Drama pagi di tempat kerja dimulai.
Aku sengaja memilih parkir di ujung, agar yang lain kebagian tempat. Harus membiasakan diri untuk melonggarkan tempat bagi orang lain.
Dalam bahasa agama, aku meyakini perintah “berlapang-lapanglah dalam majelis.” Aku menerjemahkannya dengan bahasaku sendiri, termasuk majelis parkir. Karena motor tidak dapat parkir sendiri, sehingga membutuhkan manusia untuk mengaturnya. Maka, aku yakin jika melapangkan parkir, memikirkan tempat untuk orang lain, Allah akan melapangkan urusanku. Dan Allah akan mengingatku saat dalam kesulitan.
Kuawali langkah dengan bismillah, seperti biasanya.
Kubuka pintu sambil mengucapkan salam, meskipun tak ada siapa pun di dalam. Karena itu ajaran agama yang sudah menjadi kebiasaan.
Sambil menuju meja, kepalaku mengabsen:
Bumbu-sayur aman.
Sarapan sudah.
“Misi nol rupiah berlanjut, semangat!” kataku kepada diriku sendiri. Tas kuletakkan, laptop kukeluarkan. Masih menunggu sinyal.
Kubuka ponsel, barangkali ada pesan penting yang harus segera kurespons. Ada informasi berita duka, namun di luar kota. Dalam hati aku berkata, “Ingin berangkat, namun dengan siapa, ya?”
Belum selesai membalas beberapa chat darurat, panggilan dari sahabat tercinta segera kuangkat. “Ayo, takziah. Ikuut… Ada mobil, kursi kosong nih!” Seolah Allah menjawab keinginanku. Segera kujawab, “Oke, tunggu, meluncur!”
Segera kuambil tas. Motor sudah menunggu untuk kutarik gasnya, menuju tempat mobil diparkir. Dua menit perjalanan, sampai garasi. Sahabat-sahabat tercintaku yang menawariku tumpangan sudah menunggu.
Deru mobil mengiringi doa tawakal bepergian dan doa naik kendaraan.
Bismillah, berangkat.
Sampai lupa belum menyiapkan tanda cinta untuk sahabatku yang sedang berduka.
Tiba-tiba teringat misi nol rupiahku. “Ya Allah, jika alasan ini menjadi sebab gagalnya misi nol rupiahku, aku ikhlas.
Semoga ini menjadi sebab ridha-Mu.” Kuisi amplop putih dengan nominal sekian rupiah untuk takziah.
Kuhela napas panjang, ikhlas. Bismillah, karena Engkau, ya Allah.
Nol rupiahku memang gagal karena takziah.
Namun, aku berhasil menemukan satu pintu kemenangan yang bernama berkah.
Bukankah Allah berjanji akan mengganti dan melipatgandakan setiap kebaikan? Dan Allah tidak pernah menyalahi janji.
Satu kebaikan dibalas sepuluh, bahkan ratusan kali lipat.
Hari ini, aku dipertemukan dengan kesempatan itu. Itulah berkahku hari ini.
Kuucap syukur atas karunia ini.
Karena hari ini, aku menemukan pintu berkah, bukan jurang musibah.
Kreator : Yeti Ristanti
Comment Closed: BAB V Episod Takziah…. Nol rupiah membawa berkah
Sorry, comment are closed for this post.