Bayangan dari Hutan Kata Terbalik
Angin dingin berembus semakin kencang.
Daun-daun berbentuk huruf beterbangan ke segala arah. Langit yang tadi cerah kini berubah kelabu. Bayangan hitam itu berdiri tegak di hadapan Beni dan huruf b kecil.
Tubuhnya tersusun dari huruf-huruf yang saling bertabrakan.
Huruf B menempel pada huruf D.
Huruf P terbalik menjadi Q.
Huruf M dan W bergantian berputar seperti baling-baling.
Setiap kali makhluk itu bergerak, terdengar suara berisik seperti halaman buku yang dibalik terlalu cepat.
“Hahaha…”
“Tidak ada yang bisa mengembalikan Desa Alfabet seperti semula!”
Huruf b bersembunyi di belakang kaki Beni.
“Aku takut…” bisiknya.
Jujur saja, Beni juga takut.
Namun ia teringat wajah-wajah huruf yang kebingungan di desa.
Ia teringat huruf M yang tersesat.
Huruf S yang berputar-putar tanpa arah.
Dan semua huruf yang kehilangan rumahnya.
Beni menarik napas panjang.
“Aku tidak akan menyerah.”
Makhluk itu tertawa semakin keras.
“Kalau begitu, coba kejar aku!”
WHOOSH!
Dalam sekejap, bayangan hitam itu melesat ke dalam hutan.
Teka-Teki Pertama
“Beni! Lihat!”
Huruf b menunjuk ke tanah.
Di tempat makhluk itu berdiri tadi terdapat sebuah kepingan peta berwarna emas.
Beni segera mengambilnya.
Potongan itu ternyata bagian dari Peta Arah Huruf.
Di bagian belakangnya tertulis pesan:
“Mereka yang memahami kesalahan akan menemukan jalan.”
“Kesalahan?” gumam Beni.
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, Kompas Kata di tangannya mulai berputar.
Jarum pensil menunjuk ke arah sebuah gerbang batu.
Di atas gerbang itu tertulis:
LEMBAH HURUF KEMBAR
Ketika mereka masuk, Beni langsung mengerti mengapa tempat itu dinamakan demikian.
Di lembah itu berdiri ratusan huruf yang bentuknya hampir sama.
b dan d.
p dan q.
m dan n.
u dan v.
Semuanya bercampur menjadi satu.
“Aduh…” kata huruf b.
“Kalau begini kami juga bingung.”
Di tengah lembah berdiri sebuah papan besar.
Di papan itu tertulis:
Pilih jalan yang benar.
Di bawah tulisan tersebut terdapat empat pintu.
Masing-masing memiliki tulisan:
BAJU
DAJU
PAJU
QAJU
Huruf b menggaruk kepala.
“Apa itu paju?”
“Tidak tahu,” jawab Beni.
“Kalau qaju?”
“Bukan kata juga.”
Beni memperhatikan baik-baik.
Ia tersenyum kecil.
“Hanya satu yang benar.”
“Yang mana?”
“BAJU.”
Tiba-tiba pintu BAJU bersinar terang.
KLIK!
Pintu terbuka perlahan.
Sementara tiga pintu lainnya menghilang.
Huruf b melompat kegirangan.
“Kamu berhasil!”
Beni tersenyum.
Dulu huruf-huruf seperti ini selalu membuatnya kesulitan.
Namun sekarang ia mulai mengenal mereka lebih baik.
Ruangan Cermin Huruf
Di balik pintu terdapat ruangan besar penuh cermin.
Namun cermin-cermin itu aneh.
Setiap huruf yang muncul di cermin berubah arah.
Huruf b menjadi d.
Huruf p menjadi q.
Huruf m terlihat seperti w.
Huruf b kecil langsung pusing.
“Aku tidak kuat melihatnya.”
Beni juga merasa kepalanya berputar.
Namun kemudian ia teringat pelajaran dari Bu Maya.
Huruf b memiliki “perut” di depan.
Huruf d memiliki “perut” di belakang.
Ia memejamkan mata sejenak.
Lalu membuka kembali dengan tenang.
Perlahan-lahan ia mulai mengenali bentuk-bentuk itu.
Di tengah ruangan muncul tulisan bercahaya:
“Apa yang membuatmu kuat?”
Beni terdiam.
Ia berpikir cukup lama.
Dulu ia mungkin akan menjawab:
“Aku pandai.”
Atau,
“Aku pintar.”
Namun kini ia memahami sesuatu.
Ia mengambil kapur ajaib yang tergantung di dinding lalu menulis:
AKU TIDAK MENYERAH
Seluruh ruangan langsung bergetar.
Cermin-cermin bersinar terang.
Dan sebuah peti emas muncul dari lantai.
Di dalamnya terdapat potongan kedua Peta Arah Huruf.
Kebenaran yang Mengejutkan
Saat Beni mengambil potongan peta itu, tiba-tiba terdengar suara tua dari belakang.
“Tepat sekali.”
Beni dan huruf b menoleh.
Di sana berdiri seekor burung hantu tua berkacamata.
Bulunya tersusun dari huruf-huruf kecil.
“Siapa Anda?” tanya Beni.
“Aku Profesor Alfabet.”
Profesor itu menatap kedua potongan peta.
Wajahnya tampak serius.
“Kalian harus segera menemukan potongan terakhir.”
“Kenapa?” tanya huruf b.
Profesor menghela napas.
“Karena Pengacau Huruf semakin kuat.”
“Tapi siapa sebenarnya dia?”
Profesor terdiam cukup lama.
Kemudian ia berkata pelan,
“Pengacau Huruf bukan monster.”
Beni terkejut.
“Bukan?”
Profesor menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu siapa dia?”
Burung hantu tua itu menatap Beni dengan lembut.
“Dia adalah kumpulan ketakutan, rasa malu, dan rasa tidak percaya diri yang selama ini tersimpan di dalam hati banyak huruf.”
Beni membeku.
Entah mengapa, kata-kata itu terasa sangat dekat dengannya.
Profesor melanjutkan,
“Semakin banyak huruf yang merasa dirinya salah, semakin kuat Pengacau Huruf.”
Beni menunduk.
Ia teringat saat teman-temannya tertawa ketika ia menulis duku.
Ia teringat saat merasa bodoh.
Saat merasa berbeda.
Saat ingin menyerah.
Profesor seolah dapat membaca pikirannya.
“Kamu tahu, Beni.”
“Kesalahan bukanlah musuh.”
“Rasa takutlah yang menjadi musuh sebenarnya.”
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Angin lembut berembus di dalam ruangan.
Beni menggenggam kedua potongan peta erat-erat.
Kini ia mulai memahami bahwa petualangan ini bukan hanya tentang menyelamatkan Desa Alfabet.
Petualangan ini juga tentang dirinya sendiri.
Tentang keberanian untuk menerima bahwa berbeda bukan berarti salah.
Namun tiba-tiba Kompas Kata kembali berputar sangat cepat.
Lebih cepat daripada sebelumnya.
Jarumnya menunjuk ke arah utara.
Ke sebuah tempat yang belum pernah mereka lihat.
Profesor Alfabet langsung pucat.
“Oh tidak…”
“Ada apa?” tanya Beni.
Profesor menelan ludah.
“Jarum itu menunjuk ke Menara Bayangan.”
Huruf b langsung membelalak.
“Tempat terlarang itu?”
Profesor mengangguk.
“Lalu…” tanya Beni.
Profesor menatapnya serius.
“Potongan terakhir peta berada di sana.”
Beni menarik napas panjang.
Ia tahu perjalanan berikutnya akan jauh lebih sulit.
Namun kali ini ia tidak takut.
Karena untuk pertama kalinya, ia mulai percaya pada dirinya sendiri.
Kreator : MAY SARAH (Mey_Z@)
Comment Closed: BAB III : Rahasia Pengacau Huruf
Sorry, comment are closed for this post.