Selamat Datang di Negeri Huruf
Beni berdiri terpaku.
Matanya membelalak kagum melihat Desa Alfabet yang terbentang di hadapannya. Langit di sana berwarna biru muda seperti halaman buku yang bersih. Awan-awan berbentuk huruf melayang perlahan di udara. Ada awan berbentuk A, awan berbentuk B, bahkan awan berbentuk Z yang tampak menguap sambil mengantuk.
Jalan-jalan desa dibuat dari susunan kata-kata berwarna-warni.
Di sepanjang jalan berdiri rumah-rumah unik yang bentuknya menyerupai huruf. Rumah A menjulang tinggi seperti tenda raksasa. Rumah O berbentuk bulat sempurna seperti donat besar. Rumah E memiliki tiga balkon kecil yang tersusun rapi.
Namun keindahan itu tertutupi oleh suasana panik.
Huruf-huruf berlarian ke sana kemari.
“Aku tidak menemukan rumahku!”
“Ini jalan yang salah!”
“Siapa yang memindahkan papan petunjuk?”
“Tolong! Aku tersesat lagi!”
Beni melihat huruf M menabrak huruf N.
Huruf K salah masuk ke rumah H.
Sementara huruf S berjalan berputar-putar tanpa arah.
“Wah…” gumam Beni.
“Keadaannya lebih parah dari yang kubayangkan.”
Huruf b kecil mengangguk sedih.
“Kami sudah berusaha memperbaikinya sendiri, tetapi semua papan petunjuk berubah arah.”
“Kalau begitu kita harus mencari penyebabnya,” kata Beni.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Desa Alfabet, huruf b tersenyum.
“Aku tahu kita meminta bantuan orang yang tepat.”
Walikota Huruf A
Huruf b mengajak Beni menuju pusat desa.
Di tengah desa berdiri bangunan besar berbentuk huruf A berwarna emas. Bangunan itu tampak megah dibandingkan rumah-rumah lainnya.
“Ini Balai Alfabet,” jelas huruf b.
“Di sini tinggal Walikota Huruf A.”
Mereka masuk ke dalam.
Di ruangan besar itu duduk Huruf A tua berjanggut putih panjang. Ia mengenakan jubah biru dan kacamata bundar yang hampir melorot dari hidungnya.
“Akhirnya kau datang juga,” kata Huruf A.
Beni terkejut.
“Bapak tahu tentang saya?”
“Tentu,” jawab Huruf A sambil tersenyum.
“Seluruh Desa Alfabet mengetahui tentang anak yang selalu berusaha memahami huruf-huruf meskipun huruf-huruf itu sering membuatnya bingung.”
Beni menunduk malu.
Huruf A lalu mengeluarkan sebuah gulungan kertas tua.
“Kekacauan ini bermula tiga malam lalu.”
Ia membuka gulungan itu di atas meja.
Di sana tergambar peta Desa Alfabet.
Namun bagian tengah peta tampak sobek.
“Peta Arah Huruf telah dicuri.”
“Dicuri?” tanya Beni.
Huruf A mengangguk.
“Selama ratusan tahun, peta itu menjaga setiap huruf tetap berada di tempat yang benar.”
“Kalau petanya hilang?”
“Maka seluruh desa akan kehilangan arah.”
Beni mulai memahami masalahnya.
“Jadi kita harus menemukan peta itu?”
“Benar,” kata Huruf A.
“Dan hanya orang yang mampu memahami kebingungan huruf-huruf yang bisa menemukannya.”
Semua mata langsung memandang Beni.
Petunjuk Pertama
Huruf A menyerahkan sebuah kompas aneh.
Kompas itu tidak memiliki angka.
Jarumnya justru berbentuk pensil kecil.
“Ini Kompas Kata,” jelas Huruf A.
“Kompas ini akan menunjukkan jalan menuju petunjuk berikutnya.”
Beni menerima kompas itu dengan hati-hati.
Tiba-tiba jarum pensil bergerak sendiri.
Putar…
Putar…
Putar…
Lalu berhenti mengarah ke hutan di tepi desa.
“Hutan Kata Terbalik,” kata huruf b pelan.
Beni mengangkat alis.
“Namanya terdengar menyeramkan.”
“Memang sedikit menyeramkan,” jawab huruf b.
“Di sana semua tulisan bisa berubah-ubah.”
Beni menelan ludah.
Ia tidak terlalu suka tulisan yang berubah-ubah.
Dalam kehidupan sehari-hari saja huruf sering tampak menari di depan matanya.
Sekarang ia harus masuk ke hutan yang penuh tulisan terbalik.
Namun ia teringat sesuatu.
Dulu ia juga takut membaca.
Tetapi ia berhasil melewatinya.
Beni mengangguk mantap.
“Ayo kita pergi.”
Hutan Kata Terbalik
Perjalanan menuju hutan memakan waktu cukup lama.
Semakin jauh mereka berjalan, suasana semakin aneh.
Pohon-pohon berbentuk pensil tumbuh menjulang tinggi.
Daunnya berbentuk huruf kecil yang bergoyang tertiup angin.
Ketika Beni membaca tulisan pada sebuah papan kayu, ia terkejut.
Tulisan itu berubah sendiri.
MASUK
menjadi
KUSAM
Lalu berubah lagi menjadi
MUSIK
“Hah?”
Beni mengucek matanya.
Huruf b tertawa kecil.
“Selamat datang di Hutan Kata Terbalik.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
Di tengah hutan, mereka menemukan sebuah batu besar.
Di atas batu itu terdapat tulisan bercahaya.
Namun huruf-hurufnya berantakan.
D A U K
Huruf b menggaruk kepala.
“Apa maksudnya?”
Beni menatap tulisan itu lama.
Huruf-huruf tersebut terasa familiar.
Ia memikirkan satu per satu.
D…
A…
U…
K…
Tiba-tiba matanya membesar.
“DUKA?”
Huruf-huruf itu bergetar.
Namun tidak terjadi apa-apa.
Beni mencoba lagi.
“DUKU!”
Mendadak batu itu bersinar terang.
KRRAAAK!
Batu besar terbelah menjadi dua.
Di dalamnya terdapat kotak kecil berwarna perak.
“Hebat!” seru huruf b.
Beni tersenyum.
Untuk pertama kalinya, kebingungannya terhadap huruf justru membantunya memecahkan teka-teki.
Ia membuka kotak itu perlahan.
Di dalamnya terdapat secarik kertas.
Pada kertas itu tertulis:
“Peta tidak dicuri. Peta disembunyikan oleh mereka yang takut pada perbedaan.”
Beni membaca kalimat itu berulang kali.
“Apa maksudnya?”
Huruf b tampak sama bingungnya.
Namun sebelum mereka sempat berpikir lebih jauh, angin dingin tiba-tiba bertiup.
WHOOSHH…
Daun-daun huruf beterbangan.
Langit mendadak menjadi gelap.
Dari balik pepohonan muncul bayangan hitam besar.
Matanya menyala merah.
Tubuhnya tersusun dari huruf-huruf yang saling bertabrakan.
Huruf b langsung pucat.
“Itu dia…”
“Siapa?” tanya Beni.
Huruf b mundur selangkah.
“Pengacau Huruf.”
Makhluk itu tertawa keras.
Huruf-huruf di tubuhnya berputar tidak beraturan.
“Hahaha…”
“Kalian tidak akan pernah menemukan peta itu!”
Beni menggenggam kotak perak erat-erat.
Jantungnya berdebar.
Petualangan yang sesungguhnya ternyata baru saja dimulai.
Kreator : MAY SARAH (Mey_Z@)
Comment Closed: BAB II : Peta yang hilang di Desa Alfabet
Sorry, comment are closed for this post.