Tahun 2005 adalah waktu penuh rindu dan harapan. Satu tahun aku dan anak-anakku menjalani Long Distance Relationship dengan suamiku. Aku di Kota Palembang, Sumatera Selatan, sementara suamiku di Kota Tanjung Pandan,Belitung. Semula kami bersama tinggal di Palembang, kota kelahiranku. Aku bekerja sebagai PNS di sebuah Puskesmas di Kabupaten Banyuasin sebagai dokter gigi. Sementara suamiku waktu […]
Kota Tanjung Pandan baru beranjak dari peraduannya. Mulai menggeliat aktivitas di jalanan. Pagi itu langit belum terlalu terang tetapi tidak ada awan gelap. Biru bersih dengan cahaya kekuningan di cakrawala Timur. Udara terasa sejuk dengan aroma rumput basah yang mulai menguap. Paru-paruku menikmati asupan udara bersih kaya oksigen sepuas-puasnya. Di sini, bernapas di luar rumah […]
Memulai perjalanan penuh warna,selalu ada kegembiraan selain kesedihan dalam setiap perjalanan. Tidak sedikit cerita tentang pasangan pernikahan yang tidak berumur lama oleh berbagai sebab. Dalam perkawinan, cinta diuji oleh berbagai tantangan dan cobaan. Ada yang berhasil melewati badai dan mencapai kebahagiaan, tapi ada juga yang terhempas oleh gelombang dan harus berpisah. Seperti itu orang biasa menggambarkan setiap perkawinan yang terjadi. Tetapi tidak untuk kita, darling, cintaku padamu akan tetap terpadu sampai akhir hayat. Aku senang apabila kau sedikit heran padaku yang nampak dari kerut keningmu. Atau sedikit tawamu, itu sudah cukup memberi tanda gembira untukku agar selalu berani memulai lagi dan memulai lagi perjalanan ini. Foto-foto hasil jepretan Romo Broto telah menjadi saksi untuk mengawali perjalanan kita dari kota Bogor. Juga ada saat lain ketika alam masih ramah dan belum dicemari apa-apa, kita berpacaran di Rawa Kalong. Foto-foto telah mengabadikan kehadiran kita bersama sepasang penganten baru, Kirto dan Kristi di depan hamparan rawa yang luas. Janji pun terucap agar dapat menjadi sahabat karib mereka. Seperti itu gambaran awal dari cinta yang membahagiakan dan menjadi idam-idaman kita, bukan………. Tak mungkin ada duka pada akhir cinta, sebab engkau dan aku terpanggil oleh-Nya, bukan semata kebetulan, bukan semata nasib. Kesediaanmu untuk mendampingi aku dalam suka dan duka telah menguatkan diriku untuk berjuang. Kini kita berada di masa 25 tahun perjalanan perkawinan dan masih ada 25 tahun lagi untuk menjadi penanda di tahun emas cinta kita. Selanjutnya bahtera kehidupan kita akan terus menuju dan tiba di pelabuhan idam-idaman kita. Cinta yang lebih kuat dan tahan lama Keberhasilan dalam perkawinan tidak datang dengan sendirinya, tapi harus diperjuangkan. Cinta perlu bertumbuh, melayani dan menguduskan. Pasangan harus belajar untuk saling memahami, memaafkan, dan menerima kekurangan masing-masing. Berbekal pesan-pesan ini, aku mendapat tugas dari bapak mertua untuk memberikan sambutan dalam perkawinan adik iparku, Edy dan calon istrinya Yuli. Dalam pencarian bahan sambutan terbesit dalam ingatanku akan 2 kalimat berbahasa Jawa yang tertera di atas dinding tempat pelaminan pada saat kami menikah. 1. “Becik Ketitik, Olo Ketoro” artinya “Yang baik akan diketahui, dan yang buruk akan kelihatan juga. 2. “Ajining Diri Ana Ing Kedaling Lati”, artinya “Harga diri seseorang terletak pada ucapan kata-katanya.” Dalam kata sambutan, aku mengajak para tetamu untuk mendoakan, agar mereka menemukan kebahagiaan dalam membentuk keluarga yang baru. Pancaran cinta Edy dan Yuli kiranya tertuang dalam syair lagu “Ängan-angan”, gubahan Tirto Saputro. Angan-angan Pertama ku mengenalmu menatap penuh rasa mesra pandangannya menembus kalbu, o! betapa indahnya, betapa nikmatnya senyummu hias di wajahku bila aku bermesra denganmu merasa dan terasa akan tumbuh cinta di hatiku baru ini dalam hidupku kudambakan kasih sayang dia betapa bahagia terpadu satu denganmu memadu kasih saling janji sehidup semati O! tak mungkin akan ingkar janji mendambakan kasih sayangmu O! Aku bukan kegagalan Namun, tidak semua perkawinan berakhir dengan bahagia. Ada yang harus mengalami kegagalan, kesedihan, dan luka. Tapi, kegagalan tidak selalu berarti akhir dari segalanya. Ada pelajaran yang dapat dipetik, dan ada kesempatan untuk memulai lagi. Kepedihan melanda hatiku, saat kuterima kabar dari adik iparku lainnya. Demikian ia menulis: “Kan kamu yang meminta aq menjauh dari hatimu. Kamu juga yang bilang, kalau kau masih ragu padaku. Setelah rasa yang kautanam semakin dalam. Setelah berhasil kuikhlaskan hatiku. […]
Waktu Kecil, saya terlahir dari keluarga petani di sebuah kampung terpencil. Orang tua hari-harinya bertani. Suasana kampung yang asri dipenuhi dengan pohon-pohon besar, hutan yang masih asli dan ditambah dengan suasana sawah yang menghijau. Tentu akan semakin betah masyarakat tinggal di kampung ini. Namun, kampung ini hanya memiliki jalan akses yang masih jalan setapak […]
Pertemuan Sebuah Keluarga Besar Datang kabar dari Hongkong bahwa tujuh orang saudara hendak datang ke Jakarta. Terbayang kenangan masa kecil dari generasi anak dan cucu yang membuat rindu untuk saling bertemu. Kisah keturunan kami berawal dari kakek Tan Tjie Sian yang lahir di tahun 1896 dan nenek Thung Lin Nio di tahun 1900. Diperlukan waktu […]
Kisah ini tentang perjalanan hidup berkeluarga melintasi 5 generasi turun temurun. Para leluhur kita telah memberi kelahiran yang tak terhitung jumlahnya dan kini mereka tersebar ke seluruh dunia. Semua saja mempunyai mimpi-mimpi besar untuk hidup bahtera – menjadi keluarga yang bahagia, harmonis, tenteram dan sejahtera. Namun tidak mudah untuk mencapainya. Kita membutuhkan juga kedalaman batin […]
“Tentang dua hati yang belajar saling mendekat tanpa tergesa, menjaga jarak bukan karena ragu — tapi karena ingin melangkah dengan benar.” Bab 12. Jawaban dari Langit Malam itu, setelah kajian pranikah terakhir yang mereka hadiri bersama, Rama duduk sendirian di dalam mobilnya sebelum pulang. Ditatapnya dashboard, sejenak menutup mata, lalu tersenyum kecil. “Bismillah,” bisiknya. […]
“Tentang dua hati yang belajar saling mendekat tanpa tergesa, menjaga jarak bukan karena ragu — tapi karena ingin melangkah dengan benar.” Bab 9. Meminta Dengan Benar Hari itu aku baru saja selesai menutup laptop setelah meeting online dengan tim sosial media. Rasanya masih lelah, tapi entah kenapa hatiku lebih tenang dibanding kemarin. Aku berusaha […]
“Tentang dua hati yang belajar saling mendekat tanpa tergesa, menjaga jarak bukan karena ragu — tapi karena ingin melangkah dengan benar.” Bab 5. Kejelasan dan Janji POV Sinta “Ada yang ingin Ayah dan Ibu sampaikan,” buka Ayah, menoleh pada Ibu yang duduk di sampingnya. Aku merangkul lengan Ibu, menyandarkan kepalaku di bahu beliau. Ada […]