Berburu pagi. Asyik sekali.
Sampai tak sempat sarapan.
Kusiapkan waktu. Pertemuan hari ini ternyata lebih pagi.
Kutata kotak bekal spesial. Hasil babak penyisihan menu si Bapak dan si Kakak.
Kuletakkan di meja makan.
Kuhemat waktu, lanjut mandi.
Berharap selepas mandi, kuhampiri untuk kumasukkan ke tas.
Namun waktu berpacu.
Hingga kotak bekal masih bertengger di meja makan.
Gas motor kuputar kencang. Melaju tanpa peduli si kotak bekal.
Satu belokan lagi, sampai di tempat kerja.
Masih kepagian. Sepertinya bisa sarapan terlebih dahulu.
Kotak bekal menari-nari di ruang mata.
“Astaghfirullah, ketinggalan.”
Baiklah. Misi nol rupiah harus tetap lanjut, meski tanpa sarapan.
Kuusap perutku sambil berkata, “No sarapan, no jajan.”
Hiruk pikuk pagi menguras pikiran.
Bahan-bahan pertemuan sudah kusiapkan. Tinggal berangkat.
Kuhitung waktu. Masih 30 menit. Perjalanan 15 menit.
Aku berangkat supaya tidak terburu-buru.
Sepanjang jalan, aroma masakan warung sangat mengganggu konsentrasi misi nol rupiah.
Perut makin menjerit.
Dalam hati kubisikkan pelan, “Wahai perut, kuatlah.”
Aku terus melaju. Ada lintasan harap: ada kotak penyelamat di ruang rapat nanti.
Pintu sudah membuka diri. Aku masuk ke ruangan.
1 jam, 2 jam berlalu. Acara selesai.
Tanpa ada kotak penyelamat yang lewat.
Baru kusadar.
Allah sedang mengingatkanku.
Jangan pernah berharap pada siapa pun. Berharaplah hanya kepada Allah.
“Ampuni hamba, ya Allah. Hamba lapar. Seharusnya hamba berharap kepada-Mu.”
Terima kasih atas lapar hari ini. Engkau meluruskan jalanku.
Aku pulang. Kutarik gas motor lebih kencang.
Cuaca terik. Aroma penggoda di sepanjang jalan makin menyengat.
Aku harus kuat. Namun badan terasa lemas.
Pandangan mata serasa buyar. Kunang-kunang bermain di ruang mata.
Kuputuskan tanpa kompromi. Tarikan gas melemah. Menepi.
Tepat di depan warung soto.
Aku masuk tanpa basa-basi.
Kupesan semangkuk soto. Segelas minum pun melengkapi.
Kekuatanku kembali. Aku bisa tersenyum lagi.
Kukatakan pada diri:
“Nol rupiah gagal lagi, demi stabilitas tubuh yang harus kujaga.”
Aku kalah.
Tapi aku memenangkan diri untuk kuat bertarung lagi.
Misi nol rupiah masih menanti.
Kreator : Yeti Ristanti
Comment Closed: BAB III Akhirnya Jajan… (Alasan demi kesehatan dan menjaga kewarasan)
Sorry, comment are closed for this post.