Siang menjelang sore, matahari masih terik.
Misi “Nol Rupiah” hari ini kuawali. Alhamdulillah, dari pagi belum mengeluarkan isi dompet. Masih nol rupiah.
Kuceki bumbu dapur. Oke. Bahan baku masih ada. Semua aman terkendali.
Bakul sayur lewat pun kuucap dadah. Sinyal-sinyal optimisme mulai mengudara.
Aku tersenyum kecil dalam hati. “Hampir berhasil,” kataku, memompa diri sendiri.
Selepas Asar, kulirik ponsel untuk mengecek waktu.
Jam 15.30. Waktunya persiapan pulang kerja.
Kututup jendela dan pintu ruanganku. Sepeda motor sudah memanggil.
Kuusap joknya pelan. “Yuk, pulang. Kita selesaikan misi hari ini, ya.”
Kulewati jalan sepi, sengaja.
Biar rodaku tidak goyah, tidak berbelok ke toko-toko penebar promo.
20 menit kemudian, sampai di rumah.
Berhasil. Motor berjalan sesuai kendali. “Aku menang,” bisikku.
Saatnya bersantai sejenak. Mengapresiasi diri atas ikhtiar hari ini.
Kubuka ponsel sebagai teman rehat.
Tak terasa, tiba-tiba teringat.
Lututku butuh “oli”. Rencana lama: beli alat untuk terapi.
“Tapi diet belanja gimana nih…”
“Baiklah, simpan dulu saja di keranjang,” batinku menjawab.
Namun… promo hari ini, harga turun 30%, lumayan. Masih tambah gratis ongkir katanya, Disamping itu, lututku memang sedang butuh perhatian.
Lutut butuh dirawat. Ingat rasanya kalau sakit menyengat. Jangan sampai lagi.
Lebih baik segera check out. Mumpung habis gajian.
Dan… transaksi pun terjadi.
Deal. Resmi kubeli sebuah alat terapi.
Nol Rupiah hari ini…
Fix, hangus.
Ikhlas. Adakalanya butuh satu momen berkorban.
Di tengah perjuangan menuju nol rupiah.
Misi hari pertama gagal.
Tapi terapi lutut berlanjut.
Kreator : Yeti Ristanti
Comment Closed: BAB I Korban Iklan… (Gara-gara si promo lewat)
Sorry, comment are closed for this post.