke Bawah Tanah
Pukul tiga pagi. Udara malam terasa dingin menusuk tulang.
Mereka bertiga berjalan menyusuri lorong rahasia yang tersembunyi di balik dinding belakang perpustakaan, menuju bagian terdalam Menara Fajar.
Terowongan itu sempit dan rendah, dindingnya terbuat dari batu hitam tua yang selalu basah dan lembab. Di permukaannya terukir simbol-simbol kuno yang sudah mulai pudar dan sulit dibaca lagi. Setiap sepuluh meter, ada obor yang menyala dengan api berwarna biru pucat, memberikan cahaya samar yang membuat bayangan mereka sendiri tampak bergerak mengikuti langkah.
Semakin jauh mereka turun ke bawah, semakin dingin udaranya. Napas mereka berubah menjadi uap putih yang terlihat jelas di udara.
Ketika sampai di ruangan paling bawah, terbentang sebuah lingkaran besar tepat di tengah lantai batu. Diameternya mencapai lima meter, dibentuk dari susunan butiran padi emas yang dulunya bersinar terang. Namun kini logam emas itu sudah berubah gelap, kusam, menghitam seolah terbakar dan rusak.
Inilah Segel Padi Emas. Penjaga yang telah menahan kekuatan Raja Bayangan di bawah tanah selama dua ratus tahun penuh.
Dan di permukaan lingkaran emas itu, terbentang enam retakan panjang dan dalam. Dari celah-celah retakan itu keluar asap tipis berwarna ungu gelap, naik perlahan ke udara. Baunya sangat menyengat — campuran bau bangkai busuk dan logam yang berkarat parah. Menusuk hidung dan membuat perut mual seketika.
Archmage Adityvar dan Profesor Miralune sudah menunggu di sana sejak lama. Wajah mereka tampak jauh lebih tua, seolah usia mereka bertambah sepuluh tahun hanya dalam tiga hari terakhir. Wajah Archmage cekung dan pucat, matanya lelah sekali. Jubah Profesor Miralune yang rapi biasanya kini robek di bagian lengan dan kotor terkena debu batu.
“Kau datang juga,” kata Archmage pelan. Suaranya nyaris tak terdengar, seolah tenaganya sudah habis terkuras. “Apakah keputusanmu sudah bulat?”
Arayan mengangguk perlahan. Tangannya mencengkeram sampul buku tua itu begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Di atas meja batu kasar yang berdiri di samping segel, tergeletak sebuah mangkuk besar dari perak yang mengkilap bersih namun kosong, dan sebuah gulungan perkamen tua yang warnanya sudah menguning.
“Bacakan isi halaman kelima itu dengan suara keras,” perintah Archmage lembut.
Arayan membuka halaman yang dituju. Jari-jarinya basah karena keringat dingin sampai kertas tua itu ikut lembab.
Saat pandangannya jatuh ke tulisan di halaman itu, tinta hitam tua itu tiba-tiba bergerak sendiri. Seperti hidup, merayap pelan persis seperti ulat kecil, lalu menyusun kata-kata baru tepat di atas bekas noda darah kakaknya yang lama.
“Untuk menambal dan menguatkan kembali Segel Padi Emas yang retak, dibutuhkan darah dari keturunan Pembawa Fajar. Dibutuhkan juga pengorbanan ingatan yang paling berharga bagi jiwa tersebut. Teteskan darahmu tepat ke pusat segel. Sebutkan dengan jelas ingatan apa yang akan kau serahkan. Rasakanlah kembali setiap detailnya — warna, suara, bau, rasa, dan sentuhannya. Lihatlah sekali lagi sejelas-jelasnya. Dengarkanlah sekali lagi. Ingatan itu akan ditarik keluar sepenuhnya dari jiwamu, lalu menjadi pupuk bagi tanah dan segel ini. Segel akan bangkit kembali.”
Keheningan panjang menyelimuti ruangan itu. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah suara tetesan air yang jatuh perlahan dari langit-langit batu tinggi.
“Sebutkan dengan jelas?” tanya Rakan dengan nada bingung dan cemas. “Maksudnya… bagaimana caranya?”
Profesor Miralune melangkah maju sedikit, menjelaskan dengan suara lembut namun penuh beban. “Kau harus mengingat ingatan itu sedetail mungkin, sampai rasanya kau sedang berada di sana lagi. Lalu… kau harus melepaskannya. Saat darahmu menyentuh permukaan segel, sihir kuno yang tertanam di sini akan bekerja — menarik ingatan itu keluar dari pikiranmu, selamanya. Tidak akan pernah kembali lagi.”
Arayan memejamkan matanya rapat. Setetes air mata jatuh duluan, terasa panas saat meluncur di pipinya.
Di dalam kepalanya, dua kenangan terbesar muncul bersamaan, saling berebut tempat.
Gambar pertama: Ibu.
Malam hujan deras sekali. Petir menyambar berkali-kali sampai langit terang benderang lalu gelap lagi seketika. Saat itu ia sedang sakit parah, tubuhnya panas membara seolah terbakar dari dalam. Ibu menggendong tubuhnya yang berat itu, berjalan sejauh tiga kilometer di tengah hujan lebat menuju rumah tabib di desa seberang. Jalanan berlumpur licin sekali. Ibu terpeleset dan jatuh dua kali, namun selalu bangkit kembali dengan segera. Punggung dan lengan ibunya tergores ranting tajam sampai berdarah, tapi ia tak pernah melepaskan pelukannya. Di tengah badai, suara ibunya terdengar lembut dan serak karena kedinginan, menyanyikan lagu pengantar tidur pelan-pelan: “Tidurlah, Nak… Ibu ada di sini… jangan takut… Ibu peluk kamu erat-erat…”
Gambar kedua: Kakak Aryan.
Hari pertama Arayan pergi ke pasar untuk menjual hasil kebun sendirian. Ia belum pernah pergi sejauh itu sendirian. Tiga orang pemuda jahat menghadangnya, merampas uang dan barang dagangannya, mendorongnya sampai jatuh. Saat ia merasa takut dan tak tahu harus berbuat apa, kakaknya datang. Aryan melawan mereka bertiga sendirian, dipukuli sampai hidung berdarah dan satu giginya copot. Tapi meski terluka parah, tangan kakaknya tetap menggenggam tangan Arayan erat sekali. “Jangan takut. Ada Kakak di sini. Kakak tidak akan pernah melepaskanmu.”
Kedua ingatan itu sama menyakitkannya jika dilepaskan. Keduanya adalah bagian paling berharga dari dirinya.
Bagian 2: Proses Pengorbanan
“Arayan…” Serina melangkah maju selangkah, suaranya lembut namun penuh perhatian. “Kau boleh memilih ingatan lain. Ingatan yang tidak terlalu… berat. Ingatan masa kecil yang lebih sederhana, yang tidak begitu dalam pengaruhnya.”
“Tidak ada,” jawab Arayan pelan namun tegas. Suaranya tenang meski hatinya bergetar hebat. “Kalau aku memilih ingatan yang biasa saja, segelnya tidak akan cukup kuat untuk menahan apa yang ada di bawah sana. Buku itu berkata: harus yang paling berharga. Yang paling dalam. Yang paling sakit jika hilang.”
Ia melangkah maju menuju pusat lingkaran emas itu. Setiap langkah terasa berat seolah kakinya menahan beban satu ton batu.
Ia berdiri tepat di tengah titik segel. Di bawah kakinya terbentang retakan yang paling besar dan paling lebar. Asap ungu dingin itu menyentuh pergelangan kakinya, terasa dingin menusuk sampai ke tulang.
Di tangannya tergenggam pisau kecil yang sudah disiapkan. Dingin. Berat. Tajam.
“Kau masih boleh berhenti sekarang,” kata Archmage untuk terakhir kalinya. “Keputusan ini tidak bisa dibatalkan, tidak bisa diulang kembali. Pikirkanlah sekali lagi.”
Arayan mengangkat pisau perlahan. Mengiris pelan permukaan telapak tangannya.
Sakit. Tajam. Nyeri tajam menjalar dari luka itu ke seluruh lengan. Darah merah segar menetes jatuh satu per satu ke dalam mangkuk perak di bawahnya. Tetes… tetes… tetes… Suara itu terdengar sangat jelas di ruangan yang sunyi mencekam.
Rasa sakit di tangan itu terasa sangat kecil, sangat tidak berarti, dibandingkan rasa sesak dan berat yang menghimpit dadanya.
“Darah keturunan Pembawa Fajar,” ucapnya, suaranya bergetar hebat. “Aku… Arayan Sartoran. Anak dari…”
Kalimatnya terhenti mendadak. Ia tidak sanggup menyebutkan nama ibunya. Dadanya terasa sesak sampai nafasnya tertahan.
Ia menutup mata rapat. Menarik napas paling dalam, paling panjang yang pernah ia tarik seumur hidupnya.
“Ingatan yang kuserahkan…” suaranya tercekat, terasa pahit di tenggorokan.
“…adalah malam hujan deras itu… saat Ibu menggendongku jauh ke tabib… dan menyanyikan lagu lembut untukku sepanjang jalan…”
Saat kata-kata terakhir itu meluncur dari bibirnya…
DUNIA SEOLAH HANCUR SEKETIKA.
Rasa sakit yang luar biasa menyerang seluruh kepala dan dadanya. Seolah ada tangan raksasa tak terlihat yang masuk ke dalam dirinya, mencengkram bagian paling dalam jiwanya, lalu menariknya keluar dengan paksa.
Kenangan itu muncul satu kali terakhir — sejelas apapun, tajam sempurna seperti lukisan hidup.
Wajah ibunya yang basah kuyup, penuh air hujan dan air mata, namun tetap tersenyum lembut padanya.
Tangan yang dingin namun memeluknya begitu erat dan aman.
Bau hujan, tanah basah, dan bau bunga yang selalu ada di baju ibunya.
Nada lagunya. Kata-katanya. Irama yang selalu membuatnya tenang.
Lalu…
Perlahan memudar.
Menjadi kabur.
Lalu hilang seketika.
Seolah dihapus sepenuhnya dari papan tulis besar dengan satu sapuan tangan raksasa.
Ia masih tahu bahwa ia punya ibu. Ia tahu ibunya sangat menyayanginya. Ia tahu ia pernah dicintai dengan segenap jiwa. Tapi… ia tidak lagi ingat bagaimana rupa wajah itu. Tidak ingat bagaimana suara itu terdengar. Tidak ingat bagaimana bau itu terasa. Tidak ingat nada lagu itu.
Ada lubang besar, kosong, dan menganga lebar tepat di tengah dadanya. Sesuatu yang penting, yang menopang hidupnya, sudah hilang.
Darah yang sudah terkumpul di mangkuk kemudian mengalir jatuh tepat ke titik pusat Segel Padi Emas.
Tanah di bawahnya bergetar hebat. Debu dan kerikil jatuh berhamburan dari langit-langit tinggi.
Butiran padi emas yang sudah lama menghitam dan kusam mulai menyala kembali satu per satu. Dari pangkal sampai ujung, cahaya keemasan murni bangkit naik, menyembur keluar dari setiap retakan seperti air mancur yang tertahan lama.
Asap ungu beracun itu tersedot masuk ke dalam tanah, lenyap seketika.
Bau busuk dan karat hilang, berganti dengan aroma tanah lembap yang segar, bau padi yang tumbuh subur, bau kehidupan.
Retakan pertama menutup rapat sendiri, menyatu kembali sempurna.
Kedua retakan tertambal.
Ketiga. Keempat. Kelima. Keenam. Semuanya pulih kembali.
Segel itu bersinar terang benderang sekali sampai seluruh ruangan berubah putih menyilaukan mata. Lalu cahayanya perlahan meredup lembut — persis seperti seseorang yang akhirnya selamat dari sakit berat lalu tertidur pulas dan tenang.
Seluruh bangunan Menara Fajar bergetar pelan sekali, lalu diam sepenuhnya. Sunyi. Damai.
Arayan jatuh berlutut di atas batu. Nafasnya tersengal berat dan pendek. Dadanya terasa kosong. Hampa.
Rakan langsung berlari dan menjatuhkan diri berlutut di belakangnya, memeluk erat-erat tubuh sahabatnya itu. “Kau gila… kau benar-benar gila… kenapa harus itu… kenapa harus kenangan yang paling indah itu… kau bodoh sekali…” isaknya tertahan.
Serina berjongkok tepat di depan Arayan. Kedua tangannya memegang lembut kedua pipi wajah sahabatnya itu. Ibu jarinya perlahan menghapus air mata yang terus mengalir. “Lihat aku, Arayan. Kau masih ingat aku kan? Masih ingat kita bertiga adalah Tim Fajar?”
Arayan mengangguk pelan. Matanya tampak kosong dan bingung, seolah ada sesuatu yang hilang namun ia tak tahu apa. “Ingat… Kau… teman dekatku. Yang selalu rapi dan teliti. Yang sering menasehatiku… tapi yang paling baik hati…”
Ia mungkin sudah lupa lagu ibunya. Tapi tubuhnya masih ingat bagaimana rasanya dipeluk dengan rasa aman.
Archmage Adityvar memejamkan matanya rapat. Air mata tua menetes jatuh di pipinya yang keriput. “Terima kasih, Nak. Pengorbananmu menyelamatkan ribuan nyawa. Segel ini akan bertahan kuat selama lima puluh tahun lagi.”
Bagian 3: Tiga Hari Setelahnya
Tiga hari berlalu. Arayan kembali duduk di kelas bersama teman-temannya.
Tapi dia berbeda. Banyak hal berubah. Ia menjadi pendiam, sering melamun menatap ke luar jendela berjam-jam tanpa sadar. Kalau ada orang lain berbicara tentang ibu, tentang orang tua, atau tentang rumah… dadanya tiba-tiba terasa sakit tajam dan sesak, namun ia sama sekali tidak mengerti mengapa hal itu terjadi. Ia hanya akan memegang dadanya erat-erat dan diam saja, bingung dengan rasa sakit yang datang tanpa sebab itu.
Rakan berubah menjadi sangat dekat, tak pernah jauh dari Arayan. Setiap kali istirahat, makan, atau berjalan, ia pasti ada di sampingnya. “Ayo makan dulu. Ini apel favoritmu, ingat kan? Waktu kita pernah mencurinya bareng lalu dikejar Bu Koki sampai lari tak beraturan?” Ia terus berusaha membangun kenangan baru yang kuat untuk mengisi kekosongan itu.
Serina diam-diam berusaha lembut mengajarkan hal-hal yang mungkin pernah ia kenal. “Ini lagu pengantar tidur biasa. Nadanya begini… coba dengarkan baik-baik. Siapa tahu… siapa tahu hatimu masih mengenalnya.”
Mereka berdua berusaha sekuat tenaga mengisi lubang kosong di dada Arayan dengan tawa baru, cerita baru, dan ikatan persahabatan yang makin kuat.
Setiap malam, Arayan sering naik sendirian ke atap menara. Ia akan membuka buku tua itu tepat di halaman kelima.
Noda darah kakaknya masih ada di sana. Namun sekarang, tepat di bawah noda itu, muncul tulisan baru yang tertulis dengan tinta tua yang sama. Tulisan tangan yang tidak ia kenali, tapi terasa sangat akrab. Membaca tulisan itu membuat dadanya terasa perih dan sakit, seolah ia seharusnya tahu siapa yang menulisnya.
“Adikku tersayang. Kalau kau sedang membaca tulisan ini, berarti kau sudah memilih jalan ini. Berarti kau sudah berani membayar harganya. Kakak bangga padamu. Kakak minta maaf karena harus meninggalkan beban berat ini di pundakmu. Ingatlah selalu: kekuatan yang sejati tidak berasal dari mantra atau sihir yang hebat. Tapi berasal dari apa yang rela kau korbankan demi melindungi orang lain. Kakak selalu menyayangimu. Selamanya.”
Arayan menyentuh tulisan itu dengan ujung jari. Air matanya jatuh membasahi kertas tua itu.
Ia tidak tahu siapa yang menulisnya. Ia tidak ingat wajah orang itu. Tapi hatinya tahu dengan pasti: itu adalah orang yang paling ia cintai dan sayangi di seluruh dunia. Dan ia sudah melupakannya.
Bagian 4: Di Sisi Lord Veykar
Jauh sekali dari akademi, di tengah kabut hitam tebal yang tak pernah hilang, berdiri benteng tua yang dibangun dari tulang dan batu gelap.
DUAR!
Lord Veykar menghantamkan tongkatnya sekuat tenaga ke lantai batu keras. Batu itu hancur berantakan menjadi debu halus.
“GAGAL!” raungnya. Suaranya menggelegar dan bergema di seluruh ruangan gelap itu. “SEGEL ITU SUDAH KEMBALI UTUH!”
Di hadapannya tergantung cermin yang terbuat dari air hitam pekat. Di permukaannya terlihat bayangan Arayan — sedang berdiri di halaman akademi, dipaksa tertawa oleh Rakan. Tertawanya terasa kosong, tapi ia tetap tersenyum.
“Dia memilih melepaskan ingatannya,” suara berat terdengar dari kegelapan di sudut ruangan. “Dia memilih melindungi segel daripada menyimpan kenangan paling berharganya.”
Lord Veykar mencengkram pinggiran cermin itu sampai permukaannya retak lebar. Air hitam tumpah membasahi lantai. “Tidak masalah. Rencana Pertama memang gagal.”
Ia berbalik perlahan menuju bagian belakang ruangan. Di sana berdiri tiga peti kayu hitam raksasa, dirantai besi tebal dan berat. Dari dalam peti terdengar suara geraman rendah, cakaran, dan rantai yang bergetar ditarik dari dalam.
“Kalau dia rela mengorbankan ingatan demi segel…” bisik Lord Veykar pelan, suaranya dingin dan penuh niat jahat. “Maka kita akan paksa dia berkorban demi orang-orang yang ada di dekatnya.”
Ia menoleh ke arah tempat Dawnfell Academy berdiri jauh di kejauhan. Di balik topeng tulangnya, tersungging senyum yang mengerikan dan kejam. Matanya menyala merah terang di kegelapan.
“Rencana Kedua. Penculikan. Kita ambil orang yang paling berisik… yang paling dekat dengannya… yang paling dia sayangi sekarang.”
Bagian 5: Malam Itu
Malam itu, di kamar asrama, Arayan kembali terbaring diam menatap langit-langit batu.
Ia merasa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang penting. Sesuatu yang berharga dicuri pergi dari dirinya. Dadanya terasa sakit, kosong, dan ringan sekaligus — tapi ia tidak tahu apa yang hilang itu.
Di kasur sebelah, Rakan tidur nyenyak sambil mendengkur pelan. Di kamar sebelah, Serina masih terjaga, cahaya lampunya masih tembus lewat celah pintu.
Arayan memejamkan matanya rapat.
Ia sudah lupa lagunya. Tapi entah bagaimana… bibirnya bergerak pelan sendiri, bersenandung nada lembut yang tidak ia kenal. Nadanya asing baginya… tapi terasa hangat. Menenangkan.
Sebuah lagu yang pikirannya tidak ingat… tapi tubuhnya masih ingat. Jantungnya masih ingat.
Air mata kembali menetes perlahan, membasahi bantal di bawah kepalanya.
Kreator : Nadya Putri
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: BAB 5: HARGA SEGEL
Sorry, comment are closed for this post.