Jam 06.06.
Aku bersiap mandi. Tapi langkah ke kamar mandi tak juga tenang.
Isi kepala seperti biasa, menari-nari.
Bawang masih aman.
Garam cukup.
Beras oke.
Sayur masih bisa 2 hari lagi.
Selesai mandi, sambil bergegas, kepalaku masih berisik.
Menghitung. Hari ini, adakah yang harus dibeli?
Kulihat undangan tergeletak di meja. Kulihat tanggalnya.
Aman. 3 hari lagi.
Motor kupanasi. Cek bensin. Aman juga.
“Sudah sarapan. Tak perlu jajan,” gumamku.
Aku bersorak dalam hati.
Akhirnya. Hari nol rupiah kudapati.
Yang selama ini belum pernah kutemukan.
Siang, sore, menjelang malam… aku bahagia.
“Fix nol rupiah,” bisikku meyakinkan diri.
Habis Isya, kurapikan tempat tidur. Siap tidur cepat.
Tiba-tiba… lampu berkedip-kedip. Mati.
“Ada apa ini?”
Ternyata. Pulsa listrik. Harus dibeli.
Dan judul hari ini berubah.
“Akhirnya gagal nol rupiah.”
Begitulah hari-hari.
Kuhitung mundur ke belakang. Tak pernah sehari pun nol rupiah.
Tapi justru dari situlah aku belajar rahasia rezeki.
Bukan banyaknya uang yang membuatku cukup.
Bisa jadi, Allah mencukupkan karena berkah pintu nikah.
Barangkali juga, karena lafaz syukur yang meruah.
Atau dari tangan-tangan yang pernah kugandeng untuk kuulurkan tangan.
Aku tak pernah tahu dari mana pintu rezekiku.
Yang pasti aku tahu:
Allah Maha Kaya.
Dan Dia selalu mencukupkan kebutuhanku.
Alhamdulillah.
Besok kita coba lagi ya. Nol rupiah.
Aku tertawa kecil. Antara pasrah dan penasaran, kira-kira besok bisa berhasil nol rupiah karena apa ya.
Kreator : Yeti Ristanti
Comment Closed: BAB VI Pulsa Listrik Sekarat (Ketika Token Listrik Mengganggu Tidurku)
Sorry, comment are closed for this post.