Lampu stadion padam serentak.
Empat puluh ribu titik cahaya biru elektrik membentuk lautan bintang di depan panggung. Layar raksasa mulai memancarkan angka: 10, 9, 8. Suara teriakan mengguncang dinding stadion, namun di balik panggung, kelima orang itu bergerak dalam sunyi yang terlatih.
Woojin menarik napas panjang. Tangan kirinya mengepal, lalu melepaskannya lagi.
“Ini terakhir,” bisiknya.
Yoohyeon, berdiri tepat di sebelahnya, menoleh. “Ini terakhir tahun ini. Jangan bikin terdengar kayak kita bubar.”
Woojin nyengir. Senyumnya tidak sepenuhnya sampai ke mata. “Lo tau maksud gue.”
Yoohyeon ingin menjawab, tapi lampu panggung menyala brutal. Hitungan mundur mencapai nol. Suara penggemar meledak. Tubuh mereka otomatis bergerak maju, menembus asap kering yang mengepul dari lantai panggung.
Say the name.
Lima suara bersatu. NOVA memulai malam itu.
***
Di atas panggung, tidak ada yang lebih hidup dari Woojin. Ia melesat dari satu sisi ke sisi lain. Rambutnya basah oleh keringat, menempel di dahi, tapi matanya menyala. Setiap lirik yang ia rapkan mengalir seperti listrik, menusuk dan menjalar ke seluruh stadion.
Yoohyeon memimpin koreografi dari tengah formasi. Gerakannya presisi, tapi perhatiannya selalu terbelah. Ia mengawasi Woojin dari sudut mata. Bukan karena khawatir, tapi karena sudah menjadi kebiasaannya selama bertahun-tahun.
Ketika formasi berubah dan mereka berpapasan, Woojin menyenggol lengannya sambil tersenyum lebar. Di tengah hingar-bingar, senyum itu adalah jeda singkat yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
Doha berteriak dari sisi kiri panggung. “WOOJIN! LO KELUAR FORMASI!”
Woojin tertawa dan melompat kembali ke posisinya. Penonton di barisan depan menjerit. Jiho, di pojok kanan, hampir kehilangan keseimbangan karena menahan tawa. Rian, di tengah, terus menyanyi dengan mata terpejam, tidak terusik sedikit pun.
***
Konser berlangsung sempurna.
Encore selesai. Panggung kosong. Di ruang tunggu, atmosfer berubah drastis. Staf membereskan properti, manajer sibuk mengecek jadwal penerbangan besok.
Woojin menyender di sofa pojok. Energinya yang tadi meledak-ledak kini meredup.
Yoohyeon mendekat, membawa dua gelas americano. “Ambil.”
Woojin menerima. “Gue capek.”
“Wajar. Lo lari keliling panggung kayak dikejar setan.”
Woojin tertawa kecil. Tawa yang sama yang selalu berhasil meredakan kekhawatiran Yoohyeon. “Gue serius. Kaki gue kayak bukan kaki gue lagi.”
“Terus itu apa yang barusan lompat-lompat di panggung?”
“Pinjeman.”
Mereka berdua terkekeh. Di sudut ruangan, Doha mengomel sambil melepas in-ear monitor yang kusut. “Ini kabel udah kayak benang layangan. Rian, lo ada gunting kecil?”
Rian menggeleng tanpa membuka mata.
“Gunting kecil,” gerutu Doha. “Siapa juga yang bawa gunting kecil.”
Jiho, yang sudah setengah tidur di kursi, tiba-tiba bersuara. “Doha hyung, lo kayak nenek-nenek.”
“Lo diem. Maknae nggak boleh ngomong.”
“Hyung.”
“Di heck, iya.”
***
Malam semakin larut. Satu per satu member berkemas. Doha dan manajer berdebat soal jadwal besok. Rian akhirnya membuka mata dan mencari charger ponselnya. Jiho sudah benar-benar tertidur dengan kepala terkulai.
Woojin masih di sofa. Yoohyeon duduk di sebelahnya.
“Lo denger rumor itu?” tanya Woojin tiba-tiba, suaranya lebih rendah.
Yoohyeon meneguk kopinya, tidak langsung menjawab.
Rumor itu. Kabar burung yang mulai berhembus dua bulan terakhir. Berawal dari forum penggemar, lalu menyebar ke kalangan industri. Bahwa Jaegon akan kembali. Bukan sebagai idol, tapi sebagai produser.
Bagi publik, Jaegon adalah mantan member yang keluar karena alasan pribadi. Tapi bagi NOVA, bagi Yoohyeon dan Woojin khususnya, namanya adalah luka lama yang belum benar-benar kering.
“Gue denger,” kata Yoohyeon akhirnya.
“Dan lo nggak khawatir?”
“Harusnya gue khawatir?”
Woojin menatap kopinya. “Lo tau apa yang terjadi dulu.”
Yoohyeon meletakkan gelasnya. “Itu sudah bertahun-tahun lalu. Dia keluar, kita lanjut. Selesai.”
“Tapi gue…” Woojin berhenti. Seperti ada kalimat yang ingin keluar tapi ia telan kembali. Ia menggeleng. “Nggak. Lupakan.”
Yoohyeon memperhatikan perubahan ekspresi itu. “Woojin, lo yakin nggak ada yang mau lo ceritain?”
“Aman, Hyung.” Woojin menyunggingkan senyum, kali ini lebih mantap. “Gue cuma lelah.”
Yoohyeon tidak percaya. Tapi ia memilih tidak mendesak.
***
Mobil van hitam melaju pelan meninggalkan stadion. Jalanan Seoul basah oleh gerimis akhir November. Di dalam van, Doha dan Rian sudah tertidur di baris tengah. Jiho terkulai di bahu Woojin, mulutnya sedikit terbuka. Manajer di depan sibuk mengetik di ponselnya.
Yoohyeon duduk di baris depan, masih setengah sadar. Dari kaca spion, ia bisa melihat pantulan wajah Woojin. Tidak tidur. Hanya menatap keluar jendela.
Mereka melewati Jembatan Hannam. Cahaya kota terpantul di permukaan sungai. Woojin menggumam sesuatu yang tidak bisa didengar siapapun.
“Lo ngomong apa?” tanya Yoohyeon tanpa menoleh.
“Besok kita latihan lagi?”
“Besok istirahat.”
“Terus gue ngapain?”
“Tidur. Makan. Main game. Apa aja.”
Woojin tidak menjawab. Hening beberapa detik.
“Lo mau gue anterin?” tawar Yoohyeon.
“Ke mana?”
“Ke kamar lo.”
“Hyung, kita tinggal di asrama yang sama.”
“Oh. Iya.”
Mereka berdua terkekeh pelan. Jiho bergerak dalam tidurnya, kepalanya melorot dari bahu Woojin. Woojin menahannya pelan, membiarkan maknae itu tetap nyaman.
***
Van tiba di gedung asrama sekitar pukul dua pagi.
Doha turun pertama, menguap lebar. Rian mengikutinya tanpa suara. Jiho diguncang pelan oleh Woojin sampai akhirnya terbangun dengan mata masih setengah tertutup.
“Bangun, Jiho. Udah nyampe.”
“Aku jalan sambil tidur aja.”
“Lo nanti nabrak tembok.”
“Temboknya yang salah.”
Woojin tertawa pelan. Ia menggandeng Jiho yang masih sempoyongan masuk ke lobi. Yoohyeon berjalan paling belakang.
Di depan lift, Woojin berhenti. Ia menoleh ke arah pintu lobi. Jalanan di luar kosong. Hanya satu mobil terparkir di kejauhan, lampunya mati.
“Woojin, lo nggak masuk?” Suara Yoohyeon dari dalam lift.
Woojin menatap mobil itu beberapa detik lagi. Lalu menggeleng.
“Masuk.”
Pintu lift tertutup. Angka lantai bergerak naik.
***
Di kejauhan, di balik kaca mobil yang gelap, seseorang menurunkan kameranya.
Layar ponsel di tangannya masih menyala, menampilkan pesan yang baru saja diketik.
Bagus banget perform lo. Sayang ini yang terakhir.
Pesan itu belum dikirim. Jempolnya menggantung di atas tombol kirim.
Ia tersenyum.
Lalu menekan tombol itu.
***
Di dalam asrama, ponsel Woojin bergetar di sakunya.
Ia baru akan memeriksanya saat pintu kamar sudah terbuka. Jiho sudah lebih dulu merebahkan diri ke ranjang tanpa mengganti baju.
“Jiho, lo belum mandi.”
“Besok aja…”
“Bau.”
“Aku wangi kok. Wangi perjuangan.”
Woojin menggeleng. Ia duduk di ranjangnya sendiri, mengeluarkan ponsel.
Satu notifikasi dari nomor tak dikenal.
Dibacanya.
Bagus banget perform lo. Sayang ini yang terakhir.
Senyawa di tangannya terasa dingin tiba-tiba. Ia membaca ulang. Lalu menatap pintu depan asrama lewat celah pintu kamarnya yang belum tertutup.
Terkunci.
Ia mendengar suara Doha mengunci pintu depan beberapa menit lalu. Suara langkah Yoohyeon yang masuk ke kamarnya sendiri. Suara Rian yang mengambil air minum di dapur.
Orang iseng, katanya dalam hati.
Ia meletakkan ponsel di meja samping ranjang. Tidak membalas.
Tapi malam itu, ia tidak bisa tidur.
Kreator : Sindy Novriana Pangesticha (Sinna Nathica)
Comment Closed: Bab 1 — Panggung Terakhir
Sorry, comment are closed for this post.