“Jika masa lalu tidak bisa diubah, apa yang masih bisa kupilih?“
Pada akhirnya, kesembuhan bukan tentang berapa banyak air mata yang berhasil kau keringkan, melainkan tentang seberapa berani kau menggeser sudut pandangmu terhadap luka tersebut.
Aku dan Niken tidak menghancurkan cermin masa lalu… karena sejarah tidak pernah bisa dihapus. Kami hanya memilih untuk tidak lagi tinggal di depan pantulan yang retak itu.
Ada jarak kecil yang dulu tidak pernah ada… jarak antara “kami yang dulu terluka” dan “kami yang hari ini memilih berdiri”.
Dan di jarak itu, kami menemukan udara yang berbeda. Hening… kini bukan lagi jeritan. Melainkan sebuah pernyataan bahwa badai telah dilewati.
Bukan karena kami tidak pernah jatuh, tapi karena kami akhirnya tahu bagaimana cara kembali berdiri tanpa meminta izin siapa pun.
Senyum kami… bukan topeng lagi. Ia adalah bukti kecil bahwa kami masih hidup, masih utuh, meski pernah pecah di banyak bagian yang tidak terlihat.
Ini adalah kemenangan yang paling sunyi.
Tidak ada piala. Tidak ada sorak – sorai. Hanya aku dan Niken, berdiri di atas garis yang kubuat sendiri.
Garis yang memisahkan: apa yang harus ditinggalkan dan apa yang pantas dibawa pulang.
Kami tidak lagi merasa sakit seperti dulu. Bukan karena kami lupa. Tapi karena kami berhenti memberi masa lalu kursi di dalam keputusan hari ini.
Aku dan Niken mulai mengerti: tidak semua hal yang pernah melukai harus terus diajak tinggal.
Kami telah menyelesaikan lompatan. Dari dasar palung yang sunyi, menuju permukaan di mana udara tidak lagi terasa seperti beban.
Dan jika seseorang mencari sisa kehancuran kami,
mereka tidak akan menemukannya di wajah kami. Yang tersisa hanyalah seseorang yang belajar berdiri tanpa harus membuktikan apa pun.
Aku melangkah perlahan, membawa kopi hangat dan sisa tenang di dalam dada. Langit di atas berbisik pelan, seperti tidak ingin mengganggu proses pulang ini:
“Yang selesai bukan dirimu, hanya musim yang kamu tinggali terlalu lama.”
Kami adalah bukti bahwa rasa sakit tidak harus berisik untuk dipahami. Dan pemulihan tidak harus dramatis untuk menjadi nyata.
Kadang, ia hanya berupa satu keputusan kecil: untuk tidak lagi tinggal di tempat yang sama.
“Kita tidak bisa terus hidup dalam masa lalu.
Tapi kita bisa memilih apa yang ingin kita bawa ke masa depan.”
Dan hari ini, aku dan Niken memilih diri sendiri.
Kreator : Missel Sahambe [Holiness Divine Joyful]
Comment Closed: Bab.6. Kedaulatan Diri
Sorry, comment are closed for this post.