Hari-hari pertama sekolah sudah berlalu, ini sudah memasuki minggu-minggu efektif untuk belajar dengan pelajaran lama yang telah dikenal anak-anak waktu duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan pelajaran-pelajaran baru yang dikenalnya pada saat ini, di bangku Sekolah Pertama (SMP).
Alana bukan termasuk anak yang banyak bicara, entah mungkin karena baru mengenal teman-teman barunya, jadi ia masih masa penyesuaian. Tapi ia juga bukan anak yang bermasalah, lurus-lurus saja dalam pertemanan. Dalam pembelajaran ia juga masuk kategori anak yang pintar dalam pembelajaran. Mungkin ini baru awal jadi belum terlalu terlihat bagaimana gerak dan langkahnya dalam perjalanan saat menimba ilmu di bangku SMP.
Ia termasuk anak yang sopan kepada semua teman dan juga hormat kepada guru, serta tak pernah membuat keributan.
Bu Yulisa diam-diam memperhatikan gerak gerik anak ini. Ada satu hal yang Bu Yulisa ketahui bahwa Alana seringkali mengatakan, “Aku tidak apa-apa” Ketika teman-teman bertanya “Kamu kenapa?”
Saat wajahnya terlihat sakit, teman-temannya pun selalu menanyainya, “Kamu sakit?” Jawabnya selalu, “tidak, aku tidak apa-apa?”
Ketika nilainya turun, seringkali teman-temannya bertanya kepadanya: “kamu kecewa?” Selalu jawabannya : “tidak, aku tidak apa-apa.”
Bu Yulisa baru menyadarinya, bahwa anak yang sering mengatakan dirinya baik-baik saja, belum tentu benar baik-baik saja keadaannya.
Suatu siang, setelah pelajaran selesai, hampir semua murid sudah meninggalkan kelas dan pulang menuju rumah.
Alana masih duduk di bangkunya. Ia memasukkan buku ke dalam tas dengan perlahan tanpa tergesa-gesa. Bu Yulisa yang sedang merapikan buku memperhatikannya.
“Alana,” tegur Bu Yulisa padanya.
“Iya, Bu?” sahut Alana dengan sopan.
“Kamu belum pulang?”
“Sebentar, Bu.”
Bu Yulisa mendekati Alana dan membuka pembicaraan dengan lembut. “Kamu menunggu seseorang?”
Alana menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Kalau begitu kenapa belum pulang juga ?”
Alana terdiam sejenak lalu menjawabnya.
“Tidak apa-apa, Bu.”
Bu Yulisa langsung tersenyum. “Nah, itu lagi.”
“Apa, Bu?” tanya Alana dengan wajah tak mengerti.
“Kalimat andalanmu apabila ditanya,” sahut Bu Yulisa.
Dengan wajah tersenyum malu, Alana berkata dengan santun. “Saya memang tak apa-apa, Bu. Jadi, itu saja yang bisa saya jawab.”
Kemudian Bu Yulisa duduk di kursi dekat Alana, dan mulai bicara lagi. “Kalau begitu, boleh Ibu bertanya sesuatu ?”
“Boleh, silahkan, Bu.”
“Kenapa wajahmu seperti sedang menyimpan sesuatu ?”
Alana cuma menunduk saja, hanya mulutnya yang mengeluarkan kata-kata. “Tidak ada, Bu.”
Bu Yulisa tidak memaksa Alana untuk menjawab, ia hanya duduk diam dengan senyum manis yang terpancar di wajahnya yang tidak lagi muda, namun masih terlihat hangat dan menenangkan.
Beberapa detik berlalu, kemudian Bu Yulisa berkata, “Alana, kamu tidak harus terlihat kuat.”
Tiba-tiba Alana mengangkat wajahnya.
Bu Yulisa terus saja berbicara lembut kepada Alana. “Kalau sedih, boleh sedih. Kalau sedang capek, boleh bilang capek. Kalau sedang takut, boleh bilang takut. Dan, kalau suatu hari kamu ingin menangis, menangis saja. Apapun yang kamu rasakan keluarkan atau ekspresikan aja menurut caramu, tidak usah kamu pendam di dalam hati.”
Alana menatap Bu Yulisa seolah sedang meminta kekuatan. “Kenapa Ibu bilang begitu?”
Bu Yulisa menjawab dengan sigap. “Karena kamu masih anak-anak.”
Alana tersenyum tipis mendengar jawaban Bu Yulisa dan langsung menjawab, “Saya sudah SMP dan masih anak ibu.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Alana tanpa disadari sebelumnya.
Bu Yulisa sendiri tidak menyadari betapa dalam kalimat itu akan tertanam di hati Alana. Alana sendiri setelah mengucapkan itu langsung terdiam dengan seribu bahasa, kayak orang merasa bersalah yang telah mengeluarkan kata-kata itu.
Bu Yulisa mencoba mengkaji ulang apa yang telah diucapkan oleh Alana barusan di dalam pikirannya, “Anak ibu.” Entah mengapa dua kata itu membuat dadanya terasa hangat. Bu Yulisa mengambil sebotol air dari tasnya.
“Minum?” tawarnya kepada Alana.
Alana pun menerimanya dengan senang hati, ia pun merasakan hal yang sama dengan perasaan Bu Yulisa. Ia pun berkata pelan, “Terima kasih, Bu.”
“Sudah makan?” tanya Bu Yulisa.
Alana cuma diam, dan Bu Yulisa sudah tahu jawabannya, pasti belum. Persis dengan dugaan Bu Yulisa, Alana pun menggelengkan kepalanya. Bu Yulisa pun menyambung pertanyaannya.
“Kenapa jadi belum?”
“Tadi tak sempat,” ujarnya.
Bu Yulisa membuka tasnya dan mengeluarkan makanan ringan dan memberikan kepada Alana.
“Ini untukmu.”
Alana menatapnya. “Untuk saya?”
“Iya.” Jawab Bu Yulisa dengan senyum yang indahnya.
“Jangan, nanti Ibu tak punya lagi,” tolak Alana dengan lemah lembut.
Bu Yulisa tertawa kecil, “Ibu masih punya lagi.”
Alana akhirnya mau menerimanya dan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.
“Besok jangan lupa makan ya,” ujar Bu Yulisa tersenyum.
“Iya, Bu.”
“Janji?” kata Bu Yulisa dengan tatapan yang hangat.
Dengan tersenyum ceria Alana pun memberi jawaban, “Janji.”
Sejak hari itu, sesuatu berubah. Tidak besar, tidak terlihat, tetapi ada sebuah ruang kecil dalam hati Alana yang mulai memberikan tempat kepada Bu Yulisa. Al ana pun beranjak pulang menuju halaman sekolah untuk mengambil sepedanya dengan diantar Bu Yulisa sampai gerbang sekolah. Tak lupa Alana saliman dengan Bu Yulisa dengan mencium tangan beliau.
“Terima kasih, bu atas semua kata-kata ibu hari ini,” ucap Alana dengan tulus ikhlas.
“Kembali kasih, anak manis. Hati-hati di jalan dan jangan lupa makan siang ya dirumah habis itu istirahat supaya besok bisa beraktivitas kembali,” nasehat Bu Yulisa.
“Inggih, Bu. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” pamit Alana.
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,” sahut Bu Yulisa sambil melambaikan tangan.
Alana pun tak lupa balas melambaikan tangan pula. Ternyata dua hati sudah mulai terasa dekat, walaupun hanya sedikit kata-kata terucap namun penuh makna yang tak pernah disadari satu sama lain.
Kreator : Yuliati Wardina
Comment Closed: BAB II – ANAK YANG SELALU BERKATA TIDAK APA-APA
Sorry, comment are closed for this post.