Kisah ini tentang perjalanan hidup berkeluarga melintasi 5 generasi turun temurun. Para leluhur kita telah memberi kelahiran yang tak terhitung jumlahnya dan kini mereka tersebar ke seluruh dunia. Semua saja mempunyai mimpi-mimpi besar untuk hidup bahtera – menjadi keluarga yang bahagia, harmonis, tenteram dan sejahtera. Namun tidak mudah untuk mencapainya. Kita membutuhkan juga kedalaman batin dari hasil refleksi dan renungan karena ilmu pengetahuan sosial dan teknologi saja tidak cukup. Kitapun tahu bahwa sejak semula para Bapak dan Ibu Pendiri Bangsa menghendaki agar kita mengisi kemerdekaan yang mereka rebut dari tangan penjajah. Seperti sayap laksana seekor burung Garuda, kemerdekaan kita terbelenggu oleh berbagai kelemahan kehendak diri. Tak mengherankan apabila kita suka meneriakkan: “Merdeka. Merdeka. Merdeka! sampai saat ini. Krisis demi krisis datang silih berganti seolah tiada hentinya. Rasanya ada sesuatu yang hendak diajarkan kepada kita. Apa itu? Saya berusaha menemukannya dari kisah keluarga besar ini. Senang bisa bercerita pada teman U-Lab, Sisie, tentang 9 suku yang kami miliki, yaitu Sunda, Jawa, Osing, Banjarmasin, Toraja, Makassar, Flores, Batak, Cina. Indonesia kuat dimulai dari kehadiran rumah tangga. Sisie bilang bahwa dia mau memperoleh tulisan ini di bulan Agustus mendatang. Ia berharap suatu yang serius tertuang dalam gadget kecil tentang kebijaksanaan dari orang-orang yang tak terlupakan.
Intan, adikku berpesan untuk menyiapkan narasi sejarah hidup dan keturunan dari ayah dan ibu buat mengisi acara Imlek. Singkat saja barang 10–15 menit tetapi bisa diceritakan lagi….. dan lagi dalam setiap family gathering. Bayangkan kalau kita sudah tidak ada lagi, sambungnya. Siapa yang akan meneruskan kisah kehidupan ini? Sebagai hasil dari perjalanan panjang, mereka telah mewariskan nilai-nilai, tradisi dan sejarah yang membentuk siapa kita pada hari ini. Dari generasi pertama kita mengenal tradisi merayakan Imlek. Ketika itu aku berlibur di rumah kakek dan nenek di kota Surabaya. Tampak di dinding ruang tamu ada 2 patung dewi Kwam Im dan dewa Kwan Kong yang diletakkan di atas altar papan kayu. Dalam kepercayaan Khong Hu Cu patung-patung itu bukan sebagai objek penyembahan, melainkan penghargaan terhadap nilai-nilai spiritual. Sedangkan di ruang keluarga diletakkan meja abu yang biasanya berasal dari abu kremasi jenazah leluhur. Ada alat sembahyang hio dan wadah buah-buahan. Belakangan hari mereka berpindah agama, namun tidak menjadi masalah. Mereka tetap saling berkunjung. Sikap seperti ini tentu saja melahirkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai benih toleransi dalam kehidupan beragama. Bersimpuh di kaki ibu menjadi ritual biasa bagi paman kami sebagai tanda cinta seorang anak kepada ibunya.
The Trip To Cimanggis berkisah tentang akhir perjalanan panjang sang tokoh ayah memimpin keluarganya. Banjarmasin menjadi awal petualangannya untuk terus ke Surabaya dan cukup lama menetap di kota dingin Batu. Dari seorang petani kentang dan ternak sapi kini ia merintis menjadi seorang pengusaha pabrik kapur di tepi aliran besar Citarum di daerah Citeureup. Kegagalan di tempat ini membuat ayah menyewa sebuah pabrik kapur di Cimanggis dari baba Kwan Ho. Bayang-bayang kelam ekonomi keluarga mulai terhapus. Kepemilikan tanah satu per satu dari penduduk setempat beralih ke dalam tangannya. Bahan kapur di tahun 1970-an hasil produksinya, kita dapati di toko material seantero kota Jakarta. Seperti apa sosok ayah? Adikku menulis tentang ayah dan ibu yang tabah dan berani menghadapi pasang surut gelombang kehidupan. Ia sempat meminta ayahnya untuk menterjemahkan lagu “Scarlet Ribbon” dari The Bee Gees. Ia juga mengingatkan pesan ayah untuk menyalurkan perselisihan lewat perembukan supaya bisa timbul keharmonisan. Sedangkan sosok ibu digambarkan sebagai orang yang sederhana dan tidak mengharuskan anak begitu saja sampai masing-masing sudah berkeluarga. Ayah di mataku seorang yang kontroversial ketika aku menulis: “Apa yang kaubenci, apa yang kausenangi, musuhmu, sahabat karibmu, anak isterimu, binatang peliharaanmu, kebun-kebunmu, buah-buahanmu, pekerja-pekerjamu, pabrikmu….. telah kaucapkan dalam dunia ini.”
Inspirasi tentang cinta, kebaikan, kejujuran justru datang dari segala kelemahan dan keterbatasan. Perkawinan itu indah, ujar pasangan hidupku. Bagaikan sebuah perjalanan menegangkan di belokan-belokan tajam untuk terus berjalan di rute yang tepat. Namun bisa saja sang mobil tergelincir di jalan basah dan berbelok arah 180 derajat akibat rem mendadak. Para loper koranku memberi contoh bagaimana mencintai pekerjaan. Hujan yang sama tak menghalangi kerja mereka. Keluarga bahagia tak sekedar sebuah dambaan, namun dapat menepis pertanyaan yang muncul. Mengapa banyak keluarga yang gagal menempuh hidup perkawinan di masa sekarang ini? Betulkah luka yang tidak kita ciptakan, harus kita sembuhkan? Memutus rantai trauma generasi adalah perjuangan sunyi yang mungkin paling melelahkan. Ia memilih untuk memeluk lukanya sendiri agar sang anak tidak perlu merasakan perih yang sama. Terima kasih untuk semua ortu yang sedang berjuang menyembuhkan diri demi masa depan buah hati mereka. Di manakah motivasi pertama ketika memulai perjalanan panjang perkawinan untuk seumur hidup?
“Cimanggis” mengingatkan akan makna ‘pulang kampung’ dan tetap berada di rumah sendiri. Berpijak di atas tanah warisan orang tua telah memberikan kesadaran itu sebab kita tahu sejarah tanah, penduduk sekitar dan perhatian kepada segala ciptaan. Di tempat ini kematian bergembira menyumbang kehidupan.Semua saja akan kita tinggalkan: kenangan, janji, harapan, kesehatan. “Lalu apa yang penting dalam hidup sementara ini?”, tanya OS temanku. “Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit,” ujar Bung Karno. Cita-cita mau dimulai dari kehidupan nyata sebuah perkawinan. Bagaikan melihat sebuah gunung yang sangat indah dari kejauhan, ke sana segera orang tertarik untuk mendaki. Cerita pendakian gunung Pangrango dan Gede semasa muda bersama rombongan 10 orang bisa menjadi analogi hidup berkeluarga. Mampukah anggota rombongan tiba pada tujuan mereka? Panorama apakah yang terhampar di sana? Tak seorangpun yang tahu. Tiba di ketinggian puncak terlihat hamparan lembah menembus hutan pekat. Tiupan angin yang merasuki tubuh, membawa awan-awan menerobos kaki-kaki telanjang. Rasanya menyeramkan. Keesokan harinya…… Oooo, betapa indahnya berada di tengah belungaaan edelweiss. Bunga-bunga kecil berwarna putih dengan tangkai berbulu. Berbeda dengan Pangrango, kini perjalanan penuh bahaya menuju Gunung Gede. Pucuk gunungnya tinggal sepertiga bagian. Yang terlihat hanya hamparan luas padang pasir dan gundulnya sebuah gunung berapi. Buku, jendela ilmu yang tak pernah lekang oleh zaman telah direspons dengan baik oleh Penerbit Alineaku. Ajakannya jelas menghargai inspirasi dan daya kreativitas kita yang tertuang dalam dokumentasi sejarah keluarga. Semoga, semoga.
Kreator : Frans Tantridharma ( Tjwan Bing )
Comment Closed: Perkawinan dari Generasi ke Generasi
Sorry, comment are closed for this post.