KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB II – ANAK YANG SELALU BERKATA TIDAK APA-APA

    BAB II – ANAK YANG SELALU BERKATA TIDAK APA-APA

    BY 18 Okt 2026 Dilihat: 16 kali
    Pertemuan Di Awal Tahun Ajaran_alineaku

    Hari-hari pertama sekolah sudah berlalu, ini sudah memasuki minggu-minggu efektif untuk belajar dengan pelajaran lama yang telah dikenal anak-anak waktu duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan pelajaran-pelajaran baru yang dikenalnya pada saat ini, di bangku Sekolah Pertama (SMP).

         Alana bukan termasuk anak yang banyak bicara, entah mungkin karena baru mengenal teman-teman barunya, jadi ia masih masa penyesuaian. Tapi ia juga bukan anak yang bermasalah, lurus-lurus saja dalam pertemanan. Dalam pembelajaran ia juga masuk kategori anak yang pintar dalam pembelajaran. Mungkin ini baru awal jadi belum terlalu terlihat bagaimana gerak dan langkahnya dalam perjalanan saat menimba ilmu di bangku SMP. 

         Ia termasuk anak yang sopan kepada semua teman dan juga hormat kepada guru, serta tak pernah membuat keributan. 

       Bu Yulisa diam-diam memperhatikan gerak gerik anak ini. Ada satu hal yang Bu Yulisa ketahui bahwa Alana seringkali mengatakan, “Aku tidak apa-apa” Ketika teman-teman bertanya “Kamu kenapa?” 

      Saat wajahnya terlihat sakit, teman-temannya pun selalu menanyainya, “Kamu sakit?”  Jawabnya selalu, “tidak, aku tidak apa-apa?” 

     Ketika nilainya turun, seringkali teman-temannya bertanya kepadanya: “kamu kecewa?” Selalu jawabannya : “tidak, aku tidak apa-apa.”

         Bu Yulisa baru menyadarinya, bahwa anak yang sering mengatakan dirinya baik-baik saja, belum tentu benar baik-baik saja keadaannya.

         Suatu siang, setelah pelajaran selesai, hampir semua murid sudah meninggalkan kelas dan pulang menuju rumah.

      Alana masih duduk di bangkunya. Ia memasukkan buku ke dalam tas dengan perlahan tanpa tergesa-gesa. Bu Yulisa yang sedang merapikan buku memperhatikannya.

         “Alana,” tegur Bu Yulisa padanya.

         “Iya, Bu?” sahut Alana dengan sopan. 

         “Kamu belum pulang?”

         “Sebentar, Bu.”

         Bu Yulisa mendekati Alana dan membuka pembicaraan dengan lembut. “Kamu menunggu seseorang?”

         Alana menggelengkan kepalanya dengan cepat.

         “Kalau begitu kenapa belum pulang juga ?”

         Alana terdiam sejenak lalu menjawabnya. 

    “Tidak apa-apa, Bu.”

         Bu Yulisa langsung tersenyum. “Nah, itu lagi.”

         “Apa, Bu?” tanya Alana dengan wajah tak mengerti.

         “Kalimat andalanmu apabila ditanya,” sahut Bu Yulisa.

         Dengan wajah tersenyum malu, Alana berkata dengan santun. “Saya memang tak apa-apa, Bu. Jadi, itu saja yang bisa saya jawab.”

         Kemudian Bu Yulisa duduk di kursi dekat Alana, dan mulai bicara lagi. “Kalau begitu, boleh Ibu bertanya sesuatu ?”

         “Boleh, silahkan, Bu.”

         “Kenapa wajahmu seperti sedang menyimpan sesuatu ?”

         Alana cuma menunduk saja, hanya mulutnya yang mengeluarkan kata-kata. “Tidak ada, Bu.”

    Bu Yulisa tidak memaksa Alana untuk menjawab, ia hanya duduk diam dengan senyum manis yang terpancar di wajahnya yang tidak lagi muda, namun masih terlihat hangat dan menenangkan.

      Beberapa detik berlalu, kemudian Bu Yulisa  berkata, “Alana, kamu tidak harus terlihat kuat.”  

         Tiba-tiba Alana mengangkat wajahnya.

         Bu Yulisa terus saja berbicara lembut kepada Alana. “Kalau sedih, boleh sedih. Kalau sedang capek, boleh bilang capek. Kalau sedang takut, boleh bilang takut. Dan, kalau suatu hari kamu ingin menangis, menangis saja. Apapun yang kamu rasakan keluarkan atau ekspresikan aja menurut caramu, tidak usah kamu pendam di dalam hati.”

         Alana menatap Bu Yulisa seolah sedang meminta kekuatan. “Kenapa Ibu bilang begitu?”  

         Bu Yulisa menjawab dengan sigap. “Karena kamu masih anak-anak.”

         Alana tersenyum tipis mendengar jawaban Bu Yulisa dan langsung menjawab, “Saya sudah SMP dan masih anak ibu.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Alana tanpa disadari sebelumnya. 

         Bu Yulisa sendiri tidak menyadari betapa dalam kalimat itu akan tertanam di hati Alana. Alana sendiri setelah mengucapkan itu langsung terdiam dengan seribu bahasa, kayak orang merasa bersalah yang telah mengeluarkan kata-kata itu.

         Bu Yulisa mencoba mengkaji ulang apa yang telah diucapkan oleh Alana barusan di dalam pikirannya, “Anak ibu.” Entah mengapa dua kata itu membuat dadanya terasa hangat. Bu Yulisa mengambil sebotol air dari tasnya.

         “Minum?” tawarnya kepada Alana.

         Alana pun menerimanya dengan senang hati, ia pun merasakan hal yang sama dengan perasaan Bu Yulisa. Ia pun berkata pelan, “Terima kasih, Bu.”

         “Sudah makan?” tanya Bu Yulisa.

         Alana cuma diam, dan Bu Yulisa sudah tahu jawabannya, pasti belum. Persis dengan dugaan Bu Yulisa, Alana pun menggelengkan kepalanya. Bu Yulisa pun menyambung pertanyaannya. 

    “Kenapa jadi belum?”

         “Tadi tak sempat,” ujarnya.

         Bu Yulisa membuka tasnya dan mengeluarkan makanan ringan dan memberikan kepada Alana. 

    “Ini untukmu.”     

         Alana menatapnya. “Untuk saya?”

         “Iya.” Jawab Bu Yulisa dengan senyum yang indahnya.

         “Jangan, nanti Ibu tak punya lagi,” tolak Alana dengan lemah lembut.

         Bu Yulisa tertawa kecil, “Ibu masih punya lagi.”

         Alana akhirnya mau menerimanya dan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.

         “Besok jangan lupa makan ya,” ujar Bu Yulisa tersenyum.

         “Iya, Bu.”

         “Janji?” kata Bu Yulisa dengan tatapan yang  hangat.

         Dengan tersenyum ceria Alana pun memberi jawaban, “Janji.”

         Sejak hari itu, sesuatu berubah. Tidak besar, tidak terlihat, tetapi ada sebuah ruang kecil dalam hati Alana yang mulai memberikan tempat kepada Bu Yulisa. Al ana pun beranjak pulang menuju halaman sekolah untuk mengambil sepedanya dengan diantar Bu Yulisa sampai gerbang sekolah. Tak lupa Alana saliman dengan Bu Yulisa dengan mencium tangan beliau.

         “Terima kasih, bu atas semua kata-kata ibu hari ini,” ucap Alana dengan tulus ikhlas.

         “Kembali kasih, anak manis. Hati-hati di jalan dan jangan lupa makan siang ya dirumah habis itu istirahat supaya besok bisa beraktivitas kembali,” nasehat Bu Yulisa.

         “Inggih, Bu.  Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” pamit Alana.

         “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,” sahut Bu Yulisa sambil melambaikan tangan.

         Alana pun tak lupa balas melambaikan tangan pula. Ternyata dua hati sudah mulai terasa dekat, walaupun hanya sedikit kata-kata terucap namun penuh makna yang tak pernah disadari satu sama lain.

     

     

    Kreator : Yuliati Wardina

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB II – ANAK YANG SELALU BERKATA TIDAK APA-APA

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021