Memulai perjalanan penuh warna,selalu ada kegembiraan selain kesedihan dalam setiap perjalanan. Tidak sedikit cerita tentang pasangan pernikahan yang tidak berumur lama oleh berbagai sebab. Dalam perkawinan, cinta diuji oleh berbagai tantangan dan cobaan. Ada yang berhasil melewati badai dan mencapai kebahagiaan, tapi ada juga yang terhempas oleh gelombang dan harus berpisah. Seperti itu orang biasa menggambarkan setiap perkawinan yang terjadi. Tetapi tidak untuk kita, darling, cintaku padamu akan tetap terpadu sampai akhir hayat. Aku senang apabila kau sedikit heran padaku yang nampak dari kerut keningmu. Atau sedikit tawamu, itu sudah cukup memberi tanda gembira untukku agar selalu berani memulai lagi dan memulai lagi perjalanan ini. Foto-foto hasil jepretan Romo Broto telah menjadi saksi untuk mengawali perjalanan kita dari kota Bogor. Juga ada saat lain ketika alam masih ramah dan belum dicemari apa-apa, kita berpacaran di Rawa Kalong. Foto-foto telah mengabadikan kehadiran kita bersama sepasang penganten baru, Kirto dan Kristi di depan hamparan rawa yang luas. Janji pun terucap agar dapat menjadi sahabat karib mereka. Seperti itu gambaran awal dari cinta yang membahagiakan dan menjadi idam-idaman kita, bukan……….
Tak mungkin ada duka pada akhir cinta, sebab engkau dan aku terpanggil oleh-Nya, bukan semata kebetulan, bukan semata nasib. Kesediaanmu untuk mendampingi aku dalam suka dan duka telah menguatkan diriku untuk berjuang. Kini kita berada di masa 25 tahun perjalanan perkawinan dan masih ada 25 tahun lagi untuk menjadi penanda di tahun emas cinta kita. Selanjutnya bahtera kehidupan kita akan terus menuju dan tiba di pelabuhan idam-idaman kita.
Cinta yang lebih kuat dan tahan lama
Keberhasilan dalam perkawinan tidak datang dengan sendirinya, tapi harus diperjuangkan. Cinta perlu bertumbuh, melayani dan menguduskan. Pasangan harus belajar untuk saling memahami, memaafkan, dan menerima kekurangan masing-masing. Berbekal pesan-pesan ini, aku mendapat tugas dari bapak mertua untuk memberikan sambutan dalam perkawinan adik iparku, Edy dan calon istrinya Yuli. Dalam pencarian bahan sambutan terbesit dalam ingatanku akan 2 kalimat berbahasa Jawa yang tertera di atas dinding tempat pelaminan pada saat kami menikah. 1. “Becik Ketitik, Olo Ketoro” artinya “Yang baik akan diketahui, dan yang buruk akan kelihatan juga. 2. “Ajining Diri Ana Ing Kedaling Lati”, artinya “Harga diri seseorang terletak pada ucapan kata-katanya.” Dalam kata sambutan, aku mengajak para tetamu untuk mendoakan, agar mereka menemukan kebahagiaan dalam membentuk keluarga yang baru. Pancaran cinta Edy dan Yuli kiranya tertuang dalam syair lagu “Ängan-angan”, gubahan Tirto Saputro.
Angan-angan
Pertama ku mengenalmu
menatap penuh rasa mesra
pandangannya menembus kalbu, o!
betapa indahnya, betapa nikmatnya
senyummu hias di wajahku
bila aku bermesra denganmu
merasa dan terasa akan tumbuh cinta di hatiku
baru ini dalam hidupku
kudambakan kasih sayang dia
betapa bahagia terpadu satu denganmu
memadu kasih saling janji sehidup semati O!
tak mungkin akan ingkar janji
mendambakan kasih sayangmu O!
Aku bukan kegagalan
Namun, tidak semua perkawinan berakhir dengan bahagia. Ada yang harus mengalami kegagalan, kesedihan, dan luka. Tapi,
kegagalan tidak selalu berarti akhir dari segalanya. Ada pelajaran yang dapat dipetik, dan ada kesempatan untuk memulai lagi. Kepedihan melanda hatiku, saat kuterima kabar dari adik iparku lainnya. Demikian ia menulis: “Kan kamu yang meminta aq menjauh dari hatimu. Kamu juga yang bilang, kalau kau masih ragu padaku. Setelah rasa yang kautanam semakin dalam. Setelah berhasil kuikhlaskan hatiku. Tuk menerimamu apa adanya. Itu keputusanmu…..ya sudahlah……. Toh hidup ini pilihan. Bebas saja kita mau pilih apa. Semua pilihan ada konsekwensinya. Terlepas dari semua itu. Tetap kugantungkan asa padaNya. Agar kelak yang terbaik yang Rob-ku beri. Agar kelak tetap kuraih ridhoNya. Sekalipun bukan kamu yang terbaik untukku. Jalan kita mungkin berbeda. Tapi semoga kita satu tujuan menuju cinta hakiki. Cinta sang pemberi cinta Allah SWT.” 15 tahun sudah perjalanan hidup perkawinan kita, namun ke mana romantisme cinta setelah kita tiba di ujung jalan ‘tembaga’? Tersiksa batinku sendirian ketika teringat ujaran teman akrabku, Andriani. Ia menulis begini: ”Pada dasarnya manusia itu sendirian. Pada saat manusia lahir, mati, memutuskan persoalan berat, menyukai dan membenci pekerjaannya, bersetia dan mengkhianati kekasihnya.” Pelan-pelan kuresapi nasehatnya ini di kala kegoncangan cintaku merobohkan tembok-tembok kukuh rumah jiwaku. Tidak ada lagi kebersamaan kita, meskipun berdua melewati jalan pendek ini, demikian aku bergumam sendirian. Tanganku menggenggam sesuatu yang harus dilepaskan. Namun tangan yang sama perlu juga untuk meraih sesuatu dalam tahun depan. Lihat anak-anak kita yang tak suka lagi berlarian di bawah hujan deras untuk bermain di lapangan rumah kita, pertanda mereka mulai dewasa. Cuma satu yang kuperlukan saat begini, yaitu keheningan untuk mampu mengendapkan segala bentuk keramaian: emosi, pikiran, nafsu, motivasi, aktifitas. Selamat tinggal jejak-jejak masa lalu untuk membiarkan aku sendirian berjalan terus menuju pelabuhan transit tanpa kehadiranmu lagi. Kuusir kerapuhan diriku untuk bergantung hanya pada Kehendak Ilahi.
Menemukan cinta baru yang lebih indah
Cinta yang sejati tidak pernah berakhir, bahkan dalam kegagalan. Cinta dapat berubah bentuk, tapi tidak pernah hilang. Pasangan yang telah berpisah masih dapat menjadi sahabat, atau bahkan menemukan cinta baru yang lebih indah. Namun kali ini tentang cinta seorang perempuan muda usia. Apa yang dikatakannya tentang cinta itu? Kita membaca Surat Cinta yang dibuatnya untuk Sang Kekasih, berjudul : Cinta
CINTA
Satu tahun berlalu, suka duka terlewati bosan, jenuh,marah terhinggapi, tetapi semua itu dilewati dengan penuh cinta dan pengertian. Cinta yang bisa membuat jalan berliku terjal terlewati………………..Cinta, Cinta dan Cinta tanpa definisi…………..tetapi sangat dalam bisa dirasakan, dengan kelembutan tanpa kata, tanpa bicara……………..saling memahami, ketika perseteruan terjadi. Cinta yang bisa meluluhkan semua itu, kekuatannya begitu besar. Memahami kelemahan, lemah lembut, sabar, percaya, jujur, menerima sepenuh hati. Cinta mengalir memenuhi hidupku, biarlah cinta tulus ini juga yang selalu hadir di tengah kami, juga berkat cinta kasih Yesus yang selalu mengalir di tengah kami. Terimakasih Tuhan atas berkatMu hingga saat ini………….satu tahun terlewati dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Biarlah hal ini akan selalu menjadikan dia untukku………dan kami dapat melewati hidup ini dengan CINTA……… CINTA……………dan …………CINTA.
15 Maret 2004 LOVE, ROSA.
Perjalanan paling indah dan berharga
Jadi, mari kita hargai cinta dan perkawinan, baik yang berhasil maupun yang gagal. Mari kita belajar dari pengalaman, dan terus bertumbuh dalam cinta. Karena pada akhirnya, cnta adalah perjalanan yang paling indah dan berharga dalam hidup kita. Foto-foto perkawinan setiap pasangan pasti saja dapat menggambarkan indah dan meriahnya pesta perkawinan yang sedang berlangsung pada waktu itu. Bagaimana setelah 5 tahun,15 tahun, 25 tahun dan 50 tahun yang diistilahkan dengan perkawinan tembaga, perak dan emas? Adakah cinta itu masih membara seperti dulu di awal perjalanan? Atau kini cinta itu telah menjadi padam. Namun dapatkah cinta itu berganti rupa dengan wajah kemanusiaan yang baru? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dapat menjadi bahan renungan bagi bertumbuhnya kerohanian kita. Kepahitan tak dapat menghapus ingatan manis atau sebaliknya, kita malahan tidak mau melihat foto-foto itu lagi dan berniat mencampakkannya ke dalam tong sampah. Kepahitan cinta adalah masa lalu yang bisa menggiring seseorang untuk berputus asa dan bunuh diri. Tantangan kembali menghadang perjalanan hidup berkeluarga. Ya, aku masih ada di sini dan sekarang, darling, berkat dari awal cinta yang kita hidupi bersama. Perjalanan masih jauh, kawan, aku membutuhkan ausdower, tenaga lebih untuk tiba di akhir perjalanan panjang ini. Perkawinan selalu saja tak pernah luput dari neraka kehidupan, tetapi aku dapat mengatasinya karena aku bukanlah kegagalan itu. Aku adalah buah cinta kehidupan ini. Panas hatiku telah berubah menjadi puji dan syukur ke hadirat Tuhan Allah Seru Sekalian Alam.
Kreator : Frans Tantridharma
Comment Closed: Menghadapi Topan dan Badai Cinta
Sorry, comment are closed for this post.