Sambil berjalan menuju kamar mandi, kutulis di kepalaku:
“Jangan lupa, hari ini kucanangkan sebagai hari hemat nol rupiah. Jangan gagal lagi seperti kemarin.”
Semua sudah dicek.
Bumbu dapur, masih.
Beras, oke.
Pulsa listrik, aman.
“Hmmm… Apalagi ya? Semua sudah,” gumamku. Kubuka pintu kamar mandi pelan. Sangat ramah. Bunyi khas pintu seret.
Kuraup sabun cair di tempatnya. Kukocok-kocok. Ringan.
Kubuka tutupnya, dan kuintip dari lubang yang terbuka.
Kutuang tetes terakhir dari botol, jatuh di telapak tanganku.
Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Baiklah. Misi nol rupiah terus berlanjut.
Kuisilah sedikit air ke dalam botol. Kukocok lagi, dan kugunakan untuk mandi.
Kusisakan sekira cukup untuk mandi si kakak dan si bapak. Menerawang, rasanya misi nol rupiah berhasil. Sambil menyiapkan sarapan, pintu diketuk dari dalam.
“Ibuuu, sabun habis nih,” Ayah mengadu.
“Masih kok. Pakai itu dulu. Sudah ibu tambahkan air. Sisain buat kakak ya.” Pagi masih panjang.
Giliran si kakak mandi. Tiba-tiba terdengar teriakan,
“Ibuuu, sabun habis!”
“Tidak, Kak. Itu sudah ibu isi air. Pakai itu dulu ya!” Si kakak menjawab lebih semangat.
“Beneran kosong! Tidak ada. Beliin sabun.”Instruksi si kakak punya kekuatan veto.
Badai bisa diprediksi dari gelombangnya.
Jika tidak dibelikan, alamat ada yang tidak mau mandi sampai sore.
Bahaya. Harus segera diatasi. Kulangkahkan kaki pelan menuju warung terdekat.
Sambil kuhapus tulisan di kepalaku.
Misi nol rupiah hari kedua… resmi gagal lagi.
Kubeli sabun cair kesukaan kakak. Nol Rupiah menjadi 15 ribu rupiah, sah.
Akhirnya, kuambil satu hikmah.
Hemat itu bukan tidak membeli sabun.
Tetapi hemat itu menunggu sabun hingga benar-benar sekarat.
Kutuliskan rencana besok di kepala:
Misi nol rupiah masih berlanjut.
Kutunggu perjuangan seruku esok.
Kreator : Yeti Ristanti
Comment Closed: BAB II Sabun Habis, di Hari Hemat (Gagal karena kekuatan veto anak)
Sorry, comment are closed for this post.