Mendengar kata “kecemasan” di antara masyarakat yang didampingi dengan berbagai teknologi modern dan pemenuhan kebutuhan instan, terdengar tak relevan. Namun, pada kenyataanya generasi modern saat ini lebih mudah terdistraksi oleh kecanggihan teknologi yang semakin mencuat, tanpa dibentengi dengan self awareness dan bounderie, kecemasan bisa saja hadir tanpa disadari. Makanya, kondisi lingkungan yang diidamkan kini adalah lingkungan yang asri dan tenang, dengan harapan hidup yang selaras alam. Tetapi sepertinya teramat kontras dengan tuntutan kebutuhan yang semakin meningkat, termasuk pengaruh isu-isu sosial, politik, ekonomi sampai dengan keamanan dunia. Tanpa disadari problematika kehidupan yang dihadapi membawa kita pada kecemasan.
Sebenarnya kecemasan itu tak sesimpel apa yang saya kira sebelum mengenal kecemasan diri sendiri. Menceritakan pengalaman ini awalnya terdengar seperti melucuti diri sendiri. Hal-hal absurd yang seharusnya disimpan sebagai bahan untuk refleksi ke dalam diri. Sebagian besar orang akan menutupnya rapat-rapat dan menolak mengakuinya. Tak disadari perasaan-perasaan itu terus ditekan, peristiwa demi peristiwa dianggapnya telah berlalu padahal sistem kerja memori kita terus menyimpan dalam bentuk tumpukan rasa dan emosi dengan berbagai jenis turunannya. Yang lebih parahnya lagi, kita tak paham bahwa sistem saraf kita menyimpan memori negatif yang terekam lebih lama dibandingkan dengan memori menyenangkan. Dari sini saya harap kamu bisa mengulas kembali, apakah masih ada perasaan yang masih kamu tekan, menahannya terus-menerus hingga menahun?
Pernah dengar pepatah “Make Mistake and do better”. Pepatah itu sebenarnya tidak untuk menormalisasikan kesalahan atas perbuatan yang pernah kita lakukan, akan tetapi mengajak kita untuk dapat mengambil kendali pada diri kita untuk segera mengambil langkah untuk fokus bertumbuh dan mengerjakan hal baik. Pertanyaannya adalah kenapa kita tidak diminta untuk segera memperbaiki? Berusaha memperbaiki gelas yang sudah pecah tidak membuat gelas itu utuh kembali bukan? Retakan-retakan yang rapuh tentu saja akan terlihat dan rentan pecah kembali. Begitu juga dengan kesalahan yang pernah kita perbuat di masa lalu, menyesali tanpa bisa memperbaiki hanya akan membuat usahamu sia-sia. Untuk itu pentingnya kita untuk mengambil setiap pelajaran yang pernah kita alami sekalipun itu peristiwa terburuk sekalipun. Jangan mengira setiap kesalahan yang kita lakukan akan membuat kita otomatis bisa memperbaikinya, alih-alih ingin berbuat lebih baik, namun yang ada hanyalah kecemasan yang terus mengganjal pada setiap gerak tubuh dan fikiranmu. Contohnya, saat saya mencoba peruntungan membangun bisnis receh, jatuh bangun saya alami, memulai lagi dan lagi. Kelelahan mulai muncul, menguras waktu, fikiran dan keuangan. Tanpa saya sadari kelelahan mental terus meningkat dan hari-hari terasa berat meski sedang menjalani hidup yang sebenarnya sedang baik-baik saja. Refleksi terus saya lakukan, tapi ada point yang sungguh saya abaikan, saya terus mencari solusi dari faktor eksternal diri saya, mulai menyalahkan sistem, orang lain, produk, dan modal. Tapi ini bukan hanya tentang bisnis, faktor eksternal ini bisa juga berkaitan dengan bagaimana hubungan kita dengan Tuhan, manusia dan alam sekitar kita. Keterikatan dan takut kehilangan disinilah yang paling mendominasi dan bisa diwakili dengan kata “Ekspektasi”. Dari segala yang telah kita rencanakan bisa saja tak membuahkan apapun kecuali kerugian. Ya… benar kerugian. Perlu digaris bawahi bahwa faktor eksternal itu adalah imbas dari faktor yang ada dalam internal diri kita sendiri.
Sebelum membahas kecemasan ini lebih jauh, perlu kita kenali bahwa kecemasan itu sendiri adalah bagian yang timbul dari dalam diri yang membelenggu mental, ego, serta lingkungan sosial dan budaya sangat mempengaruhi. Belenggu itu hadir dari kemampuan kita dalam merespon dan mendorong untuk reaktif terhadap trigger yang diterima. Bukan cuma itu saja, kecenderungan diri menekan perasaan tanpa pernah memvalidasinya demi menghindari konflik dan alasan umum istilah tabu yang dipelintir, yang dijunjung tinggi demi dianggap baik pada kehidupan sosial.
Setelah tahu bahwa kecemasan itu adalah bagian yang timbul dari faktor internal diri sendiri, kita juga perlu memahami teknik penurunan kecemasan itu sendiri. Seringkali beberapa teknik penurunan kecemasan menawarkan cara meringankan dengan menghilangkan penyebab kecemasan yang fokusnya pada kejadian-kejadian faktor eksternal diri. Seperti halnya saat kecemasan mulai dirasakan tubuh, maka otomatis tubuh akan merespon, munculah kontraksi pada perut, produksi asam lambung meningkat, terjadi gerd bahkan sampai metabolisme yang terganggu. Lalu minum obat pereda sakit maag bahkan rutin konsumsi obat pencahar.
Saya harap dari peristiwa itu kita mulai memahami, bahwa meskipun kita rutin minum obat demam saat sakit, minum obat maag saat stress meningkat, tapi kita perlu juga mencari tahu penyebab lainnya sehingga kita bisa mendapatkan solusinya untuk kehidupan yang berkelanjutan. Misalnya mulai mengenali dan menghindari penyebab infeksi, menjalani hidup yang sehat, merelease stress agar tidak terjadi GERD.
Analoginya begini, saya pernah terluka dan saya terus menuangkan obat luka lalu menutupnya dengan plester, keesokan harinya saya melakukan hal yang sama, menuangkan obat luka sekali lagi dan menutupnya dengan plester yang baru. Saya lanjutkan mengobati luka itu dengan persepsi dan cara saya sendiri tanpa memahami bagaimana mengobati luka itu sendiri. Padahal, hal itu saya lakukan agar luka yang saya obati cepat sembuh, tapi satu hal yang sangatlah penting dari setiap luka dan peristiwa yang kita alami adalah kemampuan menjemput dengan “menyadarinya”, melabeli setiap luka yang dirasakan tanpa mengelak dan menutupinya.
Luka yang terus ditimpa dengan obat dan plester memang tak terlihat lagi, tapi coba amati berapa banyak plaster dan sisa obat yang mengering itu menempel di atas luka yang tak pernah kita sadari. Oleh sebab itu saya mulai belajar menyadari dan mengurai satu-persatu setiap plester, membersihkan luka lalu mengobatinya secara rutin, menyadari setiap prosesnya tanpa memaksanya untuk segera sembuh dengan menutupinya.
Coba kita kaitkan kesadaran yang kita miliki saat ini dengan fenomena dan isu-isu yang beredar di sekitar kita, baik pada lingkungan tempat kita tinggal, tempat kerja, komunitas, kebijakan pemerintah, tuntutan ekonomi, pendidikan, lingkungan, kesehatan sampai pada krisis dan keamanan global, yang informasinya tak lagi kita bendung bahkan kebenarannya pun saat ini mulai kita ragukan. Perang opini pada platform digital yang terus mencuat, serta media yang menjadi hiburan ternyata menjadikan kita sebagai pecandu kesenangan instan meskipun tengah banyak yang menyadarinya, jangankan itu semua bahkan makanan yang kita makan saat ini juga ternyata tak terlepas dari pada modifikasi sains. Kondisi sekarang ini bisa jadi membuat kita semakin kritis dan selektif, atau malah justru menyelaminya tanpa filter dan larut dalam kecemasan dan lari dengan cara konsumsi informasi yang singkat dan cepat demi mendapatkan kesenangan praktis.
Saya pun mengalami hal itu, beberapa kondisi yang saya alami membuat saya cenderung memilih kesenangan instan melalui media dan kewalahan dengan proyek apa yang telah saya pilih sendiri. Saya berusaha menguatkan diri dan tekad, namun tiba masa saya merasakan kecemasan yang semakin mengganggu berbagai aktivitas keseharian saya. Konsumsi obat dan terus mengelak dari perasaan pada kondisi yang sedang dialami. Inilah kondisi tak mengurai peristiwa kemarin, dan terlalu khawatir dengan hari esok, padahal kita sedang berada pada saat ini, sekarang ini yang seharusnya kita hadapi. Kemampuan mengurai ini dibutuhkan kesadaran untuk menurunkan ego yang membelenggu dengan memvalidasi setiap perasaan yang seringkali dan tiba-tiba muncul, memberi nama dan mengakuinya dengan penuh kesadaran. Sehingga tidak ada lagi plester yang menumpuk demi menutupi apa yang kita cemaskan, tidak ada lagi obat maag yang terus-terusan kita minum ketika stress muncul tapi malah gerd yang kita salahkan.
Tak apa jika kemarin kita masih belum banyak menyadari apa-apa saja yang selama ini masih tersimpan di memori kita, tak apa jika kemarin terasa melelahkan, terasa sedikit mengganjal pada ingatan dan tidak salah jika kamu masih ingin menutupinya. Setidaknya ada bagian-bagian dalam diri mu yang mulai kamu sadari keberadaannya yaitu “kecemasan”. Adapun metode apa yang pernah saya jalani selama menghadapi dan mengatasi kecemasan itu akan dibahas pada bab berikutnya.
Kreator : Ike Ferawati (Ike Fe)
Comment Closed: BAB 1- Menjemput Kecemasan
Sorry, comment are closed for this post.