Pagi itu, Galang bangun lebih awal dari biasanya.
Ia mandi, merapikan rambut, dan mengenakan kemeja yang jarang dipakainya. Di cermin, ia melihat pantulan dirinya sendiri. Wajahnya tampak tegang.
Hari ini ia harus datang ke percetakan Bu Mirah.
Galang tidak tahu apa yang akan terjadi. Apakah ini wawancara? Apakah hanya perkenalan? Atau mungkin Bu Mirah hanya ingin mengatakan bahwa lamarannya ditolak secara langsung?
Berbagai kemungkinan berputar di kepalanya.
Dari luar kamar, terdengar suara Ratri menyiapkan sarapan. Galang keluar dan duduk di meja makan.
“Wah, rapi sekali,” kata Ratri sambil tersenyum.
“Biasa aja, Bu.”
“Gugup?”
“Sedikit.”
Ratri menuangkan teh hangat ke dalam gelas.
“Santai saja. Kamu pasti bisa.”
Galang mengangguk, meskipun hatinya tidak setenang itu.
Digantara keluar dari kamar dengan seragam kerja. Ia melihat Galang yang sudah rapi.
“Sudah siap?” tanyanya.
“Sudah, Yah.”
“Jangan terlambat.”
“Iya.”
Digantara duduk di seberang Galang. Ia memperhatikan anaknya sambil meminum kopi.
“Kamu bawa portofolio?”
Galang mengangguk.
“Sudah.”
“Jangan grogi. Bicara yang jelas.”
“Iya.”
“Kalau ditanya pengalaman, ceritakan apa yang pernah kamu kerjakan. Jangan bilang tidak ada.”
“Iya, Yah.”
Digantara terdiam sebentar, lalu melanjutkan.
“Kalau mereka tanya kenapa tidak kuliah, jawab dengan jujur. Tapi jangan terdengar seperti menyerah.”
Galang menatap ayahnya.
“Maksudnya?”
“Maksudnya, jangan bilang kamu tidak kuliah karena takut atau malas. Bilang saja kamu ingin fokus mengembangkan kemampuan di bidang ini.”
Galang mengangguk pelan.
Namun di dalam hatinya, ia merasa tidak nyaman. Ayahnya selalu punya cara untuk membuat nasihat terdengar seperti teguran.
“Yah,” kata Galang pelan.
“Apa?”
“Saya tahu saya harus serius.”
“Kalau tahu, kenapa baru sekarang?”
Galang terdiam.
Digantara melanjutkan.
“Kamu sudah dua tahun di rumah, Galang. Dua tahun. Teman-temanmu sudah kerja. Sebagian sudah kuliah semester akhir. Kamu? Masih di kamar.”
“Saya sudah coba cari kerja.”
“Coba saja tidak cukup. Harus dapat.”
Galang mengepalkan tangannya di bawah meja.
“Saya tahu saya mengecewakan Ayah.”
“Bukan soal mengecewakan. Ini soal masa depanmu.”
“Masa depan saya, atau masa depan yang Ayah inginkan?”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Digantara menatap Galang dengan tajam.
“Apa maksudmu?”
Galang menarik napas.
“Ayah selalu bilang saya harus seperti ini, harus seperti itu. Tapi Ayah tidak pernah tanya apa yang saya mau.”
“Kamu mau apa? Duduk di kamar selamanya?”
“Saya mau punya waktu untuk mencari tahu siapa saya.”
Digantara tertawa sinis.
“Mencari tahu siapa kamu? Kamu pikir hidup itu ada waktunya untuk hal seperti itu? Orang harus kerja, Galang. Harus cari uang. Harus tanggung jawab.”
“Seperti Ayah?”
Digantara terdiam.
Galang melanjutkan dengan suara bergetar.
“Ayah kerja puluhan tahun. Gaji pas-pasan. Setiap bulan hitung-hitungan. Apa itu yang Ayah mau saya jalani juga?”
Ratri yang mendengar dari dapur langsung keluar.
“Galang, jangan bicara seperti itu.”
“Tapi itu kenyataan, Bu.”
Digantara bangkit dari kursi. Wajahnya memerah.
“Kamu pikir hidup Ayah mudah? Kamu pikir Ayah senang hidup seperti ini?”
“Lalu kenapa Ayah mau saya jadi seperti Ayah?”
“Karena Ayah tidak mau kamu jadi lebih buruk!”
Suara Digantara menggelegar di ruang makan.
Galang terdiam. Ratri menutup mulutnya.
Digantara menarik napas, berusaha menenangkan diri.
“Ayah bekerja supaya kamu bisa sekolah,” katanya dengan suara lebih pelan, tetapi tetap tegas. “Supaya kamu punya pilihan yang Ayah tidak punya. Tapi kamu malah menyia-nyiakan itu.”
Galang menunduk.
“Saya tidak menyia-nyiakan.”
“Lalu apa namanya? Kamu punya kemampuan, tapi tidak dipakai. Kamu punya kesempatan, tapi tidak diambil.”
“Karena saya takut gagal!”
Kalimat itu keluar dengan keras.
Galang menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
“Saya takut gagal, Yah. Saya takut mencoba dan ternyata saya tidak cukup baik. Saya takut Ayah semakin kecewa.”
Digantara terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia melihat anaknya tidak sebagai pemuda yang malas, tetapi sebagai seseorang yang ketakutan.
Ratri mendekati Galang dan memegang bahunya.
“Tidak apa-apa takut,” katanya lembut. “Tapi jangan biarkan rasa takut itu menghentikanmu.”
Galang menghapus air matanya dengan punggung tangan.
“Saya sudah mencoba, Bu. Berkali-kali. Tapi setiap kali gagal, rasanya semakin berat untuk mencoba lagi.”
Digantara duduk kembali. Ia menatap anaknya dengan perasaan campur aduk.
Ia ingin marah. Ia ingin mengatakan bahwa hidup memang keras dan Galang harus belajar menghadapinya.
Namun ia juga melihat dirinya sendiri dalam diri Galang.
Dulu, Digantara juga pernah takut. Takut tidak bisa menghidupi keluarga. Takut tidak cukup baik sebagai ayah. Takut gagal.
Namun ia tidak pernah mengungkapkan rasa takut itu kepada siapa pun. Ia hanya terus bekerja, terus berjuang, dan menyimpan semua kekhawatirannya sendiri.
Mungkin itulah kesalahannya.
Mungkin ia terlalu keras kepada Galang karena ia tidak ingin anaknya merasakan ketakutan yang sama.
Namun dengan bersikap keras, ia justru membuat Galang semakin takut.
Digantara menarik napas panjang.
“Pergi sana,” katanya pelan. “Jangan sampai terlambat.”
Galang menatap ayahnya.
“Yah—”
“Pergi. Kita bicarakan nanti.”
Galang mengangguk. Ia mengambil tas berisi portofolio dan bergegas keluar.
Setelah Galang pergi, Ratri duduk di samping Digantara.
“Kamu terlalu keras,” katanya.
“Aku hanya ingin dia serius.”
“Dia sudah serius. Dia hanya butuh dukungan, bukan tekanan.”
Digantara menatap cangkir kopinya yang sudah dingin.
“Aku tidak tahu cara lain.”
Ratri memegang tangan suaminya.
“Coba dengarkan dia. Jangan hanya bicara.”
Digantara terdiam.
Ia tahu Ratri benar.
Namun mengubah cara berbicara setelah puluhan tahun bukanlah hal yang mudah.
Kreator : Sukirno (Kirno Nugraha)
Comment Closed: Bab 6 — Nasihat yang Terdengar Seperti Amarah
Sorry, comment are closed for this post.