
Di perkampungan Teppo, sebuah sudut tenang di Kecamatan Patampanua,Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, senja selalu turun seperti selendang jingga yang disampirkan langit di bahu bumi. Sawah-sawah membentang laksana permadani hijau, sementara angin berlari kecil di sela batang padi seperti anak-anak yang bermain petak umpet. Di belakang persawahan berdirilah sebuah rumah yang cukup sederhana.
Di rumah itulah tinggal tiga bersaudara: Narti, kakak sulung yang tabah bagai batang kelapa diterjang badai, Mail yang perhatian dan sejuk seperti embun pagi, dan si bungsu Marda, bocah kecil bermata bening laksana telaga yang belum terusik batu. Sejak ayah dan ibu merantau ke negeri seberang untuk mencari nafkah, rumah itu terasa kosong seperti sarang burung yang ditinggal penghuninya terbang jauh.
Setiap sore, ketika matahari perlahan tenggelam bagai bara yang dicelupkan ke lautan, Marda selalu duduk di ujung jalan. Kakinya berayun-ayun di batu besar, matanya menatap jauh ke arah tikungan, seolah di sanalah seluruh harapannya disimpan. Ia menunggu ayah dan ibunya pulang, seperti bunga kering menunggu hujan pertama.
“Bang, kapan Ayah pulang?” tanya Marda suatu sore kepada kakaknya bernama Mail, suaranya lirih seperti seruling bambu ditiup angin.
Mail mengusap kepala adiknya. “Sebentar lagi, Da. Ayah dan Ibu pasti datang membawa kabar baik.”
Namun kata “sebentar lagi” telah berulang kali datang dan pergi, seperti ombak yang mencium pantai lalu kembali ke laut. Hari berganti minggu, minggu menjelma bulan, tetapi langkah yang dinanti belum juga terdengar.
Meski begitu, Marda tak pernah lelah menunggu. Setiap senja ia tetap duduk di sana, dengan wajah penuh harap yang menyala bagai lampu kecil di tengah gelap. Kampung Teppo menjadi saksi, bahwa di ujung jalan berdebu itu ada seorang anak kecil yang menyimpan rindu sebesar langit, menunggu ayah ibu di ujung senja.
Di ujung jalan itulah dulu Ayah dan Ibu mereka pergi ke Malaysia mencari nafkah.
“Da, jangan jauh-jauh. Nanti magrib!” teriak Narti dari rumah.
“Sebentar, Ka’! Kalau Ayah Ibu datang bagaimana?”
Narti hanya diam. Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar selama tiga tahun terakhir.
Mail datang membawa sandal jepit putus.
“Kau menunggu terus. Memangnya mereka tahu jadwal senja?”
Marda menoleh kesal.
“Kalau tidak hari ini, besok.”
Mail duduk di sampingnya.
“Kalau tidak besok?”
“Lusa.”
“Kalau tidak lusa?”
Marda menatap jalan jauh di depannya.
“Berarti aku akan terus menunggu .”
Mail tak sanggup lagi bercanda.
Sejak orang tua mereka merantau, rumah mereka itu berubah sunyi. Narti yang masih SMP menjadi ibu bagi dua adiknya. Ia bangun paling pagi, menanak nasi, mencuci pakaian, lalu berangkat sekolah.
Mail membantu mencari kayu bakar dan kadang ikut tetangga ke sawah.
Sedangkan Marda, yang masih kelas lima SD, punya satu pekerjaan penting menurut dirinya sendiri: menunggu.
Ia hafal suara setiap motor yang lewat, hafal bentuk mobil tetangga, hafal langkah kaki orang yang pulang dari sawah.
Setiap terdengar kendaraan, ia berlari.
Namun setiap kali juga, wajahnya kembali murung.
Suatu malam, hujan turun deras. Atap rumah bocor di sana-sini.
“Mail, pindahkan baskom!” teriak Narti.
“Iya!”
Marda duduk di sudut kamar sambil memeluk baju lama ibunya.
“Ka’…”
“Ada apa?”
“Kalau Ibu kehujanan di Malaysia?”
Narti menahan tangis.
“Pasti Ibu berteduh.”
“Kalau Ibu sakit?”
“Pasti Ayah akan menjaga.”
“Kalau Ibu rindu Marda?”
Narti menoleh cepat agar adiknya tak melihat matanya basah.
“Setiap hari.”
Marda tersenyum kecil.
“Kalau begitu besok Ibu pulang.”
—
Di sekolah, Bu Guru meminta murid menggambar keluarga.
Anak-anak menggambar rumah, ayah, ibu, dan adik.
Marda menatap kertas kosong lama sekali.
“Kenapa belum menggambar?” tanya Bu Guru.
“Saya lupa wajah Ibu, Bu…”
Bu Guru terdiam.
“Terakhir lihat Ibu waktu kapan?”
“Waktu saya masih kecil sekali.”
“Lalu mau gambar apa?”
Marda mulai menggambar seorang perempuan tanpa wajah, hanya memakai jilbab panjang.
“Kenapa tidak ada matanya?”
“Karena saya lupa… tapi saya tahu itu Ibu.”
Bu Guru terharu dan memeluk Marda saat itu juga.
Bu Guru tahu betapa berat hidup yang harus ditanggung seorang anak kecil seperti Marda yang merindukan kasih sayang orang tua.
Bu Guru paham betul bahwa Marda sangat membutuhkan dan merindukan perhatian belai kasih orang tuanya.
“Marda kamu harus rajin belajar ya nak supaya ketika ayah ibumu pulang nanti kamu bisa tunjukkan kalau kamu anak yang hebat dan pintar,” Kata ibu Guru.
“Iya ibu,” Sahut Marda dengan penuh kesedihan.
Hari demi hari berlalu.
Marda tetap setia di batu ujung jalan setiap senja. Kadang membawa rapor, kadang membawa bunga liar, kadang membawa cerita tentang sekolah.
“Ibu, tadi aku dapat 100 .”
“Ibu, tadi aku jatuh di lapangan.”
“Ibu tadi aku peringkat 1 di kelas.”
“Ibu, nanti kalau pulang jangan lama-lama lagi.”
Ia bicara pada jalan kosong seolah ibunya sedang mendengar dari kejauhan.
Suatu sore, langit sangat indah. Warna jingga bercampur ungu. Burung-burung terbang rendah menuju sarang.
Dari kejauhan terdengar suara mobil.
Marda berdiri seketika.
“Ka’ Narti! Mobil datang!”
“Itu pasti Ayah Ibu Pulang, “ teriak Marda penuh kegirangan.
Narti yang sedang menyapu berhenti. Mail berlari ke pagar.
Mobil putih masuk perlahan ke jalan kampung, diikuti beberapa warga.
Marda bertepuk tangan.
“Ibu pulang! Ibu pulang!”
Ia berlari sekencang-kencangnya tanpa alas kaki.
Mobil berhenti tepat di depan rumah.
Namun tak ada pintu terbuka dengan pelukan hangat.
Tak ada suara ibu memanggil namanya.
Yang turun justru beberapa lelaki berpakaian hitam dengan wajah muram.
Narti mendadak pucat.
Seorang lelaki tua mendekat.
“Ini rumah keluarga Bu Sari?”
“I… iya…” suara Narti bergetar.
Lelaki itu menunduk.
“Mohon tabah. Ibu kalian meninggal dunia di Malaysia karena sakit. Jenazah baru bisa dipulangkan hari ini.”
Tubuh Marda mendadak kaku saat kabar itu jatuh ke telinganya. Rasanya seperti petir membelah langit tepat di atas kepalanya. Dunia yang tadi masih berwarna, seketika pucat seperti daun kering diinjak musim. Bibir kecilnya bergetar, tetapi tak satu kata pun keluar. Ia hanya menatap kosong, seolah berharap semua itu hanyalah gurauan yang kejam.
“Ibumu… sudah tiada, Da…” suara tetangga itu lirih, namun terdengar lebih tajam daripada pisau yang mengiris dada.
Marda mundur selangkah. Lututnya lemas seperti batang padi diterpa badai. “Tidak… tidak mungkin…” bisiknya patah-patah. Dadanya sesak, seakan ada batu besar menindih napasnya. Ia berlari ke rumah, memeluk tiang kayu erat-erat, seperti takut seluruh dunia akan ikut runtuh.
“Ibu janji pulang…” tangisnya pecah. Suara itu mengoyak senja, memilukan seperti burung kehilangan sarang. “Ibu bilang mau bawakan baju baru… Ibu bilang mau peluk Marda…”
Air matanya jatuh deras, bagai hujan yang lama ditahan awan hitam. Ia memukul-mukul lantai papan dengan tangan kecilnya. Dalam kepalanya terbayang wajah ibu yang selalu tersenyum, tangan ibu yang hangat, suara ibu yang lembut seperti angin pagi. Kini semua terasa jauh, sejauh langit dari genggaman.
Mail dan Narti memeluk adiknya erat. Namun pelukan itu tak mampu menutup lubang luka yang menganga di hati Marda. Rumah sederhana itu dipenuhi isak tangis, seperti dinding-dindingnya ikut menangis bersama mereka.
Marda menengadah ke langit senja yang mulai gelap. “Ibu… kenapa pulangnya tidak bawa senyum lagi?” katanya lirih.
Dan senja di Kampung Teppo hari itu terasa lebih kelam dari biasanya, sebab seorang anak kecil baru saja kehilangan cahaya paling terang dalam hidupnya.
Pintu belakang mobil dibuka perlahan.
Sebuah peti putih diturunkan.
Marda menatap lama.
“Itu… bukan Ibu.”
Ia tertawa kecil, seperti menyangkal.
“Ibu ada di dalam mobil depan, kan?”
Tak ada yang menjawab.
Ia mendekat, mengetuk peti itu pelan.
“Ibu… Marda datang.”
Sunyi.
“Ibu… ayo keluar. Aku sudah besar.”
Sunyi.
Tangannya mulai gemetar.
Ia memukul peti itu semakin keras.
“IBUUUU!”
Tubuh kecil itu roboh memeluk peti sambil menangis pecah.
“Aku tunggu tiap sore… kenapa Ibu pulangnya begini…”
Mail menutup wajah dengan kedua tangan. Narti jatuh terduduk di tanah sambil menjerit.
Warga sekitar ikut menangis.
Malam itu rumah mereka penuh pelayat.
Marda duduk di samping jenazah ibunya tanpa mau bergerak.
“Ibu dingin sekali…” bisiknya sambil menyentuh ujung kain kafan.
Narti memeluk bahunya.
“Ayo tidur dulu, Da.”
“Kalau aku tidur, nanti Ibu pergi lagi.”
“Tidak…”
“Aku mau jaga Ibu malam ini.”
Ia meletakkan kepala di sisi peti dan tertidur sambil menangis.
Keesokan harinya pemakaman berlangsung di bukit kecil dekat sawah.
Saat tanah mulai ditimbun, Marda berlari.
“Jangan tutup Ibu! Ibu takut gelap!”
Orang-orang menahan tubuh kecil itu.
“Ibu…Ibu…Ibu,”Tangis Marda menjerit memanggil Ibunya.
“Aku belum cerita kalau aku juara membaca…”
“Aku belum bilang kalau aku rindu…”
“Aku belum peluk Ibu…”
Ayah belum sempat pulang. Ia hanya menangis lewat panggilan telepon yang diperdengarkan tetangga.
Suara Ayah pecah.
“Maafkan Ayah… maafkan semuanya…”
Marda hanya menjawab lirih,
“Ayah… kenapa kita miskin sampai Ibu harus pergi?”
Tak seorang pun sanggup menjawab.
Hari-hari setelah itu, Marda masih datang ke ujung jalan setiap senja.
Ia tetap duduk di batu besar.
Mail pernah bertanya, “Masih menunggu Ibu?”
Marda menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu menunggu apa?”
Marda menatap langit jingga.
“Menunggu senja selesai… supaya tidak terlalu ingat hari saat Ibu pulang.”
Narti menangis diam-diam mendengarnya.
Senja itu kembali datang, menggulung langit dengan warna jingga yang lembut, seolah Tuhan melukis rindu di ufuk barat. Marda berdiri di tempat yang sama di ujung jalan tanah yang berdebu, tempat harapan pernah tumbuh setinggi langit, namun kini gugur seperti daun kering yang tak sempat menyentuh musim bahagia.
Angin sore berbisik pelan, membawa kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Dalam diam, Marda menatap jauh, seakan bayangan ayah dan ibunya masih berjalan pulang, tersenyum, dan memanggil namanya dengan penuh cinta. Namun yang datang hanyalah sepi—sepi yang menjelma lautan, menenggelamkan hatinya perlahan.
Air matanya jatuh satu per satu, seperti hujan yang enggan reda di musim kemarau. Tetapi kali ini, ia tidak lagi berlari mengejar bayangan. Ia hanya menutup mata, menarik napas panjang, lalu berbisik lirih,
Aku akan tetap menunggu… bukan karena aku berharap kalian kembali, tetapi karena di setiap senja, aku merasa kalian masih ada di sini.”*
Senja pun menjadi saksi, bahwa kehilangan tidak pernah benar-benar menghapus cinta ia hanya mengubah bentuknya menjadi doa yang tak terucap, dan rindu yang tak bertepi.
Dan dari ujung senja itu, Marda belajar satu hal yang tak pernah diajarkan oleh waktu:
bahwa menunggu bukan tentang siapa yang akan datang, tetapi tentang bagaimana hati tetap kuat meski yang ditunggu tak pernah kembali.
Kadang angin sore meniup rambut Marda lembut. Ia selalu merasa itu tangan ibunya.
Dan sejak saat itu, di Kampung Teppo, setiap senja bukan lagi tanda pulang bagi Marda melainkan tanda rindu yang tak pernah selesai.
TAMAT
Kreator : Sumarni, S.Pd. (Sumarni Ummu Zaki)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 1. Menunggu Ayah Ibu Di Ujung Senja
Sorry, comment are closed for this post.