Kota Tanjung Pandan baru beranjak dari peraduannya. Mulai menggeliat aktivitas di jalanan. Pagi itu langit belum terlalu terang tetapi tidak ada awan gelap. Biru bersih dengan cahaya kekuningan di cakrawala Timur. Udara terasa sejuk dengan aroma rumput basah yang mulai menguap. Paru-paruku menikmati asupan udara bersih kaya oksigen sepuas-puasnya. Di sini, bernapas di luar rumah terasa sangat lega tanpa polutan. Dulu ketika berada di kota besar, bernapas pun seperti berebut oksigen. Menghirup udara dengan banyak polutan dan dulu aku sering sekali sakit, terutama radang tenggorokan dan alergi. Beberapa minggu di Belitung, rhinitis alergi-ku hanya di pagi hari dan tidak lama setelah matahari naik, alergi itu hilang dengan sendirinya tanpa obat .
Kendaraan roda empat masih sangat jarang, lebih banyak kendaraan roda dua. Dan selama hampir sebulan di Pulau Belitung, aku belum pernah melihat angkot. Jalanannya lebar dan hampir semuanya beraspal tidak berlubang-lubang. Aku membayangkan jalanan ini bisa dipakai untuk pesawat mendarat saking mulus dan lurus. Jalanan yang sangat diidamkan para pengguna jalan.
Pagi itu aku ingin mencoba bersepeda menyusuri kota Tanjung Pandan. Aku merasa sudah cukup lama tidak membakar kalori. Kondisi kota yang bersih, pagi yang teduh dan jalanan yang tidak ramai menarik minatku untuk bersepeda. Aku sudah siap dengan setelan baju olahraga, kacamata hitam, topi dan sepeda single speed jenis Fixie yang baru kami beli. Rumah sudah beres, anak-anak sudah dimandikan Eyang Putrinya yang kebetulan datang. Aku memperkirakan hanya akan bersepeda tidak lebih dari 2 jam dengan jarak sekitar 10 sampai 15 kilometer.
Karena aku belum hafal dengan rute jalan di Tanjung Pandan, maka aku memakai fitur Google Map yang jaman itu masih termasuk fitur canggih. Jaman peralihan dari ponsel layar imut ke ponsel pintar layar lebar. Memiliki fitur itu terasa keren sekali. Ketika mencari lokasi, alamat rumah, tidak lagi perlu banyak perhentian untuk bertanya. Selama di kota besar, fitur ini sangat membantu. Maka jadilah aku memulai perjalananku dengan panduan Mbak Google. Kusebut “Mbak” karena bersuara perempuan. Kuamati sebentar rute yang tergambar di layar. Arah panah menunjuk ke rute Jalan Gatot Subroto. Aku mulai menggowes dengan penuh semangat.
Sampai di simpang empat bernama Kampung Ujung, lampu lalu lintas berwarna hijau, dan Mbak Google mengatakan “terus” ke Jalan Diponegoro. Aku yakin saja. Memasuki Jalan Diponegoro hatiku mulai ciut melihat sebuah lintasan menurun dan di depannya jelas sebuah tanjakan yang lumayan terjal menanti. Sepedaku meluncur cepat menuruni jalan menurun tajam, dan dalam beberapa detik aku menghadapi kenyataan ada tanjakan sejauh 50 meteran yang harus kudaki. Tanjakan dengan kemiringan hampir 30 derajat. Hatiku berdebat. Turun atau gowes? Tapi kuputuskan terus menggowes demi gengsi dengan segenap tenaga dan kekuatan otot kaki. Posisiku tidak lagi duduk di sadel, tapi berdiri demi mendapat daya gowes yang maksimal untuk melampaui tanjakan legendaris, Tegil Kik Dagul. Orang Belitong menyebut “tegil” untuk tanjakan. Fixie ini memang keren dan manis tampilannya, tetapi ketika berhadapan dengan medan menanjak begini, sungguh sengsara dibuatnya.
Lima puluh meter aku lampaui dengan napas dan detak jantung tak lagi bisa kuhitung per menitnya. Mbak Google bersuara lagi menyuruh terus saat berada di simpang tiga. Seratus meter belok kiri, katanya. Aku mengatur napas dengan susah payah, tapi kakiku tetap menggowes. Kuturuti perintah Mbak Google. Sekali lagi lampu traffic berwarna hijau dan aku segera berbelok ke kiri.
Alamak,..aku kembali terkejut. Tegil Aik Pancur (Tanjakan Air Pancur) telah menunggu di depan mata. Keringatku bercucuran deras. Napasku belum lagi teratur, sepeda sudah kembali meluncur cepat. Aku meneguhkan hati, memberi jeda beberapa detik untuk otot kakiku mempersiapkan energinya selama meluncur. Gengsi yang besar, malu kalau harus menuntun sepeda saat menanjak, aku bertahan di atas Fixie. Segenap energi dari kalori Nasi Goreng Seafood semalam dan dua telor rebus pagi tadi mulai habis terbakar kurasakan. Ini baru setengah perjalanan, pikirku. Aku tak sanggup lagi. Hatiku berteriak minta pulang.
Di Simpang Terminal aku memutuskan mengabaikan Mbak Google. Kepalaku terasa sakit mendengar perintahnya untuk terus. Aku berhenti dan bertanya kepada seorang bapak di pinggir jalan. Masih dengan napas tersengal aku menghampirinya.
“Maaf, Pak, numpang bertanya,” kataku kelelahan.
Beliau memperhatikan kondisiku yang basah kuyup oleh keringat. Kutanyakan arah mana yang harus kutempuh untuk menuju ke Puskesmas Air Saga. Dan dengan lugu dia menunjuk ke arah belakangku. Arah dari mana aku datang. Aku menelan ludah, merasa putus asa membayangkan Tegil Aik Pancur dan Tegil Kik Dagul lagi.
“Mun dak, kuang juak liwat sini, Buk. Belok kiri terus, ade simpang empat, terus aja, kinik tembus di GOR (Gedung Olah Raga), masuk Diponegoro ke kanan, teruslah itu usa belok-belok,”(Kalau tidak, bisa juga lewat sini,Bu, Belok kiri terus, ada simpang empat, terus saja, nanti tembus di GOR, masuk Diponegoro ke kanan, teruslah jangan belok-belok) katanya seperti tak tega melihatku. “Tapi kinik ade Tegil Kik Dagul, ikam turun aja, dorong.”( Tapi nanti ada Tanjakan Kik Dagul, anda turun saja, dorong(sepeda)).
Aku mengeluh dalam hati.., masih ketemu juga dengan tegil itu.
Singkat cerita akhirnya aku mencoba cara manual. Di setiap persimpangan aku berhenti untuk bertanya kepada siapa saja yang kutemui. Bertanya jalan mana yang bisa menuju ke Air Saga tanpa melewati Tegil Kik Dagul. Setelah lima kali berhenti bertanya, akhirnya aku sampai juga di rumah. Hilang semua pesona pagi tadi. Aku nyaris susah berdiri. Kedua kakiku gemetar karena kelelahan. Tulang ekorku terasa sakit saat duduk. Detak jantungku sampai sore masih belum kembali normal. Dan tragisnya, aku justru ditertawakan suamiku ketika mengadu. Sambil memijat betisku dia mendengar dengan menahan tawa.
Sekarang Tegil Kik Dagul dan Tegil Aik Pancur sudah tidak securam dulu. Sudah lebih landai karena beberapa kali mengalami perbaikan jalan dan di aspal ulang, bagian cekungannya di tinggikan. Namun begitu, aku tidak pernah ingin mengulang dua kali. Bagiku itu menjadi pengalaman pahit yang sekarang menjadi lucu bila kukenang. Aku tak lagi pernah bersepeda sejak itu. Aku lebih memilih berjalan kaki sebagai olahraga rutin. Jauh lebih aman seiring usia dan berat badan yang bertambah.
Sekarang, ketika melintasi kedua tanjakan itu, aku sering tersenyum mengingat saat dua minggu aku berjalan seperti Cowboy karena paha yang lecet, serta tulang ekor dan betis yang nyeri. Dan sejak hari itu juga, aku tidak pernah lagi percaya pada Google Map..kecuali kepepet.
Kreator : drg. Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)
Comment Closed: BAB 6_DISIKSA GOOGLE MAP
Sorry, comment are closed for this post.